Langkah BEI Wujudkan Kapitalisasi Pasar Rp 7.000 Triliun

Peran investor asing di pasar saham sempat sangat dominan, bahkan pernah mencapai lebih dari 70% dari nilai transaksi. Kondisi ini membuat investor asing sangat memengaruhi pergerakan pasar. Arah naik atau turun harga saham sangat tergantung aksi investor asing.

Sementara pemodal lokal lebih banyak bertindak sebagai follower, ikut arus atas transaksi asing. Kondisi ini membuat pemodal lokal seringkali ketinggalan momentum, baru mulai melakukan akumulasi saat harga saham sudah mahal (overbought). Begitu sebaliknya, sering ketinggalan ketika hendak melakukan aksi ambil untung (profit taking), artinya harga saham keburu turun sebelum di jual.

Tapi itu cerita masa lalu. Saat ini kondisinya mulai berbalik, di mana investor lokal tampaknya telah menjadi raja di negerinya sendiri. Sepanjang tahun ini, investor lokal telah menguasai sekitar 64% nilai transaksi di BEI, sedangkan investor asing hanya 36%.

Fakta tadi membuat tingkat ketergantungan pasar saham terhadap aktivitas investor asing tampaknya makin menurun. Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan tatkala asing melakukan aksi jual bersih, investor domestik justru mengimbanginya dengan akumulasi beli. Mereka tidak ikut-ikutan keluar pasar yang membuat pasar makin menurun. “Sehingga komposisi kepemilikan investor domestik atas saham-saham Perusahaan Tercatat di Pasar Modal Indonesia terus meningkat,” ujarnya.




Karena itu, tidak heran bila ketika investor asing melakukan aksi jual yang nilainya mencapai Rp25 triliun sejak awal tahun, pasar saham justru rebound. Hingga kini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di atas level 6.000, sejak pertama kali menggapai level psikologis tersebut pada tanggal 25 Oktober 2017. “Kuatnya investor domestik telah membuat IHSG menembus level 6.000 poin,” kata Tito.

Dalam dua tahun terakhir, jumlah investor ritel lokal di BEI memang tercatat meningkat pesat. Sepanjang tahun 2016 lalu terdapat penambahan single investor identity (SID) baru sebanyak 136 ribu, kemudian sejak awal 2017 hingga akhir September investor ritel baru yang masuk sebanyak 84 ribu SID. Masuknya investor ritel baru tersebut kata Tito berkontribusi lebih dari 30% terhadap kenaikan harga saham tersebut. “Itulah engine penggerakan dari pasar saham 2017 yakni investor domestik. Itu yang membuat asing jual pasar tetap naik,” ujarnya.

Terus menebalnya minat investor domestik untuk berinvestasi di pasar saham kata Tito terutama disebabkan oleh kepercayaan investor terhadap kinerja perekonomian nasional dan pasar modal di dalam negeri. Stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta terjaganya laju inflasi domestik di bawah 4% per September 2017 berkontribusi terhadap meningkatnya kepercayaan investor domestik terhadap perekonomian, khususnya Pasar Modal Indonesia.

Tidak kalah penting dominasi pemodal domestik di pasar saat ini merupakan buah dari keberhasilan program sosialisasi dan edukasi pasar modal yang gencar dilakukan Self Regulatory Organization (SRO), serta penambahan Kantor Perwakilan dan Galeri Investasi BEI di setiap daerah.

Seiring dengan peningkatan investor, BEI terus berupaya memasok produk dengan meningkatkan jumlah perusahaan tercatat (emiten) baru. Penambahan produk dan meningkatnya animo beli investor akan memacu tingkat kapitalisasi pasar di BEI hingga Rp7.000 triliun dalam tempo 3-4 bulan mendatang, ini berarti pasar saham siap melampaui kapitalisasi perbankan. Saat ini kata Tito kapitalisasi pasar saham BEI tercatat sekitar Rp6.700 triliun. Bila digabung dengan obligasi angkanya telah mencapai Rp8.400 – 8.500 triliun.

Terkait upaya menggenjot kapitalisasi pasar tadi, pada tahun 2018 BEI akan fokus meningkatkan kuantitas dan kualitas emiten dengan target menambah minimal 35 emiten baru serta sebanyak 60 emiten eksisting melakukan pencatatan saham tambahan baik dalam bentuk right issue ataupun saham bonus.

Sementara untuk tahun ini terdapat 27 emiten baru yang masuk, sehingga total emiten yang tercatat di BEI mencapai 562 perusahaan.

Tidak kalah penting, upaya memacu kapitalisasi pasar juga dilakukan BEI dengan terus memperlengkap infrastruktur pasar, termasuk mendirikan PT Pendanaan Efek Indonesia yang akan segera beroperasi, begitu juga dengan upaya optimalisasi produk baik LQ45 Future maupun Indonesia Government Bond Future.

Penambahan produk menurut Tito diharapkan akan meningkatkan bobot saham Indonesia dalam MSCI (Morgan Stanley Composite International). “Kalau produk banyak bobot MSCI (Indonesia) bisa naik. Bobot MSCI hanya bisa naik kalau produk lebih banyak dan pasar lebih besar,” paparnya.

Sebagaimana diketahui MSCI merupakan indeks global yang menjadi acuan seluruh pelaku pasar dalam menempatkan portofolionya di seluruh dunia. Saat ini sekitar USD11 ribu triliun dana investasi itu mengikuti indeks yang ada di MSCI, karena itu sangat penting meningkatkan bobot MSCI bagi Indonesia.

Di luar langkah BEI tadi, sokongan dari pemerintah juga penting untuk terus berupaya meningkatkan lagi kredit rating Indonesia. “Masih ada potensi rating kita naik,” ujarnya. (TIM BEI)




 




Leave a Reply

Your email address will not be published.