Optimalisasi Teknologi Digital untuk Memperkuat Infrastruktur

Optimalisasi Teknologi Digital untuk Memperkuat Infrastruktur

Tahun 2018 hampir berakhir, menjadikan tahun ini tahun yang penuh tantangan, karena Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan arah pengembangan bursa dalam dua tahun ke depan. Di sisi lain, indikator perdagangan bursa mengalami pertumbuhan yang positif dari sisi peningkatan transaksi dan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini.

 




Arah pengembangan bursa dibuat untuk memperkuat infrastruktur kebursaan melalui optimalisasi teknologi digital untuk meningkatkan pendalaman pasar. Tujuannya untuk peningkatan partisipasi investor di pasar modal dan pada gilirannya akan membawa atmosfer positif bagi kalangan dunia usaha yang akan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.

 




Salah satu terobosan besar pengembangan bisnis yang dilakukan BEI adalah percepatan settlement atau penyelesaian transaksi perdagangan bursa dari T+3 (penyelesaian transaksi bursa selama 3 hari kerja) menjadi T+2 (penyelesaian transaksi bursa selama 2 hari kerja). Era baru penyelesaian transaksi T+2 ini berlaku mulai 26 November 2018 lalu.

 

Kedua, peningkatan perlindungan investor melalui pemberian notasi pada ticker code saham secara realtime pada saat perdagangan yang diberi nama I-Suite. Ragam notasi mencerminkan status saham bersangkutan, misalnya emiten belum menyampaikan laporan keuangan, memiliki ekuitas negatif, atau sedang menghadapi gugatan pengadilan. Harapannya ini dapat menjadi indikator awal bagi investor dalam melakukan keputusan investasi.

 

Ketiga, melakukan pengembangan produk-produk pasar modal, dimana saat ini BEI sedang fokus dalam menyediakan instrumen investasi baru terutama pada ETF dan derivatif. BEI bersama Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan khususnya DJPPR, sedang mengembangkan infrastruktur perdagangan surat utang melalui bursa guna meningkatkan transparansi dan proses pembentukan harga.

 

Keempat, meningkatkan layanan kepada investor dan Perusahaan Tercatat, yakni bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membangun electronic book building (EBB) dan electronic registration. Harapannya melalui kedua sistem ini, jumlah partisipasi investor ritel dalam IPO dapat meningkat yang turut diikuti efektivitas dan transparansi proses IPO perusahaan.

 

Kelima, memperluas basis calon Perusahaan Tercatat yakni melalui pengembangan infrastruktur yang dapat memfasilitasi perusahaan SME & startup. Dan terakhir, bursa akan berfokus dalam meningkatkan kualitas disclosure informasi kepada seluruh investor.** (TIM BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.