Riduan: Teologi Kebencian

Oleh Riduan Situmorang

Sebenarnya kata teologi sangat tidak pantas disandingkan dengan kebencian. Tetapi saya paksakan itu di sini mengingat belakangan ini, ujaran kebencian ramai diperbincangkan terkait surat edaran yang dikeluarkan Polri. Dalam hati saya termenung, apakah negeri ini sudah sedemikian gawat sehingga surat edaran remeh-temeh dikeluarkan? Atau, apakah para tokoh masyarakat, tokoh agama, sudah tak berdaya mengajarkan kebajikan kepada masyarakat sehingga polisi turun tangan untuk urusan moral? Sederhana saja alasannya, urusan ujaran kebencian bukan tugas pokok Polri. Guru, tokoh, dan pemuka agamalah yang paling utama mengurusinya.

Kembali ke teologi kebencian tadi. Sesungguhnya, baik teologi maupun kebencian berada pada posisi yang berseberangan atau antitesis. Yang satu menautkan hubungan transsendental dengan yang ilahi, sementara yang satu lebih pada relasi improduktif yang lebih condong pada narasi menghanyutkan yang diperalat iblis. Jika teologi merupakan ujung dari doa, maka kebencian hanyalah ujung dari kekuatan magis dari iblis. Jadi pada prinsipnya, teologi dan kebencian adalah dua hal yang saling menikam.




Halaman Selanjutnya

Halaman: 1 2 3 4 5 6







 




Leave a Reply

Your email address will not be published.