Anggap sebagai Faktor, DPR Singgung Pengeras Suara Tempat Ibadah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




tempat ibadah

Sebelumnya telah beredar wacana mengenai pengaturan terhadap penggunaan pengeras suara di tempat ibadah setelah lama tak terdengar lagi kelanjutannya. Namun kini telah mencuat lagi setelah berkaca dari kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara karena diduga kerusuhan telah dipicu oleh persoalan pengeras suara.




Maman Imanulhaq, anggota Fraksi VIII DPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mengatakan perlunya pengaturan terhadap pengeras suara di tempat-tempat ibadah. Karena menurutnya hal itu yang paling sering menjadi pemicu gesekan di masyarakat.

Harapan Maman, tidak ada lagi konflik di kemudian hari akibat persoalan ini setelah pengaturan terhadap pengeras suara ditetapkan.

Maman memandang, kegiatan keagamaan dari umat manapun harusnya dilakukan tidak secara berlebihan dengan membuat suara yang begitu keras sehingga mengganggu umat agama lain dalam hal ini pengeras suara dapat dicontohkan sebagai salah satu hal yang dapat mengganggu tersebut.

Melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 telah menetapkan mengenai aturan bagaimana penggunaan pengeras suara ke luar. Yaitu suara yang dihasilkan tidak ditinggikan sehingga menghilangkan simpati pihak lain dan hal ini berlaku hanya pada kumandang Azan.




Sementara pengeras suara dalam hanya dibolehkan untuk penggunaan kegiatan-kegiatan agama lain seperti khutbah dan doa.

“panggilan azan jangan sampai menghasilkan ‘polusi suara’ karena beberapa pihak ada yang mengeraskannya sehingga memunculkan antipati dari umat agama lainnya. Sebaiknya azan dilakukan oleh muadzin dengan suara merdu, dan dengan pengeras suara yang tidak berlebihan volumenya,” terang Maman.

Menurut Maman, sosialisasi mengenai istruksi Dirjen Bimas Islam kurang disampaikan kepada masyarakat. Harusnya pengaturan terhadap pengeras suara di tempat ibadah dirumuskan lebih detail dan diterapkan lebih tegas lagi.

“Tak akan ada aturan yang dapat menyelesaikan masalah bila tak ada rasa saling menghargai, memahami, dan menghormati antar pemeluk agama sebagai tindakan toleransi. Hanya itu kuncinya,” tutup Maman.

Minggu lalu Tanjung Balai berubah menjadi mencekam saat sebuah vihara dibakar oleh massa yang disinyalir merupakan jemaah mesjid. Hal ini dipicu karena kesalah pahaman dan provokasi yang membabi buta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.