KIK-DIRE, Peluang Investasi di Industri Properti

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Foto : Bisnis.com
Foto : Bisnis.com

Jakarta, Jelasberita.com | Berinvestasi di properti selama ini membutuhkan dana yang besar karena nilai properti yang tinggi. Tetapi dengan hadirnya produk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Dana Investasi Real Estat (KIK-DIRE) di pasar modal Indonesia, masyarakat umum bisa ikut berinvestasi di industri properti.

KIK- DIRE hampir sama dengan reksa dana, ditawarkan dalam bentuk unit penyertaan yang nilainya relatif terjangkau. KIK-DIRE dikenal juga sebagai REIT (Real Estate Investment Trust), merupakan salah satu sarana investasi baru yang secara hukum di Indonesia berbentuk KIK (Kontrak Investasi Kolektif). DIRE diartikan sebagai kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan Manajer Investasi akan diinvestasikan ke bentuk aset properti dengan membeli gedung-gedung sebagai portofolio-nya.




Dalam peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebutkan, KIK-DIRE diwajibkan menginvestasikan minimum 80% dari dana kelolaannya ke real estate dan aset yang berkaitan dengan real estate di mana minimum 50% nya harus berbentuk aset real estate langsung. KIK-DIRE tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seperti saham, KIK-DIRE memberikan dividen secara berkala kepada investornya.

Secara definisi hukum, DIRE merupakan Dana Investasi Real Estat adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan pada aset Real Estat, Aset Yang Berkaitan Dengan Real Estat, dan/atau kas dan setara kas.

Dalam Paket Kebijakan Ekonomi Pemerintah Nomor 5 yang disampaikan tahun lalu, salah satu bagiannya mencakup insentif perpajakan untuk produk pasar modal Indonesia. Kebijakan di sektor ini diberikan karena produk pasar modal Indonesia masih relatif terbatas. Nilai kapitalisasi BEI relatif kecil dibanding negara-negara tetangga. Untuk itu perlu dikembangkan produk-produk baru. Salah satunya yang secara tegas disebutkan dalam Paket Kebijakan Ekonomi V adalah KIK-DIRE dan sejenisnya, yang sejalan dengan upaya pendalaman pasar keuangan.

Pada tanggal 29 Maret 2016, Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi XI dimana salah satunya adalah memberikan insentif bagi produk DIRE. Adapun pokok-pokok kebijakan adalah pemberian fasilitas Pajak Penghasilan final berupa pemotongan tarif yang semula 5% menjadi 0,5% dari nilai transaksi dan penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai Insentif dan Kemudahan Investasi di Daerah yang antara lain mendorong penurunan tarif Bea Perolehan Hak Atas Tanah atau Bangunan (BPHTB) untuk pengalihan hak atas tanah dan bangunan yang menjadi aset DIRE dari maksimum 5% menjadi lebih rendah.




 

Untuk mendorong produk DIRE di Indonesia, yang secara otomatis ikut mendorong industri properti, pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi memberikan pengurangan pajak, yaitu dengan menghilangkan adanya double tax pada transaksi KIK DIRE. Kebijakan ini diharapkan bisa menarik dana yang selama ini diinvestasikan di luar negeri (tax-haven country) ke pasar sektor keuangan dalam negeri, di samping mendorong pertumbuhan investasi di bidang infrastruktur dan real estate.

 

Dampak positif dari fasilitas perpajakan ini adalah meningkatnya akumulasi dana KIK DIRE, mendorong tumbuhnya pembangunan infrastruktur dan real estate, serta tumbuhnya jasa konstruksi. Tak kalah penting adalah meningkatnya PPh dari kegiatan usaha tersebut.

 

Salah satu manajer investasi yang telah meluncurkan produk DIRE di pasar modal Indonesia adalah PT Ciptadana Asset Management dengan underlying asset Solo Grand Mall.

 

Sesuai dengan peraturan No I.O ketentuan No III, Bursa menetapkan persyaratan DIRE, yakni aset Real Estat yang menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan (recurring income), penerbit telah mendapatkan pernyataan efektif pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum oleh KIK-DIRE dari OJK. Syarat lainnya, nilai aset yang akan menjadi portofolio awal dari KIK-DIRE paling kurang sebesar Rp50 miliar. Jumlah Unit Penyertaan yang dimiliki oleh pemegang Unit Penyertaan terbesar paling banyak sebesar 75% dari total Unit Penyertaan KIK-DIRE yang akan diterbitkan Jumlah pemegang Unit Penyertaan setelah Penawaran. Selain itu, jumlah pemegang Unit Penyertaan setelah Penawaran Umum paling sedikit 100 pemegang Unit Penyertaan KIK-DIRE.

DIRE IDX

Bagi penerbit KIK-DIRE kehadiran produk ini menguntungkan karena akan memperoleh pendanaan baru untuk ekspansi, mengubah aset tidak likuid menjadi likuid, dan memperoleh insentif pajak. Sementara bagi investor, produk KIK-DIRE menjadi diversifikasi investasi, perlindungan terhadap inflasi, menjadi sumber pendapatan, dan produk yang likuid. Sebagai antisipasi risiko, investor yang berinvestasi pada produk KIK-DIRE terutama harus mencermati kondisi pasar properti di Indonesia, kondisi pasar modal Indonesia, arus kas yang dibagikan, dan kualitas aset.

Market Cap REIT di dunia di dominasi oleh Amerika Serikat (AS) yang mencapai US$ 960 miliar pada Oktober 2015, melebihi kapitalisasi pasar REIT zona Euro dengan Market Capitalization REIT US$180 miliar. Data Bank Indonesia menyebutkan pasar properti di Indonesia selalu mengalami pertumbuhan seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dimana pertumbuhan luasan perkantoran dan ritel rata-rata sebesar 4,09% dari tahun 2010 -2014. Harga sewa perkantoran dan ritel selalu naik rata-rata sebesar 10,18%. Pengembang properti akan mendapatkan pertumbuhan pendapatan karena harga sewa properti di atas pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia jumlah rumah sakit ada sebanyak 2.461 dimana 805 milik swasta. (TIM BEI)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.