Fasilitas Transaksi Repo di Pasar Modal Indonesia

Fasilitas Transaksi Repo di Pasar Modal Indonesia

JakartaRepurchase Agreement (Repo) adalah satu produk investasi yang ditransaksikan di Pasar Modal Indonesia. Transaksi Repo adalah perjanjian antara dua belah pihak, dimana pihak pertama atau seller menjual efek kepada pihak kedua atau buyer dengan janji akan membeli kembali efek tersebut pada waktu yang telah disepakati. Dalam financial perspective, transaksi Repo merupakan pinjaman dana dengan menggunakan agunan sejumlah efek tertentu yang telah disepakati.

Efek di sini, dapat saham atau obligasi baik obligasi korporasi maupun surat utang negara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebelumnya, transaksi Repo di Pasar Modal Indonesia tidak terlalu diatur. Kontrak yang dibuat antara pembeli dan penjual yang umumnya difasilitasi perusahaan efek, tidak terstandardisasi. Akibatnya, sering terjadi wanprestasi atas kontrak.




Karena peluang terjadinya permasalahan pada transaksi Repo semakin besar seiring makin diminatinya transaksi ini di Pasar Modal Indonesia, maka sejak tahun 2015 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 09/POJK.04/2015 tentang Pedoman Transaksi Repurchase Agreement Bagi Lembaga Jasa Keuangan. Dalam POJK tersebut, disyaratkan penggunaan dokumen Global Master Repurchase Agreement (GMRA) Indonesia Annex dalam pelaksanaan transaksi Repo yang dilakukan oleh Lembaga Jasa Keuangan (LJK).

Sejak keluarnya aturan OJK tersebut, maka perjanjian kontrak Repo harus mengacu pada GMRA Indonesia, sehingga menurunkan peluang kerugian yang dialami pihak tertentu. Namun, para LJK yang bertransaksi Repo selama ini, banyak yang belum memiliki sistem operasional transaksi Repo dan kebanyakan transaksi masih dilakukan secara manual.




Untuk memudahkan para pelaku dalam bertransaksi Repo sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pada 28 Februari 2019, PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) meluncurkan layanan terbaru untuk memfasilitasi transaksi Repo bagi pelaku pasar modal di Indonesia, yakni, fasilitas layanan pihak ketiga atau dikenal sebagai Triparty Repo.

Melalui fasilitas Triparty Repo, KPEI bersama dengan KSEI menyediakan layanan antara lain pemeliharaan kontrak Repo, proses penyelesaian, proses mark to market, pengelolaan marjin, penagihan dan pembayaran repo rate serta income payment (dividen atau kupon). Proses mark to market yang dilakukan KPEI setiap harinya dapat membantu menghitung kecukupan marjin untuk setiap partisipan. Selisih marjin, baik oleh seller maupun buyer, akan memunculkan margin call. Pemenuhan marjin dilakukan dalam bentuk setoran dana, yang pembayarannya dilakukan melalui bank yang ditunjuk oleh KPEI.

KPEI melakukan fungsi administrasi atas seluruh proses transaksi yang dilakukan melalui fasilitas Triparty Repo, sehingga transaksi dapat dilakukan secara efisien dan termonitor dengan baik. Kewajiban seller maupun buyer yang muncul atas transaksi yang dilakukan akan diadministrasikan melalui fasilitas ini, antara lain melalui penagihan dana pinjaman dan repo rate kepada seller serta penagihan pengembalian Efek kepada buyer saat jatuh tempo.

Selain itu, hak atas Efek, seperti dividen, akan ditagihkan kepada buyer untuk dapat diterima oleh seller, meskipun Efek sedang dijaminkan kepada buyer. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan pasar repo di Indonesia dapat lebih menarik dengan regulasi dan mekanisme yang sudah mengikuti standar yang ada.

Untuk mendorong pemanfaatan fasilitas Triparty Repo secara luas, KPEI membebaskan biaya layanan atas fasilitas yang diberikan selama enam bulan pertama sejak fasilitas Triparty Repo diimplementasikan. Bagi investor yang ingin memanfaatkan layanan ini dapat menghubungi Anggota Kliring yang terkait. Sementara perusahaan efek anggota kliring yang ingin menggunakan layanan baru ini, harus segera mendaftarkan perusahaannya ke KPEI untuk menjadi Partisipan Triparty Repo. (TIM BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.