Diskriminasi pada Pengungsi

 

Oleh Riduan Situmorang

Bagaimana baiknya kita memandang bangsa ini? Apakah manusiawi, adil, dan bijaksana? Atau, malah provokatif, diskriminatif, dan primitif? Apa pun bisa menjadi jawaban, tergantung dari sudut mana kita memandang.




Yang pasti, Indonesia seperti kita pahami adalah negara yang dibangun dengan fondasi humanisme-religius-sosial. Tak berarti bahwa dengan pandangan demikian kita adalah penganut Karl Marx, sosialis tulen, atau pun komunis. Kita murni dan patuh pada sabda kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil dalam artian memandang siapa pun pada timbangan yang sama tanpa melihat aspek sosiokultural, apalagi agamanya. Beradab pula dalam artian bahwa kita memperlakukan manusia dengan beradab. Tidak sama-sama disiksa karena sama-sama disiksa pada dasarnya juga dapat dipelesetkan sebagai keadilan.

Atas dasar itu, beramai-ramailah kita membantu para pengungsi Rohingya baru-baru ini. Kita tampak sekali sebagai penyambung berkat Allah. Kita tak tahan melihat derita lantaran mereka “terusir” dari tanahnya oleh pemerintahnya sendiri. Simpati pun berlipat-lipat. Apalagi setelah diketahui, di perjalanan, para pengungsi harus berhadapan dengan ganasnya laut dan itu hanya bermodal kapal seadanya. Tujuan mereka bahkan masih sumir, yaitu sekadar pergi dari negaranya menuju negara di mana mereka bisa diterima. Terkatung-katung bahasa gaulnya.

Halaman Selanjutnya

Halaman: 1 2 3 4 5 6







 




Leave a Reply

Your email address will not be published.