Jessica Membacakan Surat Pembelaan Diri Di Persidangan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Jessica Membacakan Surat Pembelaan Diri Di Persidangan




Image via www.detik.com

Jakarta, Jelasberita.com | Jessica Kumala Wongso, akhirnya membacakan surat pembelaan atau pledoi. Jessica sedang terkait kasus kopi beracun sianida, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (12/10). Jessica menegaskan kalau tidak pernah membunuh korban Wayan Mirna Salihin, dengan menggunakan racun sianida yang dicampurkan ke dalam es kopi vietnam. Jessica mengatakan bahwa, dirinya pernah diminta untuk mengaku melakukan pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Bila Jessica mengaku maka dia akan mendapat jaminan hukuman yang ringan dari hukuman maksimal mati.

Jessica menjelaskan hal tersebut pada saat membacakan surat pembelaan di hadapan majelis hakim. Hal tersebut diceritakan Jessica, pada saat dia masih berada di sel tahanan Polda Metro Jaya, Jessica didatangi oleh Dirkrimum Polda Metro Jaya kala itu dijabat oleh Kombes Khrisna Murti. Jessica dengan surat pembelaanya mengatakan, dia berada di kursi pesakitan Ruang Sidang Koesoemah Admaja 2, PN Jakarta Pusat, adalah karena telah dituduh meracun sahabatnya (Wayan Mirna).

“Pada intinya dia mengatakan kalau saya mau mengaku, saya akan divonis 7 tahun bukan hukuman mati atau seumur hidup, sebelum kejadian, saya tidak punya firasat apa pun kalau ini merubah hidup banyak orang ” tutur Jessica. di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Dalam pembacaan surat pembelaan, Jessica pada akhirnya tetap bersikukuh, tidak membunuh maupun memasukan racun sianida di kopi Mirna. Jessica menegaskan jika dia tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Jessica mengaku, merasa sedih ketika mengetahui Mirna meninggal dunia. Namun, mengapa justru dirinya yang dituduh melakukan pembunuhan.




“Saya tidak melakukan apa yang dituduhkan terhadap saya, saya tahu Mirna meninggal. Cuma mereka memperlakukan saya seperti sampah. Saya mengerti kesedihan mereka, saya kehilangan, tapi saya dituduh membunuh. Apa yang sedang terjadi, mengapa semua ini sangat membingungkan, bagaimana ada orang berbuat jahat seperti ini kepada saya ” tutur Jessica sambil menangis.

Jessica menjelaskan dalam surat pembelaan, bahwa keluarganya juga telah dipojokkan dan dibuat menderita, sehingga hal tersebut membuat diri Jessica bingung harus berbuat apa.

“Apa benar ini karena kopi? Saya tidak pernah meracuni kopi yang diminum Mirna. Saya sangat sedih dan tertekan. Dalam waktu cukup lama saya tidak bisa membela diri. Saya tertindas,” tutur Jessica.

Jessica menjelaskan, sejak pada hari kejadian di Rumah Duka Rumah Sakit Dharmais, dirinya kerapkali dituduh membunuh. Kemudian polisi datang ke rumah Jessica dengan memaksakan kehendaknya.

“Saya tampil di media dicemooh. Saya ditangkap di hotel, dan dituduh mau kabur. Saya itu cari ketenangan karena di rumah tidak mendapatkannya. Pada hari penangkapan, tekanan polisi kuat. Mereka memaksa saya mengaku dengan menyatakan sudah ada rekaman CCTV,” tutur Jessica.

Jessica menjelaskan dalam surat pembelaan, bahwa dirinya selama ditahan berada pada ruangan dengan ukuran 1,5×2,5 meter, dan fasilitas yang disediakan hanya selembar kain di sana. Tidak ada yang boleh datang untuk mengunjungi pada beberapa hari pertama.

“Saya menangis dan bertanya apa yang saya lakukan karena diperlakukan seperti ini. Saya tidak berani membayangkan hancurnya perasaan orangtua saya. Siapa pun, apa pun tidak bisa membuat saya mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan,” tutur Jessica.

Leave a Reply

Your email address will not be published.