Tua Renta! Seorang Nenek Dan Dua Kakek Ini Tinggal Satu Atap

Menjadi tua renta bukanlah pilihan. Hal tersebut merupakan sebuah anugrah dari Tuhan lantaran telah diberi kehidupan yang panjang.

Menjadi tua renta akan menjadi sangat indah jika ada anak atau orang-orang terdekat yang setia merawat. Namun sebaliknya, menjadi tua renta tidak akan diinginkan jika tak ada yang bersedia merawat, bersedia menemani bahkan jika hidup sebatang kara.




Kehidupan yang begitu tua akan menjadi sangat menyedihkan jika kehidupan harus dilalui dengan sendiri. Tapi, kehidupan itu mungkin akan menjadi kuat jika dijalani bersama.

Seperti kehidupan tiga mbah-mbah di Ponorogo ini. Kehidupan tiga mbah-mbah ini sontak menjadi viral di medsos. Lantaran kondisi mereka yang sudah renta, pikun dan tidak mampu melakukan aktivitas, membuat warga Dusun Ngadirogo Wetan, Desa Blembem, Kecamatan Jambon, Ponorogo, ini hanya mengandalkan pemberian tetangga.

Ketiga mbah tersebut adalah Mbah Sukir (100), Mbah Brontok (110) dan Mbah Sarno (95) adik dari Mbah Brontok.

Beberapa warga yang simpatik dengan kehidupan tiga mbah tersebut memberikan bantuan bahan mentah seperti beras, mie instan dan telur. Namun, ketiganya juga tak mampu mengolah bahan bantuan tersebut.




Karena tak mampu mengolah bahan bantuan yang diberikan warga dalam bentuk mentah seperti beras dan mie, langsung disalurkan ke tetangganya untuk dimasak dan memberikan ke tiga mbah-mbah tersebut. “Biasanya siang dan sore dikasih jatah makan,”kata salah seorang perangkat desa.

Hanya bantuan roti dan air mineral yang langsung bisa dimakan. Karena tidak bisa mengolah bahan makanan dari bantuan warga, bahan-bahan mentah tersebut menumpuk di sudut gubuk yang berukuran 8×6 meter.




Tak jarang ketiga mbah tersebut kedinginan ketika hujan datang, lantaran rumah yang mereka tinggali terbuat dari anyaman bambu dan banyak sekali celah.

“Karena Mbah Sukir dan Brontok tidak punya keturunan dan Mbah Sarno tidak menikah, akhirnya ketiganya hidup seperti ini tidak ada yang merawat,” tutur Sugeng  salah satu perangkat desa, yang dikutip dari detikcom, Kamis (18/1/2018).

Sugeng menjelaskan ketiga mbah tersebut hidup dengan belas kasihan warga. Bahkan warga turut berpartisipasi membantu dengan cara menjaga ketiga mbah tersebut secara bergantian.

Berdasarkan dari cerita Sugeng, ketiga mbah ini semula hidup layaknya masyarakat biasa. Mbah Sukir bertugas memelihara kambing, Mbah Brontok berjualan di pasar sekaligus memasak. Sedangkan Mbah Sarno bekerja sebagai petani bayam atau jagung. 

Namun seiring bertambahnya waktu, ketiganya kini sudah tak mampu lagi bekerja. Bahkan untuk sekadar ke kamar mandi yang berada di luar rumah pun, mereka lebih memilih buang air kecil di dalam rumah.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published.