Uang Rp 250 M Hasil Korupsi Fuad Amin Masuk Kas Negara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  






Image Via hidayatullah.com

Jakarta, Jelasberita.com|Uang sebesar Rp 250 miliar milik mantan Bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron, dirampas untuk negara. Merupakan hasil dari penangkapan Rp 700 juta. Aset dirampas setelah adanya putusan kasasi yang diajukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terkait kasus korupsi yang menjerat Amin. Jaksa KPK akhirnya menyerahkan uang milik Fuad Amin tersebut ke kas negara.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha mengatakan eksekusi dilakukan karena putusan telah berkekuatan hukum tetap, di Gedung KPK, Jakarta. Putusan Mahakamah Agung dikeluarkan pada 29 Juni 2016. Sebelumnya, Fuad Amin telah dieksekusi ke Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/7/2016).




Fuad Amin saat masih menjabat sebagai Bupati Bangkalan terbukti korupsi. Fuad terbukti menerima uang dari pimpinan PT Media Karya Sentosa (MKS) Antonius Bambang Djatmiko sebesar Rp 18,05 miliar. Fuad rutin mendapat setoran bulanan dari PT MKS sekitar Rp 600 juta atau Rp 700 juta sejak awal 2014.

Untuk mengambil uang tersebut Fuad mempunyai kurir bernama Rouf yang merupakan adik iparnya. Bambang juga mempunyai kurir bernama Sudarmono. Teknik penyerahan uang jatah bulanan tersebut. Disepakati akan diserahkan di parkiran gedung di Pela Mampang, Jakarta Selatan.

KPK yang telah memantau penyerahan uang langsung menggerebek mereka. Tidak ingin kehilangan jejak, tim KPK mengejar Bambang dan terbang ke Bangkalan. Sedangkan Fuad ditangkap di rumahnya dan menemukan uang cash sebesar Rp 700 juta di dalam mobil dan Rp 300 juta yang disembunyikan di belakang lukisan.

Bambang memberikan uang suap supaya Fuad sebagai Bupati Bangkalan memuluskan perjanjian konsorsium kerja sama antara PT MKS dan PD Sumber Daya, serta memberikan dukungan untuk PT MKS kepada Kodeco Energy terkait permintaan penyaluran gas alam ke Gili Timur.




Dia juga mencuci uang dari hasil kejahatan korupsi. Pencucian uang dilakukan dengan cara mengalihkan harta kekayaannya ke sejumlah rekening di bank. Fuad di dalam persidangan terungkap menggunakan identitas berbeda untuk membuka sejumlah rekening di bank.

Selain menggunakan identitas dengan nama sendiri, Fuad juga menggunakan identitas orang lain dalam membuka rekening untuk menyimpan harta kekayaannya. Terdapat juga pembelian sejumlah aset yang diatasnamakan istri dan anak Fuad seperti tanah dan bangunan serta mobil.

Sebelumnya, Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut KPK terhadap putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Hakim akhirnya membatalkan putusan pengadilan Tipikor pada PT DKI Jakarta. MA menghukum Fuad Amin dengan hukuman 13 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 5 miliar subsidair kurungan 1 tahun. Terdapat juga pidana tambahan berupa pencabutan hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang undangan, selama 5 tahun terhitung sejak terdakwa selesai menjalani pidana penjara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.