Refleksi Hari Kesehatan Jiwa: Diskriminasi pada Sakit Jiwa

 

Sumber : Tempo

Oleh Riduan Situmorang




Setidaknya yang satu ini membuat saya tidak terlalu “minder” sebagai orang Indonesia dan begitu mengagung-agungkan Eropa, yaitu ketika di sudut Kota Paris, Prancis, dan Kota Koln, Jerman, oh, seperti di Indonesia, ternyata di sana ada juga orang yang sakit jiwa. Di kita, namanya gila. Jujur, ini membuat saya agak bangga karena sejauh di Eropa, teman-teman di sana tampak sekali ingin menunjukkan keperkasaan, kemegahan, kedamaian, dan keberadaban bangsanya. Logis memang karena di sana hampir tidak ada huru-hara. Kemacetan, bahkan selama 20 hari di sana, saya baru mendengar dua kali suara klakson.

Konon katanya, suara klakson menjadi pertanda bahwa seseorang sudah marah besar. Klakson pertama karena ada taksi yang ugal-ugalan. Klakson kedua, karena supir dari KBRI kita, eh ternyata dari orang kita juga, agak ceroboh sehingga mobil di belakangnya tak diperhatikan. Kalau di Indonesia, apa yang dilakukan oleh supir dari KBRI itu, menurut saya, masih sangat wajar. Belum ceroboh. Tetapi di Eropa, itu rupanya sudah sangat ceroboh. Tepatnya itu terjadi ketika kami dari PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) menuju panggung megah yang menjadi ikon opera di Kota Stuggart, kebanggaan Jerman. Saya ingat sekali bagaimana ekspresi pengemudi di belakang kami yang marah itu sembari mengacungkan jari tengahnya. Oh!

Halaman Selanjutnya

Halaman: 1 2 3 4 5







 




Leave a Reply

Your email address will not be published.