Inilah Produk-Produk Pasar Modal

Jakarta – Berinvestasi di pasar modal adalah satu pilihan bagi masyarakat untuk menempatkan dana dan mendapatkan hasil investasi untuk kebutuhan jangka menengah-panjang. Mengapa jangka waktu menjadi penting? Investasi di pasar modal mengandung risiko. Semakin panjang jangka waktu investasi maka akan semakin meminimalkan risiko.

Untuk kebutuhan jangka pendek, masyarakat dapat menempatkan dana di instrumen perbankan seperti tabungan dan deposito. Lalu, apa perbedaan antara instrumen perbankan dengan instrumen pasar modal? Instrumen bank memberikan hasil yang pasti berupa bunga. Tetapi bunga bank seringkali tidak bisa melawan inflasi. Inflasi atau kenaikan harga barang, jasa setiap tahun umumnya melebihi suku bunga perbankan.                      




Sehingga jika masyarakat menempatkan dana untuk kebutuhan jangka panjang di bank, daya belinya justru akan menurun. Contoh, seorang Ibu ingin membeli mobil seharga 200 juta 10 tahun lagi. Kalau dia menyimpan uang di bank, saat uangnya terkumpul 200 juta dalam 10 tahun, harga mobil yang dia inginkan sudah naik 1,5 kalinya. Begitupun jika menabung untuk kebutuhan sekolah anak, misalnya untuk kuliah 10-15 tahun ke depan. Nilai yang dikumpulkan pasti sudah tidak sama dengan biaya ketika pertama menyimpan uang.

Suku bunga tidak akan cukup mengejar inflasi. Karena rata-rata suku bunga bank antara 4-6%. Sementara inflasi biaya pendidikan sekitar 15% per tahun, dan kendaraan sekitar 10% per tahun.

Instrumen pasar modal ada banyak ragamnya yang memberikan hasil investasi (return) dan risiko (risk) yang berbeda sesuai profil risiko investor dan jangka waktu investasi. Dalam dunia investasi di pasar modal, ada istilah “high risk, high return”, “low risk, low return”. Artinya, semakin tinggi risiko semakin tinggi pula potensi return, dan sebaliknya. Cara menyiasati agar potensi risiko seminimal mungkin adalah dengan memperpanjang waktu investasi. Jadi untuk investasi yang risikonya lebih tinggi, lebih panjang juga waktu investasi.

Produk-produk atau instrumen pasar modal diantaranya, saham, right, waran, obligasi dan reksa dana. Saham memiliki risiko yang paling tinggi, dan potensi keuntungan yang terbesar. Produk derivatif dari saham, yaitu right dan waran juga diperjualbelikan di pasar modal melalui mekanisme transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keuntungan berinvestasi saham diperoleh dari dividen yang dibayarkan perusahaan setiap tahun, dan capital gain (kenaikan harga saham).




Obligasi memiliki risiko yang lebih rendah dari saham. Keuntungan berinvestasi obligasi dari kupon bunga yang dibayarkan penerbit obligasi tiap kuartal, semester atau tiap tahun. Selain itu obligasi yang diperdagangkan di BEI juga naik turun mengikuti perkembangan pasar. Investor bisa memperoleh capital gain dari obligasi.                                                                                    

Instrumen lain yang cocok bagi investor pemula adalah reksa dana. Reksa dana memiliki risiko yang rendah, karena dikelola oleh manajer investasi yang ahli berinvestasi di pasar modal.   Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana masyarakat pemodal. Modal tersebut diinvestasikan dalam instrumen-instrumen pasar modal saham dan obligasi menjadi kumpulan portofolio efek.                                                                                                       




Investor tinggal membeli unit reksa dana yang harganya jauh lebih murah ketimbang membeli saham atau obligasi langsung di bursa. Karena diinvestasikan pada produk investasi pasar modal, reksa dana ada beberapa jenis, reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang.                          

Reksa dana saham mengalokasikan mayoritas dana ke saham, sehingga tingkat risiko dan return paling tinggi. Reksa dana campuran mengalokasikan dana investasi separuh pada saham, dan separuhnya obligasi, berada di urutan kedua risiko dan return setelah reksa dana saham. Reksa dana pendapatan tetap mengalokasikan dana sebagian besar ke obligasi dan memiliki tingkat risiko dan return lebih rendah dibanding reksa dana campuran.                                                

Reksa dana yang memiliki risiko terendah adalah reksa dana pasar uang, yang memiliki portofolio berupa deposito dan obligasi yang jatuh temponya kurang dari setahun. Salah satu cara lain untuk meminimalkan risiko selain memperpanjang waktu investasi adalah melakukan diversifikasi risiko dengan cara memiliki beragam jenis instrumen investasi. (TIM BEI)




 




Leave a Reply

Your email address will not be published.