Mengenal Berbagai Risiko Berinvestasi

Mengenal Berbagai Risiko Berinvestasi

Risiko dalam setiap pilihan investasi adalah keniscayaan. Sebab, tidak ada investasi yang tidak  melekat dengan risiko. Jadi, berinvestasi bukan semata soal mendapatkan imbal hasil atau keuntungan (return). Meskipun, hal tersebut merupakan tujuan utama yang menggerakkan orang untuk mengalokasikan dana dengan tujuan atau target tertentu. Oleh sebab itu, return dan  risiko merupakan dua tema yang sama penting untuk dipahami oleh investor maupun calon investor. Dengan memahami risiko, seorang investor punya modal pengetahuan untuk memaksimalkan return.

Dalam bahasa sederhana, risiko dapat dimaknai sebagai ketidakpastian yang disebabkan fluktuasi kinerja produk investasi. Fluktuasi tersebut berpotensi memicu  penurunan atau bahkan hilangnya dana yang diinvestasikan investor. Semua jenis investasi memiliki risiko, tetapi masing-masing punya skala berbeda. Semakin tinggi potensi keuntungan dari produk investasi yang dipilih investor, semakin besar pula risiko mengiringinya (high risk high return).

Masing-masing investor punya profil risiko berbeda. Profil risiko ini ikut menentukan jenis pilihan investasi yang paling sesuai bagi seorang investor. Ada investor berkarakter agresif atau berani mengambil risiko, namun di sisi lain ada pula investor yang cenderung konservatif atau hanya bisa menerima risiko yang kecil.

Ada beberapa jenis risiko yang perlu dipahami seorang investor sebelum mulai berinvestasi. Pertama, risiko pasar. Risiko ini berkaitan dengan naik turunnya nilai investasi akibat pergerakan pasar secara umum. Jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, maka pada umumnya sebagian besar harga-harga saham mengalami penurunan.

Kedua, risiko suku bunga yang berhubungan dengan pengaruh perubahan suku bunga terhadap nilai investasi. Acuan suku bunga sangat penting untuk menakar risiko investasi di pasar obligasi. Jika suku bunga mengalami kenaikan, harga obligasi akan turun, karena orang yang menyimpan dana di obligasi cenderung akan mengalihkan uangnya ke instrumen yang lebih aman dan juga berbasis suku bunga yaitu deposito. Bila harga obligasi turun, nilai investasi di produk obligasi atau reksa dana pendapatan tetap yang memiliki underlying obligasi akan cenderung bergerak turun.

Ketiga, risiko inflasi. Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Inflasi menyebabkan berkurangnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga. Orang akan merasakan risiko inflasi jika hanya menyimpan uang di tabungan atau deposito. Dalam jangka panjang, daya beli orang yang hanya menabung di bank atau deposito akan berkurang akibat terjadinya inflasi walaupun jumlah uang tidak berkurang.

Berikutnya adalah risiko nilai tukar mata uang. Contohnya, jika berinvestasi dalam produk yang menggunakan mata uang dolar AS dan terjadi penguatan  nilai rupiah tehadap dolar AS, maka ketika Anda ingin menukarkan dolar ke dalam rupiah, nilai uang yang diterima menjadi lebih sedikit.

Sebaliknya, jika memiliki kebutuhan dolar, dan Anda hanya menyimpan uang dalam rupiah, ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, maka  nilai uang akan berkurang atau tidak lagi mencukupi kebutuhan dolar yang sebelumnya bisa diperoleh dari uang Anda.

Masih banyak risiko-risiko lain yang perlu dipelajari agar investor bisa mengelola dan mengantisipasi risiko yang ada. Lakukan evaluasi terhadap investasi secara berkala, agar bisa melakukan perpindahan portofolio secara berkala serta menyesuaikan dengan risiko-risiko investasi yang mungkin akan dihadapi, sehingga Anda bisa mengoptimalkan keuntungan berinvestasi. (Tim BEI)




Leave a Reply

Your email address will not be published.