Prospek Pasar Surat Utang Tahun 2018

Tingkat suku bunga global memang sedang dalam trend kenaikan. Meski demikian, hal itu diprediksi tidak banyak berpengaruh pada pasar obligasi dalam negeri karena sejak tahun 2017, pasar obligasi Indonesia berada dalam kondisi sangat stabil. Tren positif pasar obligasi Indonesia diprediksi akan terus berlanjut pada tahun 2018 ini.

Ada sejumlah indikator positif, baik domestik maupun global, akan menopang stabilitas pasar obligasi Indonesia. Beberapa indikator penting seperti pertumbuhan ekonomi yang diprediksi tumbuh 5,4%, inflasi pada kisaran 3,61%, serta surplus current account yang berkelanjutan.




 

Ada sejumlah indikasi bahwa pasar obligasi Indonesia tidak terlampau terimbas kenaikan suku bunga global. Lelang SBN & SBSN terus mengalami oversubscribe, rata-rata 4,22 kali dengan tingkat yield tertimbang cukup rendah dalam empat tahun terakhir yakni 6,14% untuk tenor 10 tahun. Penerbitan Komodo Bond oleh PT Jasa Marga Tbk dan PT Wijaya Karya Tbk  juga oversubscribe masing-masing  4 kali dan 2,5 kali.

 

Tingginya minat beli tersebut menunjukan bahwa investor asing masih percaya tingkat Yield Obligasi di Indonesia masih akan bertahan cukup lama pada level saat ini. Andaikata para investor asing melihat ada kemungkinan kenaikan suku bunga, bisa saja mereka menunda penawaran beli hingga ada peluang kenaikan yield.




 

Tahun 2018 juga disebut juga tahun politik karena momen Pilkada yang akan digelar di 171 daerah di Indonesia pada bulan Juni. Meski tensi politik akan meningkat, namun Pilkada serentak diprediksi  akan berjalan aman dan terkendali. Dengan demikian pasar obligasi maupun  pasar saham diprediksi tetap tumbuh positif. Sebab, ada asumsi, belanja politik selama periode pesta demokrasi ini berpotensi menggerakkan perekonomian Indonesia di sejumlah sektor. Hal ini justru menjadi stimulus positif bagi pasar obligasi Indonesia.




 

Tren positif ekonomi makro tersebut bisa menjadi momentum yang baik untuk penerbitan surat utang, baik korporasi maupun Surat Berharga Negara. Saat ini, nilai emisi SBN dan SBSN telah mencapai Rp73,63 triliun atau 8,58% dari total rencana penerbitan (gross) sesuai APBN 2018. Dibandingkan kondisi yang sama tahun 2018, pencapaian saat ini lebih tinggi dari bulan Januari 2017 sebesar Rp48,23 triliun. Penerbitan SBN dan SBSN sampai tahun 2018 akan ikut dipengaruhi dari pencapaian target pajak tahun ini yang sebesar Rp1.284,90 triliun atau meningkat 9,9% dibanding tahun lalu.

 

Sementara outstanding Obligasi Korporasi sampai Januari 2018 sebesar Rp5,4 triliun dari Komodo Bond Wijaya Karya. Sebalikya pada Januari tahun lalu tidak ada penerbitan obligasi korporasi. Meski baru satu seri obligasi korporasi diterbitkan pada Januari ini, peluang emisi baru akan tetap marak, terutama untuk kepentingan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur maupun noninfrastruktur. Skema Komodo Bond memberikan peluang kemudahan bagi kalangan BUMN maupun korporasi swasta untuk dapat mengakses dana investor asing untuk kepentingan pembiayaan proyek infrastruktur dengan skema Public Private Participation (PPP).

 

Selain di bidang infrastruktur, sektor perkebunan dan pertambangan  juga mencatat pertumbuhan menggembirakan sejak tahun lalu sejalan dengan kenaikan harga komoditas. Kondisi ini membuka peluang penerbitan obligasi korporasi dari kedua sektor ini untuk kepentingan ekspansi usaha. Sampai dengan akhir semester pertama 2018, nilai obligasi korporasi  diperkirakan sebanyak 1,5 kali hingga 2 kali dibandingkan dengan nilai emisi pada paruh pertama 2017.

 

Selain untuk mendukung ekspansi pada sektor infrastruktur, pertambangan dan perkebunan, emisi obligasi pada 2018 juga akan marak untuk kepentingan refinancing. Seperti diketahui, nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo tahun 2018 sebesar Rp78 triliun yang diterbitkan 63 perusahaan. Pembayaran atas jatuh tempo surat utang ini mayoritas diperkirakan dengan menerbitkan surat utang baru. Asumsi ini didasari alasan logis seperti kondisi ekonomi yang sedang kondusif serta kecenderungan suku bunga rendah karena inflasi yang terkendali. Pilihan rasional  adalah membayar obligasi jatuh tempo dengan menerbitkan obligasi baru dengan suku bunga lebih rendah. Saat ini, yield obligasi rating AA tenor pendek pada kisaran 7,5%, lebih rendah dibandingkan tahun 2017 sekitar 8,5% atau yield tahun 2016 sekitar 9,2%.

 

Selain obligasi bertenor panjang, penerbitan obligasi jangka menengah juga diprediksi tetap marak tahun ini. Selama 2018, nilai emisi medium term notes (MTN) mencapai Rp27 triliun. Selama Januari 2018, nilai emisi obligasi jangka menengah sebesar Rp1,28 triliun, meningkat dibanding Januari 2017 yang sebesar Rp1,14 triliun. MTN bisa menjadi alternatif bagi perusahaan yang merasa terbebani oleh jangka waktu penerbitan sekaligus karena alasan kepraktisan dari sisi regulasi. (TIM BEI)

 




Leave a Reply

Your email address will not be published.