Desa Nabung Saham

Siapa bilang saham hanya produk investasi untuk orang kota? Sebuah desa bernama Argo Mulyo di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Tengah, menjadi desa pertama yang mencanangkan wilayahnya menjadi Desa Nabung Saham.

Padahal Argo Mulyo jauh berada di pedalaman, dengan jumlah penduduk kira-kira hanya 1.200 kepala keluarga. Hebatnya, separuh dari jumlah kepala keluarga atau 500 orang sudah menjadi investor saham. Sebagian warga desa yang pernah menjadi korban investasi bodong berinisiatif meminta BEI dan salah satu sekuritas di Balikpapan “mengajari” masyarakat desa tentang investasi yang benar khususnya investasi di pasar modal.

Bagaimana bisa separuh kepala keluarganya menjadi investor? Inilah upaya pasar modal menjemput bola. Secara rutin, setiap Jumat sore, trainer BEI dan Sekuritas harus menempuh perjalanan selama 2,5 jam berkelak kelok untuk sampai di Desa Argo Mulyo untuk melakukan kegiatan edukasi yang baru bisa dimulai selepas Isya sampai tengah malam. Kegiatan sosialisasi tersebut tidak hanya dilakukan sesekali. Bahkan, total kegiatan edukasi yang telah dilakukan mencapai 37 kali dalam kurun waktu 5 bulan.




Belajar dari pengalaman mereka tertipu investasi, BEI memberi pemahaman bahwa warga tidak menyerahkan dana mereka kepada pihak ketiga. Rekening efek dan rekening dana nasabah adalah milik mereka dan dikelola oleh mereka sendiri, tidak oleh orang lain. Artinya mereka sendiri yang bertanggung jawab atas untung – rugi dana kelolaan mereka, sehingga mereka perlu mempelajari betul bagaimana memilih saham maupun risiko memiliki saham.

Edukasi yang dilakukan oleh BEI dan mitra Sekuritas tidak terbatas hanya kelas-kelas bersifat teori, tetapi juga praktek nyata membeli saham dan pendampingan selama bulan-bulan pertama aktifnya rekening efek untuk membantu warga memilih saham yang akan mereka beli.

Desa Argo Mulyo menginspirasi desa-desa sekitarnya, bahkan kecamatan yang berbeda, di Kabupaten Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur itu juga untuk menjadi Desa Nabung Saham. Selain itu, banyak daerah lain yang juga berminat. Beberapa Kecamatan di DKI Jakarta kini sudah menghubungi BEI untuk meminta dilakukan sosialisasi. Dalam waktu dekat, BEI memiliki program Masyarakat Nabung Saham untuk 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Tidak hanya itu, Desa Argo Mulyo menjadi inspirasi ditandatanganinya nota kesepahaman antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Penandatanganan nota kesepahaman ini menandakan bahwa program Desa Nabung Saham selanjutnya akan menjadi program yang terintegrasi lintas industri, dengan satu kepentingan: perlunya pemerataan akses ekonomi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing dalam negeri. Kemudahan akses tersebut perlu dilakukan hingga ke tingkat desa untuk memperkecil kesenjangan antar daerah dan menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Selama ini, basis investor terbesar terkonsentrasi hanya di pulau Jawa, bahkan Jakarta. Desa Nabung Saham menginspirasi jutaan masyarakat Indonesia bahwa pasar modal bukan hanya milik “orang kota”, tetapi juga mereka. Sering ditemui bahwa permasalahan di desa bukanlah modal, tetapi pemahaman. Pemahaman yang makin luas cakupan demografinya, ditambah akses pasar modal yang makin merata sampai pelosok desa, tentunya akan meningkatkan jumlah investor dan investor aktif di Pasar Modal Indonesia.




 




Leave a Reply

Your email address will not be published.