Ditunjang Perusahaan Logistik Tenun Batik Lokal Menjulang

Oleh: Dedy Hutajulu




DITUNJANG perusahaan logistik, sepasti jasa pengiriman, bisnis tenun batik dengan brand lokal bisa menjulang dan melahirkan sosok-sosok keberkatan (local hero).

Tin Raihani (44), satu sosok muda pekerja cerdas. Ia selalu bekerja mengejar mutu, menjaga orisinalitas karya dan rajin merawat koneksi. Tiga jurus jitu itulah yang digunakannya untuk membumikan tenun batik lokal dengan brand “Rehani Tenun Batik.”

Brand itu perpaduan namanya dengan produknya. Brand itu, menurut Titin, sederhana namun sarat makna. Ia juga meyakini, brand itu mudah diingat orang dan bakal bertahan lama asalkan orisinalitas dan kualitas produk terjaga.

Jurus Pamungkas
Di antara tiga jurus pamungkas itu, mempertahankan koneksi menjadi hal penting dalam mengembangkan bisnis. Titin selalu mengupayakan agar barang pesanan sampai di tangan pembeli secara utuh, sesuai harapan dan tepat waktu. Di situ, dukungan perusahaan logistik amat membantu.




“Saya pastikan produk kami dikirim dengan cepat. Kami gunakan jasa pengiriman kilat. Kalau barang sampai ke pelanggan tepat waktu, itu berpengaruh pada kepercayaan pembeli ke kami,” ungkap Titin sembari mengemas kain tenun batik di gerainya di Jalan Tuasan No 34 B, Medan Tembung, Sumut, Rabu (27/6).

Kain itu hendak dikirim ke Jakarta untuk langganannya. Perempuan berkerudung ini begitu bersemangat menjalankan bisnisnya. Ia menyadari betul hidupnya kini telah menjadi saluran berkat bagi sembilan orang karyawannya (termasuk enam orang penenunnya). “Saya dulu karyawan biasa. Sekarang mandiri dan atas restu Allah, saya bisa berbagi rezeki dengan orang lain,” imbuhnya.




Titik Balik
Dulu, Titin bekerja di sebuah perusahaan majalah di Jalan Surabaya, Medan. Sedekade lamanya ia bekerja di sana. Perusahaan itu mendadak bangkrut. Para karyawan dipecat, termasuk Titin. Akibat pemecatan itu, ia terpaksa menganggur untuk sekian lama. “Sejak itu, saya berjanji untuk mandiri,” tekadnya.

Pemecatan itu menjadi titik balik hidupnya. Titin bangkit dan menantang diri. Ia mencoba peruntungan dengan menjalankan bisnis yang diawali oleh kegemaran masa remajanya: fesyen. “Sedari dulu saya suka fesyen, ternyata kebiasaan itu bisa dikembangkan jadi usaha,” ungkapnya.

Titin menuturkan, ia telah banyak makan garam dalam bisnis produk fesyen. Pernah jatuh bangun di berbagi bisnis fesyen, hingga akhirnya ia memantapkan hati menjalankan bisnis dengan basis budaya lokal.

Titin memutuskan menjalankan bisnis usaha tenun batik. Menurutnya, ini kesempatan emas mendongkrak nilai jual produk lokal. Ia menyadari produk lokal layak sejajar dengan produk-produk lain dalam hal mutu, fungsi dan estetika. “Asalkan dibikin bagus. Tenun batik Batak dan Batik Melayu ini kan kekayaan budaya bangsa kita. Jadi senang dong bisa melestarikannya,” sebutnya.

Sejak bisnis tenun batiknya beroperasi, Titin mendulang omzet sedikitnya Rp 40 juta setiap bulan. Padahal tokonya masih lapak kecil-kecilan. Usaha yang diretas di 2014 itu mendapat dukungan bagus dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas.

Sekarang tantangannya, memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah besar. “Kami penenun ibu ini cuma enam orang. Padahal menenun makan waktu lama,” timpal Tina (40), seorang penenun yang sudah empat tahun bekerja untuk Titin.

Titin kini memiliki banyak langganan yang tersebar di dalam dan luar pulau Sumatera. Hampir setiap hari ia mengirim barang berupa produk tenun batik, pesanan pelanggan. “Biasanya saya kirim barang ke Jawa, Kalimantan, Papua, dan Batam dan Pekanbaru. Saya pakai jasa pengiriman JNE. Barangnya cepat sampai,” ujarnya.

Dua tahun terakhir ini, kata Titin, permintaan produk tenun batik di Nusantara melonjak. Dukungan sosial media begitu besar dalam mempromosikan produk-produknya. Titin harus memproduksi minimal 100 potong produknya per minggu. Ia juga kerap ‘kebanjiran’ pesanan asesoris pernikahan berupa tenun batik dan songket dalam partai besar. Menghadapi pesanan banyak, ia mengandalkan kekuatan kolaborasi antar sesama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Kemewahan era digital memberinya banyak manfaat. Dengan memberdayakan media sosial, tenun batik Titin bisa dikenal publik secara luas. Titin tidak bergerak sendiri. Ia mengandalkan enam orang reseller.

Reseller inilah yang bergerilya habis-habisan di media sosial. Mereka fokus mengelola dua jenis media sosial yakni facebook dan Instagram. “Mereka kreatif dan jorjoran promosi. Ke mereka, saya beri harga terjangkau supaya mereka banyak untung. Dan mereka senang,” kata Titin lagi.

Selain memanfaatkan media sosial, Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Medan Area ini, rajin mengikuti pameran UMKM. Ia juga memasok tenun batiknya ke Dekranas dan SEMESCO, semacam galeri terbesar tempat penampungan dan promosi produk produk usaha mikro di Jakarta.

“Saya beri kebebasan kepada para penenun untuk bekerja di rumah. Hasilnya, mereka lebih produktif. Berkantor di rumah ternyata lebih asyik,” sambungnya.

Titin serius menggeluti bisnis fesyen produk tenun Batik Batak dan Batik Melayu karena didorong dua hal. Pertama, kecintaannya pada batik lokal dan tenun. Kedua, peluang bisnisnya menjanjikan. Sebab, tenun batik lokal belum begitu populer. Kain tenun Batak maupun tenun Melayu cenderung hanya dipakai untuk hal-hal seremonial atau acara adat. “Saya pikir, fesyen cara tepat untuk mengangkat derajat batik dan tenun lokal,” katanya memprediksi.

Kemewahan Era Digital
Di era digital ini, berbagai kegiatan perekonomian dimudahkan oleh akses internet, baik dari perusahaan berskala besar hingga terkecil sekalipun. Riset Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia menyebut jumlah pengguna internet tahun 2017 telah mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 10,56 juta jiwa dari hasil survei pada 2016.

Bahkan pengguna teknologi digital diprediksi akan terus berkembang di masa mendatang. Bagi pebisnis, angka-angka dibaca sebagai peluang bisnis. Sehingga para pemilik brand lokal harus segera meliriknya dalam penerapan strategi pemasaran usahanya. Jika tidak, mereka bisa kehilangan pasar dan tergerus zaman.

Dengan meledaknya penetrasi pengguna internet, industri fesyen pun berkembang pesat. Industri ini menjadi penyumbang terbesar kedua Pendapatan Domestik Bruto sub sektor Ekonomi Kreatif di 2016, setelah kuliner. Itu tak bisa dilepas dari sumbangsih pemilik pebisnis lokal yang banyak didominasi generasi muda, sepasti Titin.

Di tengah kencangnya kompetisi inilah, para pengusaha/pebisnis lokal bisa tampil prima dengan memanfaatkan segala potensi. Mereka harus terampil menggunakan fasilitas digital untuk mengembangkan bisnisnya.

Peluang inilah yang ditangkap Titin. Ia mulai berfokus membina dan mengembangkan usahanya dengan merambah dunia digital melalui pemberdayaan media sosial. Sehingga para calon pembeli dapat mengakses informasi seputar produk usahanya lebih gampang. Dan Titin bisa menjual produknya secara online tanpa mengeluarkan biaya beriklan sepeserpun.

Untuk mendukung usaha para pebisnis muda sepasti Titin, perusahaan logisitik JNE menyediakan program berupa JLC (JNE Loyalty Card). JLC diberikan untuk para pelanggan setia, agar tiap pengiriman yang dilakukan mendapatkan benefit berupa poin yang dapat ditukar dengan hadiah atau pengalaman menarik. Sampai saat ini, jumlah anggota program JLC di Medan kurang lebih 3 ribu orang, termasuk para UMKM dan puluhan brand lokal,” terang Idham Azka, Mass Media Relations Section Head, Media Relations Department JNE Pusat.

Selain yang diprogramkan dari JNE pusat, sambung Azka, JNE Medan memiliki program dan layanan dalam rangka mendukung UMKM di seluruh Sumatera Utara dari 33 Kota Kabupaten, yakni: UMKM Gathering.

Selama 2018 telah dilakukan di 12 kabupaten kota dan akan terus diselenggarakan agar tahun ini dapat dijalankan di dua kabupaten kota per bulan. Kegiatan gathering dikerjakan berkat kerjasama dengan Pemda setempat. “Selain itu kami juga menyediakan konsultasi bisnis online dengan team konsultan dari JNE Medan,” timpal Azka.

Bahkan, JNE Medan memiliki ruang khusus pengembangan komunitas, termasuk untuk penyimpanan barang UMKM. Saat ini ruang khusus itu terdapat di JNE Medan, JNE binjai, JNE Langkat, JNE Pematang Siantar dan JNE Tapanuli Utara.

Selain terus membuka pendaftaran untuk para UMKM produsen makanan khas untuk bergabung dengan PESONA (Pesanan Oleh–Oleh Nusantara), JNE Medan juga mempersilakan UMKM yang belum memenuhi syarat untuk menjadi anggota PESONA untuk mengirimkan foto produknya agar dapat di-display di album produk Sumut dan dipasang di jaringan JNE di Sumut.

Kehadiran perusahaan logistik sepasti JNE dengan program-program bagusnya, sangat efektif menunjang tumbuh pesatnya bisnis dari para pengusaha atau pemilik brand lokal. Brand yang memiliki keunikan dan ketulenan gagasan akan melejit dan itu berpotensi mendongkrak perekonomian bangsa kita.

Di titik inilah, Titin mampu eksis dengan gagasan-gagasan tulennya. Titin-titin baru akan terus bermunculan merambah berbagai bidang garapan dan saling berkolaborasi. Sektor budaya, seni, kuliner, fesyen dan banyak lagi akan mengemuka. Orang-orang muda akan menjulang menjadi local hero. Dan perusahaan logistik sepasti JNE, diakui atau tidak, punya andil besar di dalamnya. (*)

Tin Raihani (44), duduk dengan latar kain ulos dan berbagai pakaian produknya di gerai miliknya di Jalan Tuasan Medan Tembung, Sumut. Perempuan ini merupakan salah satu pemilik brand lokal sekaligus pengusaha fesyen. Usahanya adalah tenun batik lokal, yanh dirintis sejak 2014 lalu.

 




Leave a Reply

Specify Facebook App ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Facebook Login to work

Your email address will not be published.