Harga Sicom Rugikan Petani Karet Indonesia

Harga Sicom Rugikan Petani Karet Indonesia
karet
karet

Oleh: Sekretaris Eksekutif, Edy Irwansyah

Harga karet rakyat saat ini sudah jauh di bawah harga pokok. Akibatnya, produksi karet Sumatera Utara turun akibat kebun karet telah dikonversi ke tanaman lain dan tidak sedikit petani yang telah beralih profesi karena penghasilan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehar-hari. Sudah setahun lebih harga tidak lagi menguntungkan bagi petani. Yang masih bertahan mengusahakan kebunnya karena secara geografis bahwa karetlah yang masih cocok ditanam, dengan perkataan lain karet merupakan gantungan hidup mereka.

Selama ini harga yang menjadi acuan antara eksportir dan buyer/tarder mengacu pada harga transaksi pada SICOM di bursa berjangka karet di Singapura. Selama 20 tahun lebih transaski masih berjalan lancar karena harga transaksi masih di atas harga dasar karet. Namun, ketika harga sudah di bawah harga dasar, acuan harga “SICOM” pun mulai disoal. Memperhatikan volume ekspor karet 2014 yang turun 3,3% dan harga rata-rata SICOM-TSR20 pada tahun 2014 sekitar 171,39 sen AS per kg, maka potensi kerugian devisa kita adalah 25,75 juta dolar AS atau lebih dari Rp 330 M.

Dampak yang dihadapi industri crumb rubber adalah berkurangnya pasokan. Karena ini sudah berlangsung lebih dari setahun, maka grup-grup besar eksportir karet Indonesia telah mengambil langkah tidak lagi melakukan penjualan dengan long term contract, menjual ptoduknya langsung ke end user dan tidak lagi memasok karet ke bursa berjangka karet Singapura yang sejak tahun 1992 dijadikan acuan harga untuk transaksi perdagangan.

Langkah ini telah dilakukan oleh grup-grup besar yang sharenya lebih dari 70%. Bila hal ini juga tidak mampu memperbaiki harga ke level yang menguntungkan bagi petani, maka dipastikan akan ada langkah nyata berikutnya. Harga yang renumerative bagi petani karet saat ini setidaknya 2 dolar AS per kg. Disamping itu, untuk jangka panjang pemerintah Indonesia melalui lintas Kementerian telah menyiapkan langkah-langkah untuk meningkatkan konsumsi karet domestik.

Para eksportir karet se-Indonesia sepakat untuk tidak melayani pembelian karet dengan kontrak jangka panjang (long term contract). Hal ini ditetapkan demi menopang pasaran karet yang selama hampir setahun belakangan anjlok disebabkan beberapa faktor. Upaya serupa juga dilakukan oleh produsen karet di kawasan Asia Tenggara dengan memangkas produksi dan pembangunan pabrik di beberapa negara konsumen langsung.

Eksportir besar secara nasional saat ini tidak lagi melayani long term contract. Usaha untuk menaikkan harga karet yang selama ini anjlok juga telah dilakukan oleh beberapa produsen lainnya.

Belakangan, Gapkindo juga telah mendesak pemerintah untuk segera membentuk Komite Karet ASEAN (ASEAN Rubber Committee) yang diharapkan dapat mengatur suplai karet alam di 8 negara di Asia Tenggara yakni Indonesia, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Pembentukan tersebut sangat penting mengingat permintaan karet dari konsumen utama seperti Tiongkok semakin lesu dan India untuk menaikkan bea masuk impor karet yang akan berimbas besar terhadap permintaan.

Pemerintah India Kamis pekan lalu resmi menaikkan bea masuk karet alam 25 persen demi melindungi kepentingan petani dalam negeri dan mengekang impor yang telah menembus rekor selama tahun fiskal terakhir

 




Leave a Reply

Your email address will not be published.