Menggelorakan Wisata Bahari

sumber: pengembanganwisatabahari

Oleh Riduan Situmorang

Jasmerah atau jangan melupakan sejarah adalah semboyan melegenda dari Sukarno. Kurang lebih, pengertian semboyan itu adalah agar kita tak melupakan hal-hal silam yang menyulam negeri ini, baik itu dari segi intrinsik maupun ekstrinsik. Sangat tak elok kalau kita mendurhakai Ibu Pertiwi yang telah menyusui dan membesarkan kita anak-anaknya. Bagaimanapun kita sekarang, tak dapat dibantah bahwa berbagai garam yang telah dicecapi dari negeri ini telah mengantar kita pada tepian yang mungkin nanar, hambar, tawar, juga bugar. Itu semua berasal dari sekujur tubuh eksotis Ibu Pertiwi kita.




Pertanyaannya, setelah berlayar dari tepian ke tepian hingga mengantarkan kita pada posisi sekarang, apakah kita akan menjadi anak durhaka yang melupakan ibu setelah menguras air susunya yang mujarab? Apakah pula air susu yang telah menjadi nutrisi di setiap otot dan otak kita akan menjadi tuba yang cukup membuat mata hati kita buta?

Ibu Peritiwi adalah ibu yang baik. Dia ibu yang mengayomi. Sudah tersiar ke seluruh penjuru mata angin bahwa Sang Ibu sudah melahirkan anak-anak yang ramah dalam berutur. Tubuhnya juga teramat eksotis dan menawan sehingga banyak pelancong yang mencoba merenggutnya! Emosinya bahkan stabil sehingga musim demi musim dibagi dengan porsinya yang pas. Kita akhirnya (harusnya) tak kepanasan, tak kedinginan, tak kehausan, tak kebanjiran. Justru lagi, setelah mandi di kolam susu, kita akan dengan mudah mendapat ikan, buah, dan sayur yang bergelimang.

Halaman Selanjutnya

Halaman: 1 2 3 4 5 6







 




Leave a Reply

Your email address will not be published.