Reksa Dana Vs Unit Link

Jakarta – Masyarakat seringkali mempertanyakan apa perbedaan antara reksa dana dan unit link. Keduanya sama-sama produk keuangan yang berisi kumpulan portofolio instrumen pasar modal. Reksa dana dan unit link dikelola oleh manajer investasi. Keduanya merupakan kumpulan dana berupa unit penyertaan milik investor atau pemodal yang dikelola manajer investasi dan diinvestasikan di produk pasar modal.

Reksa Dana Vs Unit Link

Perbedaannya, investor yang membeli reksa dana seluruh dananya diinvestasikan ke dalam produk reksa dana tersebut sebagai investasi. Investor bisa membeli reksa dana melalui manajer investasi atau melalui bank yang menjadi agen penjual reksa dana.

Sementara unit link merupakan gabungan produk proteksi dan investasi yang dikelola perusahaan asuransi dan manajer investasi. Komposisi dana yang dibelikan produk unit link tidak seluruhnya dialokasikan untuk investasi, melainkan ada bagian yang dialokasikan untuk proteksi. Masyarakat bisa membeli unit link melalui agen asuransi atau bank yang melayani jasa bancassurance.




Kalau tujuan investor atau nasabah hanya untuk berinvestasi, maka dia bisa membeli reksa dana. Sementara kalau ingin memiliki proteksi (asuransi) yang ada investasinya bisa membeli unit link. Reksa dana dan unit link terbagi dalam empat jenis yaitu pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham.

Sesuai karakter produk investasi, semakin besar potensi keuntungan, semakin besar risiko, begitupun sebaliknya. “High risk, high return, low risk, low return”. Reksa dana dan unit link pasar uang memiliki risiko paling rendah dengan mengalokasikan dana investasi ke produk perbankan dan surat utang yang memiliki jatuh tempo kurang dari setahun. Berikutnya, produk pendapatan tetap memiliki risiko dan potensi keuntungan di atas pasar uang, dengan portofolio investasi pada produk surat utang baik surat utang negara (SUN) maupun obligasi korporasi yang diterbitkan perusahaan.




Produk campuran memiliki risiko dan potensi keuntugan di atas pendapatan tetap, yang mengalokasikan dana secara berimbang antara produk surat utang dan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara produk saham, mengalokasikan sebagian besar portofolionya pada saham-saham yang tercatat di BEI dan yang tercatat di bursa negara lain dengan alokasi maksimal 15% untuk saham di negara lain. Reksa dana saham dan unit link saham memiliki potensi keuntungan yang paling besar, tetapi risiko yang paling besar pula.

Agar investor reksa dana dan nasabah unit link bisa mengelola risiko, jangka waktu investasi dapat diperpanjang untuk produk yang memiliki risiko lebih besar. Semakin panjang waktu investasi maka semakin berpotensi untuk mendapatkan hasil investasi yang lebih optimal.

Reksa dana dan unit link memiliki kelebihan dibanding berinvestasi langsung ke produk pasar modal, terutama untuk investor atau masyarakat yang memiliki dana investasi yang terbatas dan keahlian yang terbatas serta waktu yang terbatas pula. Dengan membeli unit reksa dana atau unit link yang relatif murah, masyarakat banyak bisa ikut memiliki atau berinvestasi pada produk pasar modal yaitu saham, obligasi dan produk pasar uang.

Tidak dibutuhkan keahlian untuk berinvestasi karena dikelola oleh manajer investasi yang sudah ahli dalam berinvestasi. Reksa dana dan unit link sama-sama pengelolaannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Manajer investasi yang mengelola reksa dana dan unit link tercatat di OJK dan diawasi. Pergerakan harga unit reksa dana dan unit link dipublikasi di surat kabar nasional dan dilaporkan ke masing-masing pemegang unit secara berkala oleh manajer investasi dan perusahaan asuransi masing-masing. (TIM BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.