Harga Karet Sulit Bangkit Akibat Dampak Minyak, Tiongkok dan India

karet

karet
Medan, Jelasberita.com | Harga karet terus terancam di balik penurunan harga minyak mentah dan kemerosotan ekonomi Tiongkok, negara konsumen utama karet. Selain itu, faktor penggerus harga pun muncul dari India. Guna melindungi para petani India, Kementerian Perdagangan India baru-baru menaikkan bea masuk karet menjadi 30 persen. Bahkan, para petani setempat menuntut kenaikan hinga 75 persen.




Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, menjelaskan, kondisi tersebut akan menambah beban bagi para petani karet Indonesia mengingat selama ini Indonesia masuk dalam daftar negara eksportir utama karet bagi India.
“Kenaikan bea masuk yang tinggi menjadi faktor baru yang mengancam harga karet Indonesia. Kenaikan bea tersebut sebenarnya tidak boleh dibiarkan karena akan menghantam pengguna karet seperti produsen ban dan semua kepentingan harus dipikirkan,” ujarnya kepada Jelasberita.com, Rabu (11/2).

Ia mengemukakan pasaran bahan utama pembuat ban tersebut masih sangat rentan dengan kemerosotan. Pasalnya, minyak mentah yang digunakan untuk memproduksi karet sintesis mengalami penurunan harga. Lonjakan stok minyak mentah shale di AS dan penurunan permintaan global semakin merunyamkan pasaran komoditas selama beberapa bulan, khususnya harga karet.

“Semula banyak yang mengira penurunan harga minyak dunia bersifat bersifat sementara, dan segera mudah diatasi para produsen minyak besar, terutama Arab Saudi. Namun, ketika harga minyak sudah meluncur ke level 60-an dollar AS per barrel, baik untuk jenis Brent maupun West Texas Intermediate, baru menyadari bahwa ada hal yang bersifat fundamental dan struktural. Salah satu penyebab anjloknya harga minyak adalah tingginya pasokan shale oil di Amerika Serika,” jelas Edy.

Dikutip dari data Badan Pusat Statistik Sumut, ekspor karet Sumut per Desember 2014 mencapai 56.689 ton, lebih tinggi dari 48.022 ton November 2014. Meski demikian, jika dibandingkan secara tahunan ekspor periode Januari hingga Desember 2014 jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnmya yakni 4.948.465 ton dibandingkan 5.094.039 ton. (ti)




 




Leave a Reply

Your email address will not be published.