Bank SUMUT Menuju Transformasi BPD

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Foto: DANIL SIREGAR/SUMUT POS Kantor PT Bank Sumut di Jalan Imam Bonjol Medan, Rabu (3/2).

Medan, Jelasberita.com | Dilatarbelakangi oleh maraknya bisnis perbankan yang masuk di Indonesia dan jumlah bank asing yang mendominasi Perbankan Indonesia akhirnya membuat pemerintah melakukan transformasi BPD (Bank Pembangunan Daerah), yakni menggabungkan 26 BPD di Indonesia menjadi satu kesatuan dan tentunya bias bersaing dengan bank asing.

Data menunjukkan bahwa bank asing yang beroperasi di Indonesia diantaranya Citibank, Bank of America, JP Morgan Chase Bank yang merupakan bank asal Amerika, Standard Chartered dari Inggris, The Bank of Tokyo dari Jepang, HSBC dari Hongkong dan The Royal Bank of Scotland, serta masih banyak bank asing lainnya yang sudah beroperasi di Indonesia.

Tidak hanya label bank asing yang dengan terang-terangan beroperasi di Indonesia Namun siapa sangka band lokal seperti Bank Danamon ternyata kepemilikan saham bank tersebut 67% dimiliki oleh Singapura yaitu DBS temasek, ada juga Maybank Indonesia yang kepemilikannya 88% oleh Malaysia, Bank Permata 44,5% dimiliki oleh Standard Chartered perusahaan asal Inggris.

Melihat fenomena yang menarik ini, akhirnya pemerintah melalui presiden Joko Widodo kemudian meluncurkan program transformasi BPD pada 26 Mei 2015 dimana Bank Sumut merupakan salah satu bank yang tergabung dalam transformasi BPD menuju regional Champion diantara 25 bank lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Setahun sejak diluncurkannya Transformasi BPD ini, total asset BPD tumbuh 6,48% (yoy) sebesar Rp 531,30 triliun, DPK (Dana Pihak Ketiga) tumbuh 5,27% sebesar Rp 432,44 triliun serta penyaluran kredit tumbuh 8,12% sebesar Rp 328,19 triliun.

Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa BPD harus bias menyerap market share yang ada di daerah, jika tidak maka akan diambil alih oleh bank asing. “Masih mending jika diambil oleh Bank Mandiri, BRI atau BNI yang seyogianya masih saudara sendiri.” Ungkapnya.

Bank Sumut diharapkan dapat memberikan kontribusi dan merajai market di daerah Sumatera Utara sehingga secara otomatis memperkuat transformasi secara nasional. Tidak hanya menguntungkan bagi masyarakat lokal Sumatera Utara tapi juga Indonesia.

Menurut Direktur Bank Sumut Edie Rizliyanto dalam kata sambutan pembukaan Bank Sumut Academy bagi jurnalis di kantor Bank Sumut Pusat mengatakan jika digabungkan ke 26 BPD tersebut menempati posisi keempat bank terbesar di tanah air setelah Bank Mandiri, BRI dan BCA.

Tentunya hal ini sangat positif serta dapat mengurangi dominasi asing di Indonesia. Menurut Edi kontribusi BPD terhadap perekonomian Indonesia saat ini cukup besar dan diharapkan BPD bisa menjadi raja di daerahnya masing-masing.

Ketua ASBANDA (Asosiasi Bank Daerah) Eko Budi Wiyono menyampaikan melalui program transformasi BPD diharapkan BPD dapat menjadi bank yang kompetitif, kuat dan berkontribusi bagi pembangunan daerah. Serta ke depannya BPD diharapkan mampu memberikan kebutuhan jasa perbankan di tingkat nasional.

Menurutnya program transformasi BPD juga diharapkan akan membawa perubahan mendasar terhadap budaya BPD agar lebih profesional BPD harus keluar dari zona nyaman untuk melangkah ke tahap yang lebih tinggi dan lebih menantang. Sesuai dengan tujuan awal peresmian tahun lalu yaitu memberikan kontribusi ke daerah sehingga transformasi BPD dapat menciptakan sistem ekonomi keuangan daerah yang lebih akuntabel dan transparan.

 

Fundamental Bank Sumut.

Dari sisi asset, Bank Sumut pada tahun 2013 hingga saat ini terus mengalami pertumbuhan dimana tahun 2013 aset Bank Sumut 21,5 triliun yang meningkat 8,81% menjadi 23,4 triliun di tahun 2014. Kemudian di tahun 2015 masih ada peningkatan 3,14% menjadi 24,13 triliun. Peningkatan asset tersebut merupakan bukti support para pemegang saham dalam memberikan suntikan modal.

Meskipun terjadi peningkatan asset perusahaan tidak membuat stakeholder puas, pasalnya laba Bank Sumut sejak 2013 hingga 2015 terus Mengalami penurunan yaitu laba 2013 sebesar 531 milliar dan di tahun 2014 laba yang didapat Bank Sumut  turun menjadi 465,18 miliar dan turun lagi di tahun 2015 menjadi 464,93 miliar.

Gubernur Sumatera Utara Bapak Tengku Erry selaku pemegang saham kendali dari Bank Sumut menyatakan bahwa kinerja Bank Sumut masih bisa lebih maksimal karena laba yang diperoleh Harusnya bisa lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya

Bagi Tengku Erry angka ini Tentunya bisa lebih dimaksimalkan lagi, harus ada perbaikan dalam penanganan NPL (Non Performing Loan) atau kredit bermasalah pada tahun 2015 yang di alami bank Sumut mencapai 5%. Salah satu cara yang dilakukan oleh manajemen Bank Sumut untuk mengatasi NPL adalah dengan memperbaiki CRM (Credit Risk Management) yang bertujuan untuk perbaikan kualitas NPL karena jika NPL nya bisa berada di bawah 5% maka laba yang didapat oleh perusahaan bisa menjadi lebih tinggi.

Menurut Tengku Erry Tidak ada salahnya Bank Sumut berkaca melalui Bank Jawa Barat yang berani ekspansi dengan membuka kantor cabang di banyak provinsi sehingga Market Share dari Bank Sumut menjadi lebih besar. Saat ini Bank Sumut hanya memiliki kantor cabang di Jakarta.

Berdasarkan laporan keuangan yang ada dan melihat menajemen yang bagus, harusnya tidak sulit bagi Bank Sumut untuk dapat bertransformasi dan merajai region sendiri. Tentunya di dukung oleh seluruh masyarakat Sumatera Utara dan pemerintah daerah bias menjadikan Bank Sumut lebih berdaya saing dan professional.

 

Kesiapan Bank SUMUT

Menurut pandangan Sdr. Benjamin Gunawan selaku Ekonom Sumatera Utara, “Kita tentunya berharap Bank SUMUT nantinya menjadi pemain utama di wilayah SUMUT”. Jadi transformasi BPD nantinya akan memberikan keleluasaan bagi nasabah Bank Daerah dimanapun untuk bertransaksi antar sesame Bank daerah itu sendiri. Sehingga transformasi ini nantinya akan menambah daya dobrak Bank SUMUT untuk melayani nasabahnya sendiri atau nasabah bank lainnya di seluruh Indonesia, paparnya.

Selanjutnya adalah keberpihakan, dengan layanan yang semakin baik dimana ada koneksi jaringan di semua wilayah Indonesia dengan biaya murah. Diharapkan pemerintah tidak canggung lagi membiayai proyek-proyek pembangunan ke Bank SUMUT.

“Saya melihatnya Bank SUMUT itu kualitas layanannya tidak akan jauh berbeda dengan kualitas pelayanan Bank BUMN besar saat ini pasca transoformasi BPD. Jadi tidak ada alasan lagi bagi siapapun ragu untuk menggunakan jasa Bank SUMUT. Karena konektifitas semua layanan Bank Daerah nantinya akan menguntungkan bank daerah itu sendiri termasuk Bank SUMUT” ungkap ekonom dan juga broker di salah satu sekuritas di Kota Medan ini.

Menurutnya seorang nasabah yang membutuhkan layanan transaksi prima secara nasional. Bisa dengan cukup membuka rekening di Bank daerah. Namun, tantangan bank daerah adalah bank BUMN atau Bank asing yang ada di Indonesia . Sehingga dalam transformasi itu nantinya ada regulasi yang membuat Bank Daerah untuk lebih fokus ke daerahnya masing-masing.

Dan tidak ada cabang bank daerah diluar daerah lain yang beroperasi. Jika regulasi itu nantinya ada. Saya yakin Bank SUMUT akan menjadi pemain besar di wilayahnya sendiri. Karena potensi ekonomi SUMUT kedepan secara agregat sangat menjanjikan sekali. Yang penting pemegang saham memiliki keberpihakan untuk sama sama mengembangkan Bank SUMUT.

Rencana komisi C DPRD Kota Medan untuk menarik aset (saham) dari Bank SUMUT dan membentuk BPR ini kebijakan yang tidak tepat sama sekali. Kalau dilihat dari hitung-hitungan bisnis, jelas membangun BPR dengan duit saekitar 18 Milyar tetap bisa. Tapi ini bukan zamannya lagi membangun BPR. Saat ini jelas transformasi BPD menjadi arahan yang tepat untuk bersaing di tahun 2020 mendatang, lanjut bang Benjamin Gunawan.

Di tahun 2020 nanti, masyarakat kita akan berhadapan dengan era persaingan ketat di industri keuangan termasuk perbankan. Persaingan seperti itu harus disiasati dengan inovasi teknologi, efisiensi, layanan prima, yang diisi dengan sumber daya manusia terlatih atau bahkan tersertifikasi. (Ysp)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.