Optimisme Mewarnai Awal Perdadagangan 2019

Optimisme Mewarnai Awal Perdadagangan 2019

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan para direksi BEI serta SRO. Sebelumnya di penutupan tahun Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo menutup perdagangan saham tahun 2018.

Sentimen positif sepanjang 2018 tercermin pada hasil
kinerja BEI tahun 2018. Jumlah investor saham meningkat 35 persen menjadi
851.903 investor. Sepanjang tahun 2018 terdapat 57 Perusahaan Tercatat yang
melakukan pencatatan perdana saham di BEI yang merupakan jumlah pencatatan
perdana saham tertinggi selama kurun waktu 26 tahun terakhir sejak swastanisasi
Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta) pada tahun 1992. Jumlah
pencapaian ini juga merupakan yang terbanyak di antara negara-negara di kawasan
Asia Tenggara pada tahun 2018.




Aktivitas perdagangan di
BEI juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rata-rata frekuensi
perdagangan yang tumbuh 24 persen menjadi 387 ribu kali per hari dan menjadikan
likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi di antara bursa-bursa lainnya di
kawasan regional Asia.

Selain itu, BEI
mendapatkan penghargaan dari Global Islamic Finance Award sebagai The Best Emerging
Islamic Capital Market of the Year 2018 & The Best Supporting Institution
of the Year 2016, 2017, 2018 untuk tiga tahun berturut-turut.




Bertujuan untuk fokus
kepada inovasi produk digital/online, serta sebagai pusat referensi,
edukasi, dan sertifikasi pasar modal, The Indonesia Capital Market Institute
(TICMI) telah berhasil meluluskan 12.173 peserta (sampai dengan 30 November
2018). Tidak hanya itu, TICMI juga telah meluncurkan Sekolah Pasar Modal online
pada 21 Juni 2018 dengan total peserta sejumlah 2.818 peserta dalam waktu 5
bulan. Setelah meluncurkan program sertifikasi online pada 25 Juni 2018, TICMI
juga telah berhasil meluluskan sebanyak 190 peserta.

Salah satu terobosan
besar pengembangan bisnis yang dilakukan BEI adalah percepatan settlement
atau penyelesaian transaksi perdagangan bursa dari T+3 (penyelesaian transaksi
bursa selama 3 hari bursa) menjadi T+2 (penyelesaian transaksi bursa selama 2
hari bursa). Era baru penyelesaian transaksi T+2 ini berlaku mulai 26 November
2018 lalu.

Dalam rangka mempermudah
persyaratan, mempercepat proses perizinan, dan meningkatkan proteksi investor,
BEI menerbitkan perubahan Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek
Bersifat Ekuitas Selain Saham yang diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat
(Peraturan Nomor I-A), yang diberlakukan pada tanggal 27 Desember 2018.
Kemudahan persyaratan yang diberikan BEI antara lain mengakomodasi alternatif
persyaratan Aset Berwujud Bersih (Net Tangible Assets) di Papan
Pengembangan, berupa laba usaha dan kapitalisasi pasar, atau pendapatan usaha
dan kapitalisasi pasar.

Alternatif tersebut juga
mendukung Pencatatan saham perusahaan yang memiliki karakteristik tertentu
antara lain industri kreatif dan start-up. Melalui perubahan Peraturan
Nomor I-A, BEI tidak mengatur nilai nominal saham, namun mengatur harga saham
pada saat Pencatatan perdana minimal sebesar Rp100. Selain itu, BEI juga
meningkatkan kemudahan perizinan melalui penyederhanaan persyaratan dokumen
Pencatatan dan penyampaian dokumen softcopy secara terintegrasi antara
BEI dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

BEI juga berupaya untuk meningkatkan perlindungan investor melalui pemberian Notasi Khusus pada kode saham yang akan disebarkan melalui situs web BEI, data feed dan remote trading. Ragam Notasi Khusus mencerminkan status Perusahaan Tercatat bersangkutan, yang berhubungan dengan performa keuangan, informasi material dan status compliance Perusahaan Tercatat. Harapannya, Notasi Khusus dapat menjadi indikator awal bagi investor dalam mengambil keputusan investasi di Pasar Modal Indonesia. Untuk selengkapnya, perubahan tersebut dapat dilihat pada laman Peraturan Nomor I-A di situs web Bursa. Seluruh pencapaian tersebut tidak lepas dari kerja keras dan sinergi dari seluruh pelaku industri Pasar Modal Indonesia, serta dukungan dari berbagai kebijakan strategis yang telah diluncurkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pemerintah Republik Indonesia (RI). Terlepas dari maraknya sentimen pasar dalam menyambut tahun politik, kondisi perekonomian Indonesia yang stabil, serta optimisme pada iklim investasi tetap terwujud berkat kinerja baik Presiden RI dan Jajaran Menteri Kabinet Kerja selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.