Klasifikasi Makhluk Hidup dan Membuat Herbarium


Nehemia Silalahi, siswa kelas VII SMPN 1 Balige bercerita tentang pelajaran yang paling ia sukai di kelas.

Balige, Jelasberita.com | Nehemia, siswa kelas VII SMPN 1 Balige mengaku paling suka belajar IPA terutama saat mengerjakan kerja kelompok membuat herbarium. Waktu itu mereka sedang belajar tentang klasifikasi makhluk hidup. Nehemia yang ditugaskan menjaga stand pameran praktik belajar yang baik sekolahnya di Lokakarya Keberhasilan Program USAID PRIORITAS di Kabupaten Tobasa, April silam, menceritakan dengan antusias.

Saat belajar tentang klasifikasi makhluk hidup, Merry M. Simangunsong, S.Si mengajari mereka tentang memahami keanekaragaman makhluk hidup dan mengklasifikasi makhluk hidup berdasarkan ciri yang mereka miliki. Sistem pembelajarannya dengan cooperative learning, direct instruction, dan observasi.




Dalam pembelajaran ini, siswa diharapkan mampu menjelaskan bagaimana cara mengelompokkan makhluk hidup berdsarkan bentuk luar tubuh, dasar klasifikasi makhluk hidup, menuliskan nama ilmiah makhluk hidup, dan mengetahui ciri makhluk hidup menurut Carolus Linneaus.

“Kami diajak ke halaman sekolah dan mencatat berbagai makhluk hidup yang kami temukan di sana,” kata Nehemia. Guru lalu membmbing siswa untuk mendiskusikan tentang tujuan klasifikasi makhluk hidup. Perwakilan tiap kelompok kemudian diminta menentukan dasar klasifikasi makhluk hidup berdasarkan ukuran tubuh, lingkungan tempat tinggal, manfaat, dan jenis makanan. Setelah itu perwakilan tiap kelompok mengambil cawan petri, pinset, kaca pembesar, belalang, kumbang, capung, udang, semut, lalat, laba-laba, dan kaki seribu. Guru menjelaskan langkah kerja untuk melakukan eksperiman mengelompokkan hewan berdasarkan bentuk luar tubuh sebagai dasar klasifikasi. Siswa lalu mulai mengklasifikasi.

Hasil eksperimen klasifikasi yang sudah dikerjakan siswa secara berkelompok diperiksa oleh guru. Guru kemudian menjelaskan tentang klasifikasi makhluk hidup menurut Carolus Linneaus.

Setelah itu, siswa ditugaskan membawa aneka dedaunan buah, dedaunan bumbu masak, dan dedaunan bunga yang sudah mereka awetkan dengan etanol. Siswa juga membawa alat seperti penggaris, pensil, cat warna, kertas karton, selotip, dan lem kertas. Siswa lalu ditugaskan merancang herbarium berdasarkan alat dan bahan yang sudah disediakan. Mereka memilah di antara awetan dedaunan yang memiliki ciri-ciri yang sama.

Hasil kerja dan diskusi tiap kelompok kemudian dipresentasikan dan ditanggapi oleh kelompok lain. Guru kemudian membantu siswa membuat kesimpulan. Dalam catatan refleksinya, guru mencatat bahwa ada kelompok yang tidak menyelasaikan herbarium karena dedaunan mereka terlalu rapuh sehingga tidak bagus ditampilkan. Mereka tidak mengawetkan daun dengan etanol karena sulit mendapatkannya. Dalam catatannya pula, guru merekomendasi agar di laboratorium IPA sekolah mereka disediakan etanol supaya siswa lebih mudah mengerjakan kegiatan seperti ini di kemudian hari (Dewa)




 




Leave a Reply

Your email address will not be published.