Cara Memilih Saham Untuk Investasi

Cara Memilih Saham Untuk Investasi

Jakarta – Investor yang telah membuka rekening efek di perusahaan sekuritas, memiliki kartu yang berisi nomor SID (Single Identification) dan telah memiliki Rekening Dana Investor (RDI), serta mendepositkan sejumlah dana di RDI sudah bisa mulai berinvestasi saham.

Ada pepatah investasi bijak yang mengatakan “don’t put your eggs in one basket” atau jangan simpan telur-telurmu di dalam satu keranjang. Artinya, investor disarankan tidak menyimpan seluruh dana investasinya pada satu jenis produk investasi.




Kalau seorang investor misalnya memiliki dana yang hendak dialokasikan untuk investasi sebesar Rp300 juta misalnya, maka bisa mengalokasikan Rp100 juta untuk berinvestasi saham, dan Rp200 juta selebihnya diinvestasikan pada produk lainnya yang memiliki profil risiko yang relatif lebih rendah. Misalnya disimpan dalam bentuk deposito bank atau dibelikan obligasi.

Tujuannya, ketika pasar saham tengah kurang baik kondisinya, tidak semua dana investasi tergerus nilainya karena penurunan harga saham. Begitupun dalam membeli saham, sebaiknya investor tidak membeli hanya satu jenis saham saja, tetapi beberapa jenis saham yang sektor usahanya berbeda. Semakin bervariasi jenis saham yang dimiliki, semakin mengurangi dampak risiko investasi akibat penurunan harga saham. Pengalokasian dana investasi ke berbagai jenis instrumen disebut diversifikasi risiko.




Lalu, saham-saham mana saja yang baik untuk dipilih? Investor yang memiliki dana besar, lebih leluasa untuk memilih saham, karena harga saham bervariasi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami saham dengan membaca pergerakan saham secara keseluruhan yang disebut dengan indeks. Ada banyak indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tetapi untuk memudahkan memahami indeks saham sebagai acuan, investor pemula bisa melihat pada Indeks LQ45. Indeks LQ45 adalah indeks saham yang menghitung pergerakan harga 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar di BEI.

Naik turunnya indeks saham, mencerminkan naik dan turunnya harga saham-saham yang masuk dalam penghitungan indeks tersebut. Jika investor membeli saham-saham yang ada dalam daftar 45 saham Indeks LQ45, paling tidak nilai portofolio yang dimiliki dicerminkan oleh naik dan turunnya Indeks LQ45. Dari 45 saham tersebut, ada yang memberikan kontribusi kenaikan harga saham yang lebih besar dan sebaliknya. Kontribusi tersebut berupa besarnya bobot saham dalam penghitungan indeks. Semakin besar bobot maka semakin besar pula pengaruh naik atau turun harga sahamnya terhadap pergerakan indeks.

Investor minimal bisa membeli satu lot saham, yang berisi 100 lembar saham. Begitupun dalam menjual saham, menggunakan hitungan lot. Saham-saham yang ada dalam daftar indeks LQ45, juga disebut saham-saham blue chip, atau saham-saham unggulan. Saham-saham blue chip dikenal sebagai saham yang mampu memberikan keuntungan yang baik dengan risiko yang relatif rendah.

Tetapi investor bisa juga memilih saham-saham second layer atau lapis dua yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar tak sebesar saham blue chip. Saham second layer memiliki risiko relatif lebih tinggi dibanding saham blue chip namun dapat memberikan hasil keuntungan (return) yang lebih tinggi dibanding saham blue chip.

Ada juga saham-saham third layer atau lapis tiga, atau saham-saham dengan kapitalisasi pasar kecil dan tercatat di papan pengembangan. Termasuk di dalamnya berisi saham Perusahaan Tercatat yang relatif baru mencatatkan sahamnya di BEI atau usia berdirinya relatif masih muda. Tetapi umumnya perusahaan-perusahaan ini memiliki potensi bertumbuh yang besar dan memiliki potensi membukukan pertumbuhan keuntungan yang tinggi, dengan harga saham yang relatif lebih murah pula. Namun dibandingkan dengan saham pada lapis sebelumnya, saham third layer memiliki risiko seperti volatilitas harga yang paling tinggi.

Investor dapat mulai dengan memilih saham yang ada di sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan yang baik, dengan merujuk pada hasil-hasil riset analis saham di perusahaan sekuritas. Bisa juga mencari informasi mengenai sektor usaha dan kinerja Perusahaan Tercatat di berbagai jurnal, media, maupun dengan membuat analisa sendiri dengan mencari informasi dari website atau annual report Perusahaan Tercatat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.