33 Saham Baru Masuk Daftar Indeks ISSI

Sebanyak 33 saham baru ditetapkan masuk daftar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) per 28 November 2016. Penetapan ini berdasarkan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. Kep-56/D.04/2016. Acuan baru untuk ISSI ini resmi berlaku sejak 1 Desember 2016. Daftar Efek Syariah (DES) ini sekaligus menggantikan DES yang ditetapkan periode sebelumnya. Beberapa nama saham yang kini dapat masuk sebagai konstituen ISSI ini diantaranya adalah saham PT Gajah Tunggal Tbk, PT Aneka Gas Industri Tbk, maupun PT Energy Mega Persada Tbk.

 

Kehadiran daftar baru ini memberikan alternatif investasi yang lebih beragam pada para investor. Seperti diketahui, produk investasi berbasis syariah di lingkungan pasar modal sudah sebenarnya cukup beragam dan para investor sudah mengenal beberapa produk investasi syariah tersebut diantaranya adalah reksa dana syariah, sukuk, maupun saham syariah.

 

Sejak November 2007, Otoritas Jasa Keuangan secara berkala mengeluarkan DES yang berisi daftar saham syariah. Penetapan saham syariah melibatkan Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). DES bertujuan memberi panduan bagi masyarakat untuk mengetahui saham apa saja yang layak diinvestasikan secara syariah. DES juga merupakan satu-satunya rujukan tentang daftar saham syariah di Indonesia.

 

Terhitung sejak 12 Mei 2011 Bursa Efek Indonesia (BEI) mempunyai dua indeks saham syariah, yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Kedua indeks yang menjadi panduan informasi pergerakan harga saham syariah bagi para investor ini mengacu kepada DES. Oleh karena itu BEI akan menyesuaikan Indeks tersebut minimal sebanyak 2 kali dalam satu tahun sebagaimana DES yang diterbitkan 2 periode dalam 1 tahun.

 

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum satu saham dinyatakan layak masuk DES. Di antaranya, Emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang. Emiten bersangkutan juga bukan merupakan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional. Jika bergerak dalam bidang produksi, distribusi, dan perdagangan, Emiten bersangkutan dipastikan tidak memproduksi makanan dan minuman yang haram, merusak moral dan bersifat mudharat.

 

Setelah memenuhi syarat kesesuaian bisnis yang ditetapkan DSN-MUI, saham saham tersebut masih harus melalui beberapa tahap penyaringan yaitu seleksi berdasarkan rasio utang dan rasio pendapatan. Saham syariah harus memiliki rasio utang berbasis riba yang tidak melebihi 45% terhadap total aset kemudian dari sisi pendapatan, perusahaan tersebut tidak boleh memiliki pendapatan non halal seperti pendapatan bunga yang nilainya lebih dari 10% terhadap total pendapatan.

 

Dengan hadirnya DES Periode kedua di tahun 2016 ini, BEI telah menetapkan 331 saham yang termasuk sebagai konstituen ISSI artinya saat ini jumlah saham syariah telah mencapai lebih dari 60% dari keseluruhan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi keuntungan bagi para investor karena memiliki banyak pilihan dalam memilih saham saham yang berkinerja baik dan tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

 

BEI secara signifikan telah mengembangkan pasar modal syariah khususnya mendorong pengembangan Sistem Online Trading Syariah (SOTS). Dengan menggunakan SOTS, investor tidak perlu lagi untuk melakukan pencarian informasi mengenai kesesuain syariah atas saham yang ingin ditransaksikan karena SOTS akan secara otomatis menolak transaksi saham saham yang bukan merupakan konstituen ISSI. Hadirnya layanan SOTS ini sangat mempermudah investor dan telah mendapat sambutan yang positif dari berbagai stakeholder. Perkembangan ini tentunya menjadi salah satu pendorong BEI untuk menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia




Leave a Reply

Your email address will not be published.