IDX INCUBATOR Menuju ‘Startup’ Masuk Bursa

Jakarta – Sejak April 2017, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki IDX INCUBATOR untuk mendukung perusahaan startup berbasis teknologi untuk membangun bisnis melalui program mentoring, pelatihan, dan akses kepada investor dan Perusahaan Tercatat. Beberapa fasilitas yang disediakan di Inkubator BEI meliputi ruang kerja, ruang pertemuan, ruang pelatihan, dan internet berkecepatan tinggi.

Dimulai pada Mei 2017 terdapat 24 startup yang mengikuti program Inkubator BEI, sebanyak 7 perusahaan bergerak di bidang fintech, 5 perusahaan e-commerce, 2 di bidang pendidikan dan news media, 3 perusahaan masing-masing di bidang LoT dan Lifestyle dan 1 perusahaan Saas. Di tahun 2018, bertambah 20 startup lagi yang menjadi binaan IDX Incubator.




Ada lima modul program di IDX Incubator. Pertama, from idea to startup. Peserta menerima pelatihan tentang tata cara memvalidasi ide bisnis untuk menjadi startup, dan mengembangkan model bisnis yang tepat. Kedua, idea factory. Peserta belajar tentang tata cara membangun ide menjadi sebuah produk yang valid dan menarik bagi pengguna.

Ketiga, traction. Peserta belajar mengenai tata cara membuat market-research, monetizing business, dan gain traction (potensi pemanfaatan pendapatan). Keempat, paperwork. Melanjutkan di poin ketiga, peserta praktik membuat market-research, monetizing business, dan gain traction. Kelima, Go Big. DI sini peserta belajar mengenai tata cara mengakselerasi bisnis, pitching strategy, dan presentasi pitch deck. Kelima tahapan ini menghabiskan waktu selama 6 bulan. Setelah mengikuti lima modul pelatihan, para startup binaan diharapkan dapat mengembangkan bisnisnya baik dengan pendanaan dari Angle Investor atau Venture Capital maupun dengan menjalin kerjasama strategis dengan Perusahaan Tercatat. Setelah startup memiliki kecukupan nilai aset dan modal disetor, perusahaan dapat lebih melebarkan sayapnya dengan mendapat pendanaan publik melalui IPO. Untuk persiapan startup IPO, IDX Incubator memiliki satu modul khusus yang mempersiapkan startup untuk IPO.

Hingga akhir 2017, ada 3 perusahaan publik (emiten) skala kecil yang tercatat di Papan Pengembangan BEI. Definisi Emiten Skala Kecil berdasarkan POJK No. 53/POJK.04/2017 adalah Perusahaan yang memiliki total aset dan fund raised ≤ Rp50 miliar. Sementara emiten Skala Menengah berdasarkan POJK No. 53/POJK.04/2017 Perusahaan yang memiliki total aset Rp50 Miliar < Aset ≤ Rp250 miliar dan fund raised ≤ Rp250 miliar. Total emiten skala menengah hingga akhir 2017 yang tercatat di papan Pengembangan BEI sebanyak 34 perusahaan.

PT Kioson Komersial Indonesia Tbk menjadi perusahaan startup pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada masa penawaran awal yang berlangsung pada 26-28 September 2017, saham Kioson ditetapkan di harga Rp300 per lembar saham. Jumlah saham yang dilepas sebesar 150 juta lembar saham atau setara 23,07% dari total saham perusahaan.




Melalui Initial Public Offering (IPO), Kioson berhasil memperoleh dana sebesar Rp45 Miliar. Selama proses penawaran saham, pemesanan atas saham Perseroan mengalami oversubscribed lebih dari 10 kali dari jumlah saham yang ditawarkan. Pihak penjamin emisi efek (underwriter) yang menangani IPO emiten berkode perdagangan KIOS ini adalah PT Sinarmas Sekuritas. Per 30 April 2017, Perseroan mencatat kenaikan omset menjadi Rp25,9 miliar, meningkat sebanyak 445% dari Rp4,7 miliar (YoY).

PT M Cash Integrasi Tbk. menjadi perusahaan startup kedua yang melantai di BEI. Pada masa penawaran awal yang berlangsung pada 26-27 Oktober 2017, saham M Cash ditetapkan di harga Rp1.385 per lembar saham. Jumlah saham yang dilepas sebesar 216,983 juta lembar saham atau setara 25% dari total saham perusahaan.




Melalui Initial Public Offering (IPO), M Cash berhasil memperoleh dana sebesar Rp300,52 Miliar. Selama proses penawaran saham, pemesanan atas saham Perseroan mengalami oversubscribed lebih dari 11 kali dari jumlah saham yang ditawarkan. PT Kresna Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk menjadi penjamin emisi efek (underwriter) emiten yang diberi kode perdagangan MCAS ini. Per 30 April 2017, Perseroan mencatat kenaikan omset menjadi Rp269,25 miliar, meningkat sebanyak 152% dari Rp106,59 miliar (YoY). (TIM BEI)

 




Leave a Reply

Your email address will not be published.