5 Alasan Mengapa Taksi Konvensional Mengamuk

taksi konvensional

Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan mengatakan bahwa adanya transportasi umum berbasis online tak dapat dicegah. Yang menjadi masalah adalah angkutan tersebut tidak terdaftar.

Awalnya aplikasi yang diluncurkan berupa aplikasi pembantu untuk transportasi roda dua namun seiring dengan berjalannya waktu dan teknologi yang semakin maju berkembanglah aplikasi tersebut tak hanya melayani roda dua namun bermunculan aplikasi-aplikasi penyedia jasa taksi online.




Hal ini tentu menimbulkan masalah sebab taksi berbasis online bukanlah kendaraan umum berplat kuning dan terdaftar. Tentunya hal ini membuat supir taksi konvensional menjadi resah dan mengalami kerugian.

Dan hal-hal di bawah inilah sebagian curahan hati mereka,

1. Pergi pagi, pulang petang namun tak bawa uang

Menurut pernyataan dari Humas Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD), Suharto, semenjak adanya transportasi daring, penghasilan sejumlah sopir taksi konvensional menurun drastis. Bahkan tak jarang ada yang telah bekerja seharian namun tak menghasil sepeserpun.

Beberapa supir taksi mengatakan mereka kadang berpenghasilan Rp 150 ribu namun kini menurun menjadi Rp 20 ribu. Sementara data dari Taxiku biasanya supir bisa menghasilkan Rp 500.000 sekarang hanya Rp 200.000.

2. Keputusan pemerintah banyak merugikan

Kementerian Komunikasi dan Informasi menyatakan tidak dapat memblokir aplikasi Uber dan GrabCar. Tentu hal ini mengecewakan banyak supir taksi konvensional.

Halaman Selanjutnya

Halaman: 1 2 3







 




Leave a Reply

Your email address will not be published.