Sidang Kasus Sianida Terdakwa Jessica Kumala Wongso

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Sidang Kasus Sianida Terdakwa Jessica Kumala Wongso




Image via http://www.lensaremaja.com

Jakarta, Jelasberita.com | Perjalanan sidang kasus sianida terdakwa Jessica Kumala Wongso, atas pembunuhan Wayan Mirna Salihin memasuki babak baru, Jessica pada sidang ke-27, jaksa penuntut umum (JPU) akan membacakan tuntutan terhadap terdakwa kasus pembunuhan Mirna. Otto Hasibuan, selaku kuasa hukum Jessica, meyakini jika kliennya tidak berasalah. Otto menjelaskan, akan terkejut bila nantinya jaksa akan menuntut maksimal Jessica.

“Kalau jaksa benar menuntut mati yang saya pikirkan jaksa ini pakai rumus apa?” tutur Otto, Rabu (5/10/2016).

Banyak orang penasaran akan hukuman yang akan diterima Jesicca, termasuk ayah korban, Edi Darmawan Salihin. Ayah Mirna mengaku hanya bisa pasrah, terhadap materi tuntutan yang bakal dibacakan oleh JPU di dalam persidangan. Darmawan tetap berdoa agar mendapatkan keadilan, atas kematian anaknya Mirna. Dari hasil persidangan ini, Darmawan berharap kasus sianida tersebut dapat dijadikan pelajaran berharga.

“Pasrah ya, kita bisa apa, banyak-banyak ingat Tuhan. Banyak-banyak ingat Tuhan. Semoga ada hikmah di balik kejadian ini ” tutur Darmawan, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (5/10/2016).




Kasus kematian Mirna, merupakan kasus sianida yang pertama sekali terjadi di Indonesia. Mirna meninggal usai minum es kopi Vietnam yang dipesankan Jessica di Kafe Olivier, Jakarta Pusat, pada 6 Januari 2016 lalu telah menjadi atensi publik. Mirna diduga tewas akibat racun sianida yang terdapat di dalam kopi tersebut.

Otto menjelaskan, belum adanya hal yang bisa memperlihatkan gerakan Jessica, menaruh racun di tubuh Mirna. Zat sianida di tubuh Mirna berdasarkan keterangan saksi, ada kemungkinan muncul akibat jasat Mirna sudah dikubur selama 3 hari dalam tanah.

“Jadi kalau tidak ada sianida tidak bisa bayangkan bagaimana jaksa merumuskan itu untuk menyatakan Jessica pembunuh,” tutur Otto.

Jessica sendiri didakwa telah melakukan pidana dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Vonis maksimal untuk pasal tersebut adalah hukuman mati. Menurut Otto, Jessica sudah siap untuk mendengarkan tuntutan yang akan dibacakan dalam persidangan. Karena jaksa penuntut umum, hanya mendakwakan kepada kliennya dengan satu pasal tanpa subsidair.
“Ada 4 kemungkinan, pertama mati, kedua seumur hidup, atau tahunan, dan bisa juga bebas. Jadi bagi kami seharusnya jaksa tuntut bebas. Kalau pun mati atau seumur hidup kami akan lakukan pembelaan pada tanggal 12 Oktober,” tutur Otto.

Otto myakini bahwa Jessica tidak pantas untuk menjalani hukuman mati. Karena selama persidangan yang sudah dilakukan selama kurang lebih empat bulan, jaksa belum bisa mengungkap motif pembunuhan. Karena seharusnya pembunuhan berencana harus disertai dengan motif.

“Dia kan sudah mengalami 4 bulan di sel tikus, pasti dia menghadapi ini lebih kuat. Jaksa kan bebas tuntut saja, kita siapkan kemungkinan terburuk, tapi siap-siap juga untuk kemungkinan terbaik dari hakim nanti artinya bebas. Putusan kan sudah di tangan hakim,” tutur Otto.

Jaksa menuturkan dalam dakwaannya, bahwa Jessica telah menabur racun natrium sianida (NaCN) ke dalam gelas berisi Vietnamese Iced Coffee (VIC) yang akan disajikan untuk Mirna. Mirna mengalami pingsan dan kejang-kejang tidak lama kemudian setelah meminum kopi tersebut. Setelah dibawa ke RS Abdi Waluyo, Mirna dinyatakan meninggal dunia. Jaksa Nasrun, Aspidum Kejati DKI Jakarta, tetap berkeyakinan bahwa Jessica melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

“Sejauh ini kami yakin yang bersangkutan melanggar pasal 340 KUHP,” tutur Nasrun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.