Mengenal Indeks Syariah di BEI

Mengenal Indeks Syariah di BEI

 syarih

Industri keuangan berbasis syariah tidak hanya berlaku di perbankan maupun asuransi. Pasar modal pun sudah sekian lama mengenal prinsip berinvestasi secara syariah. Meski porsinya belum signifikan dibanding pasar modal konvensional, namun tren pertumbuhannya cukup menggembirakan. Pasar modal Indonesia kini sudah mengenal produk-produk investasi syariah seperti reksa dana syariah, sukuk syariah, dan yang tak kalah penting indeks syariah.

Indeks pada umumnya merupakan acuan berinvestasi. Itu sebabnya, di Bursa Efek Indonesia kini telah ada  indeks syariah, yang tentu saja dibentuk dari sejumlah saham unggulan, yang menurut prinsip syariah layak jadi pilihan investasi. Sejak November 2007, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan/Bapepam-LK (sekarang bernama Otoritas Jasa Keuangan/OJK) telah mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES) yang berisi daftar saham syariah yang ada di Indonesia. Penetapan saham-saham yang layak jadi acuan melibatkan Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Ketentuan DES menjadi  satu-satunya rujukan tentang daftar saham syariah di Indonesia.




Sejauh ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mempunyai dua indeks  syariah, yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Kedua indeks menjadi acuan pergerakan harga saham-saham syariah yang yang ditetapkan dalam DES.

Saham-saham masuk dalam DES karena jenis, prinsip, dan praktik bisnisnya dinilai memenuhi prinsip syariah Islam. Ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi agar saham-saham terpilih layak  masuk dalam Daftar Efek Syariah. Sejumlah ketentuan penting seperti, emitennya tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang. Emiten bersangkutan juga bukan merupakan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional. Jika bergerak dalam bidang produksi, distribusi, dan perdagangan, harus tidak berkaitan dengan makanan dan minuman yang haram atau merusak moral dan bersifat mudharat.




Di samping itu, BEI juga telah mengembangkan suatu model perdagangan online yang hanya memperdagangkan saham-saham syariah atau dikenal dengan  Syariah Online Trading System (SOTS) untuk diaplikasikan oleh Anggota Bursa (AB). Hingga saat ini, sistem layanan online trading syariah tersebut telah dikembangkan oleh 7 perusahaan efek. Dengan adanya sistem ini, maka perkembangan investasi syariah di pasar modal Indonesia diharapkan semakin meningkat karena investor akan semakin mudah dan nyaman dalam melakukan perdagangan saham secara syariah.

Sebagaimana digariskan dalam Peraturan Bapepam-LK No. IX.A.13,  efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan penerbitannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Dalam peraturan yang sama dijelaskan juga pengertian dari prinsip-prinsip syariah di pasar modal yaitu prinsip-prinsip hukum Islam dalam kegiatan di bidang pasar modal berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI).

Untuk meyakinkan masyarakat bahwa investasi syariah di pasar modal Indonesia sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, sejak 8 Maret 2011, DSN-MUI telah menerbitkan Fatwa No. 80 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanime Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Baca Berita Serupa Dalam : Belajar Saham

Leave a Reply

Your email address will not be published.