Cara Aman Berinvestasi Di Pasar Modal, Periksa Catatan Portofolio Investasi Secara Berkala

Cara Aman Berinvestasi Di Pasar Modal, Periksa Catatan Portofolio Investasi Secara Berkala

1940375

Beberapa puluh tahun lalu, masyarakat sebagian besar hanya mengenal produk-produk konvensional, seperti properti, emas atau deposito di bank. Dalam perkembangan, produk pasar modal semakin beragam. Sayangnya, baru sebagian kecil orang mengenal instrumen investasi pasar modal. Padahal potensi keuntungan dari investasi di pasar modal relatif tinggi dalam jangka waktu panjang.  Meski harga saham mengalami siklus naik dan turun seiring perkembangan makro ekonomi global, kondisi dalam negeri, dan dengan beberapa kali diterpa krisis ekonomi, pasar modal masih tetap menjanjikan.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat performa tertinggi di akhir 2014, saat IHSG ditutup pada  level 5,226.947 pada 30 Desember 2014. Catatan tersebut juga menjadi rekor IHSG tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Meski sempat mengalami penurunan di pertengahan tahun lalu, IHSG mulai menunjukkan tren penguatan kembali menjelang akhir tahun, dan berlanjut di awal 2015.




Minimnya jumlah investor di pasar modal salah satunya dipicu ketakutan masyarakat yang menganggap  investasi efek di pasar modal bukan pilihan yang tepat, lantaran dianggap berisiko. Sejumlah kasus pengalaman buruk di masa lalu akibat ulah oknum broker (Perusahaan Efek) yang membawa lari uang nasabah menjadi penyebab munculnya keraguan dalam berinvestasi di pasar modal. Selain itu, banyak orang tidak paham bagaimana cara menjadi investor di pasar modal.

Pasar modal Indonesia berkembang cukup pesat sejak kembali diaktifkan oleh pemerintah pada tahun 1977. Perkembangan pasar ini juga mencakup pemberlakuan sistem scripless trading pada tahun 2000 sehingga peningkatan volume, frekuensi, dan nilai transaksi secara efisien tetap dapat didukung oleh infrastruktur pasar modal. Dalam konsep sistem scripless trading ini, seluruh mekanisme perdagangan di Bursa Efek, mulai dari jual beli dan penyelesaian transaksi dilakukan dalam bentuk catatan elektronik dan sistem pemindahbukuan. Investor sebagai pemilik efek tidak perlu lagi repot untuk menyimpan sahamnya dalam bentuk sertifikat yang rentan terhadap risiko hilang, pemalsuan, dan sebagainya. Semua catatan kepemilikan saham milik investor, disimpan dalam bentuk data elektronik di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai satu-satunya Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) di pasar modal Indonesia.




Mekanisme penyimpanan saham dalam bentuk catatan elektronik di KSEI sebagai LPP ini, membuat perdagangan saham menjadi efisien dan menghilangkan risiko pemalsuan dan pencurian saham yang berpotensi terjadi ketika saham masih berbentuk fisik. Namun, meski sudah berjalan selama hampir 15 tahun, ternyata belum semua investor memahami sistem penyimpanan efek ini. Sampai saat ini, belum semua investor pasar modal yang mengetahui bahwa saham atau portofolio efek milik mereka tersimpan dan tercatat di KSEI. Mayoritas investor menganggap bahwa aset portofolio efek miliknya tersimpan di BEI, bank, Perusahaan Efek, dan bahkan masih ada investor yang sama sekali tidak tahu di mana asetnya tersimpan. Padahal, investor perlu mengetahui di mana asetnya tersimpan, sehingga bisa memantau portofolio efeknya. Dengan memantau efek miliknya secara berkala, investor bisa terhindar pula dari risiko penyalahgunaan efek oleh oknum broker.

Selain itu, masih terdapat juga investor yang belum mengetahui bahwa asetnya yang tersimpan di KSEI dapat dipantau secara langsung. Walaupun sebagian investor sudah tahu bahwa aset investasinya disimpan di KSEI, ternyata belum tentu investor tersebut mengetahui bahwa mereka dapat melihat secara langsung data yang ada di KSEI. Padahal ini penting bagi investor untuk memastikan bahwa portofolionya benar-benar ‘ada’ dan tersimpan di KSEI sebagai LPP sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang. Jika diibaratkan, KSEI itu seperti gudang aset investasi milik investor di pasar modal. Apabila investor selama ini sudah mendapatkan laporan isi gudangnya dari broker atau Perusahaan Efek, sudah sewajarnya investor juga dapat mengecek sendiri secara langsung ke gudangnya apakah isinya sudah sesuai dengan laporan yang diterima.

Pengecekan langsung ke ‘gudang’ penyimpanan data nasabah oleh KSEI telah difasilitasi dengan hadirnya Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) dari KSEI. Pada prinsipnya, setiap investor di pasar modal berhak untuk dapat menggunakan Fasilitas AKSes. Bentuknya seperti kartu ATM yang bisa dimiliki nasabah bank, yang mencantumkan nomor identitas investor (SID).  Perusahaan Efek atau Bank Kustodian tempat investor terdaftar sebagai nasabah, akan mengurus kepemilikan kartu AKSes.  KSEI akan memberikan Kartu AKSes dan PIN Code yang dapat digunakan untuk login ke Fasilitas AKSes. Proses pembuatan Kartu AKSes dan PIN Code ini secara otomatis dilakukan ketika Perusahaan Efek atau Bank Kustodian membukakan Sub Rekening Efek di KSEI atas nama masing-masing nasabah. Selain secara online melalui website Fasilitas AKSes (http://investor.ksei.co.id), fasilitas ini juga dapat digunakan dengan aplikasi mobile dengan menggunakan perangkat pintar keluaran RIM-Blackberry, Android, dan Apple.

Setiap investor pada prinsipnya hanya perlu memiliki satu Kartu AKSes. Meski menjadi nasabah dan membuka rekening di beberapa Perusahaan Efek lain, data investor secara otomatis akan terhubung dengan satu identitas tunggal pemodal atau Single Investor Identification (SID) yang tercantum pada Kartu AKSes. Dengan adanya AKSes, kontrol pengawasan investasi sepenuhnya ada di tangan investor sendiri. Melalui AKSes, segala kegiatan investasi mulai dari jual beli di Bursa, perhitungan hak dan kewajiban penyelesaian transaksi, hingga catatan saldo dan mutasi kepemilikan Efek dan dana investasi dapat terpantau dengan mudah kapan pun dan di mana pun.

Selain pembuatan Sub Rekening Efek, SID dan Kartu AKSes, Perusahaan Efek juga wajib membukakan Rekening Dana Nasabah (RDN) atas nama masing-masing investor di salah satu Bank Pembayaran yang bekerjasama dengan KSEI (BCA, BNI, Bank Mandiri, Bank Permata, dan CIMB Niaga). Sejak tahun 2013, KSEI telah menjalin sinergi  dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) dan unit usaha syariah Bank Permata sebagai bank administrator RDN syariah. Dengan terselenggaranya kerjasama tersebut, investor pasar modal memiliki alternatif untuk mengadministrasikan dananya pada bank syariah. Bagi masyarakat yang mayoritas penduduk muslim, kini telah memiliki fasilitas infrastruktur yang memadai untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Saat ini KSEI juga sedang membangun kerjasama dengan Bank Pembayaran agar investor dapat mengecek rekening efeknya melalui ATM.

AKSes merupakan hak bagi investor yang harus digunakan agar dapat dirasakan manfaatnya. Fasilitas AKSes merupakan hak setiap investor yang tidak hanya cukup dimiliki, tetapi kami himbau  agar dapat selalu digunakan. Dengan aktif login untuk memonitor kegiatan investasinya, investor secara aktif dapat melindungi aset investasinya dari kemungkinan penyalahgunaan. Pastikan Kartu AKSes dan PIN Code dapat segera Anda terima dari Perusahaan Efek atau broker, dan jangan hanya disimpan tapi segera gunakan untuk login. Dengan menjadi investor yang bijak, berinvestasi di pasar modal menjadi lebih nyaman dan tenang. Pengawasan secara aktif dan mandiri oleh investor melalui AKSes ini diharapkan dapat menekan kemungkinan terjadinya penyalahgunaan aset investasi milik investor oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. (TIM BEI)

Baca Artikel Lainnya di Belajar Saham

Leave a Reply

Your email address will not be published.