Setelah Anaknya Nikah, Ibu Ini Langsung Minta Cerai Ke Suaminya. Alasannya Mengejutkan.

Setelah Anaknya Nikah, Ibu Ini Langsung Minta Cerai Ke Suaminya. Alasannya Mengejutkan.

Bu Tina sudah berumur 50 tahun. 2018 Januari awal, putranya baru saja menikah. Belum seminggu putranya menikah, Bu Tina tiba-tiba mengurus perceraian dengan suaminya.

Keputusan Bu Tina yang sudah berumur setengah abad ini membuat banyak orang tidak mengerti, kok tiba-tiba cerai? Bukannya sudah menikah lama? Bahkan putranya baru saja menikah!




Saat ditanya, Bu Tina sambil terisak bercerita akan kisahnya, “Kalau bukan karena anak, aku tidak mungkin bisa bertahan dalam pernikahan selama ini. Karena anakku sudah menikah, aku tidak ada beban lagi dalam pernikahan ini. Sudah bertahun-tahun aku menderita di pernikahan ini!”




“Suamiku dari menikah sampai sekarang suka mabuk-mabukan dan malas bekerja. Aku sering dipukuli sampai memar dimana-mana. 

Akulah yang berjuang untuk keluarga ini. Aku berhemat, mati-matian menyekolahkan anak dan menyediakan keperluan anak. Suamiku kerjanya hanya main pukul dan tendang. 

Dari dulu sudah terpikir untuk cerai, tapi yah.. Karena kita tinggal di desa, pemikiran masih zaman dulu, jarang sekali orang bercerai. 

Ayah Ibuku berkali-kali mencegah aku bercerai. Akhirnya aku bertahan sampai saat ini. Satu-satunya hal yang membuatku bertahan adalah anakku.”

Dari pengalaman Bu Tina, beliau mendapat pelajaran dan menasihati para perempuan agar pintar dalam memilih pasangan. Ada beberapa tipe laki-laki yang tidak boleh dinikahi:

1.Lelaki yang terlalu berbakti pada orang tuanya,

2.Lelaki yang tidak berbakti pada orang tuanya,

3.Lelaki yang terlalu emosian,

4.Lelaki yang pengecut/penakut.

Lelaki yang terlalu berbakti pada orang tuanya akan selalu menuruti perintah mamanya. 

Kebanyakan bila menikah, perempuan harus tinggal dengan suami beserta mertuanya. Dan sering terjadi masalah-masalah kecil antar mertua dan menantu perempuan. 

Lelaki yang terlalu berbakti pasti akan selalu memihak orang tuanya tanpa mencari kejelasan masalah. Sang istri hanya akan disalahkan dan pernikahan itu tidak akan harmonis.

Lelaki yang tidak berbakti pada orang tuanya, berarti orang yang tidak tahu berterima kasih. 

Bila menikah dengan lelaki seperti itu, tak peduli seberapa besar kamu berkorban dalam pernikahan itu, mempertahankan rumah tangga itu, dia tidak akan berterima kasih dan sama sekali tidak akan menghargai kamu. Mungkin awal-awal pernikahan masih ada bujuk rayu, kata-kata manis darinya, tapi seiring waktu berjalan, sifat aslinya akan keluar.

Lelaki yang terlalu emosian adalah lelaki tak berguna dan benar-benar tidak layak kamu cintai. 

Dikit-dikit pukul, dikit-dikit tendang, sang istri hanya akan hidup dalam KDRT, penuh penganiayaan. 

Lelaki seperti itu tidak bisa bekerja demi keluarga, ia hanya akan menjulurkan tangan meminta uang pada istri. 

Tak peduli seberapa sabar dan seberapa tahannya kamu akan tingkahnya, perlakuan lelaki itu hanya akan semakin parah.

Lelaki yang pengecut akan melelahkan hati, karena tidak bisa memutuskan keputusan sendiri. Sebagai suami, lelaki tidak boleh pengecut karena suami adalah pemimpin/kepala dalam keluarga. Suami harus bisa menghidupi keluarga dan menjadi tulang punggung bagi istri dan anak-anak.

“Suamiku adalah lelaki yang bersifat seperti itu. Ia tidak berbakti pada orang tua dan emosian. Tapi tidak bisa bekerja, ia bisanya main dan minum-minum. Kali ini cukup sudah hidup penuh derita dengannya. Akhirnya sekarang aku bisa hidup tenang.” Ujar Bu Tina sambil menghela napas.

Banyak netizen yang salut akan keputusan dan keberanian Bu Tina. Hidup menderita dalam KDRT itu tidaklah mudah. Betapa besar kasih beliau terhadap anaknya, kalau bukan karena anak tidak mungkin beliau bisa bertahan!

Dalam lingkungan kita, sering terjadi kisah-kisah nyata tentang perempuan malang yang hidup dalam KDRT. Mereka tetap tegar dan bertahan demi anak dan orang tua mereka.
Dari kisah ini, diharapkan agar para perempuan dapat lebih mencintai diri sendiri. Jangan hanya hidup demi orang lain, tapi hiduplah demi diri sendiri. Hiduplah dengan lebih berwarna dan bermakna.

Sumber: fafa

Leave a Reply

Your email address will not be published.