Yuk Sukseskan Amnesti Pajak!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Amnesti pajak

Jakarta, Jelasberita.com | Kebijakan Amnesti Pajak yang telah bergulir sejak awal bulan Juli ini adalah sejarah baru bagi pengelolaan perpajakan di republik ini. Tidak sedikit pihak yang berpandangan pesimis dan sinis terhadap kebijakan ini, namun tidak sedikit pula yang mengharapkan kesuksesannya. Berdasarkan Undang-Undang (UU) yang telah disahkan, Amnesti Pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai Sanksi administrasi perpajakan dan Sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa UU ini berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia, tidak terbatas pada pengusaha kaya saja namun juga untuk seluruh kalangan termasuk kalangan UKM dan pekerja.




Jika diperhatikan, pada prinsipnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (UU Perpajakan) menjelaskan bahwa setiap Wajib Pajak (WP) yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak. WP adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pajak adalah salah satu instrumen yang digunakan negara untuk menghimpun dana pembangunan, oleh karenanya dalam pajak pun terdapat sifat yang memaksa kepada warga negaranya untuk melaksanakan ketentuan perpajakan. Saat ini, dari jumlah penduduk Indonesia yang memiliki penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) ada sebanyak 44,8 juta, namun baru 26,8 juta orang yang terdaftar sebagai WP dan dari jumlah tersebut hanya 10,3 juta WP yang menyampaikan SPT. Selain itu dari 1,2 juta Perusahaan yang terdaftar sebagai Wajib Pajak Badan, hanya sekitar 45,8% atau 550 ribu Perusahaan yang menyampaikan SPT.

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penopang penerimaan negara adalah berasal dari penerimaan pajak yang menyumbang sekitar 70% dari seluruh penerimaan negara. Pajak memiliki peran yang sangat vital bagi negara, tanpa pajak kehidupan negara tidak bisa berjalan dengan baik. Pembangunan infrastruktur, biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya layanan publik dan keamanan, serta pembangunan fasilitas publik lainnya semua dibiayai dari pajak. Semakin banyak pajak, semakin banyak fasilitas dan infrastruktur publik yang dibangun.

Namun, mungkin masih terdapat masyarakat yang belum patuh dan membayar pajak karena takut, keberatan dan alasan lainnya. Banyak pertanyaan masyarakat, contohnya bagaimana jika diperiksa? Bagaimana jika uang saya hilang? Jika saya tidak ikut, toh tidak akan ketahuan?




Padahal telah banyak jawaban dari keraguan tersebut pada UU terkait Amnesti Pajak, salah satunya penghentian pemeriksaan pajak, serta jaminan kerahasiaan data yang tidak akan bocor oleh dan kepada siapapun. Kemudian, jika WP mengikuti Amnesti Pajak dan memperoleh Surat Keterangan dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP), maka WP berhak memperoleh beberapa fasilitas. Pertama, penghapusan pajak terutang yang belum diterbitkan ketetapan pajak. Kedua, penghapusan sanksi administrasi perpajakan. Ketiga, tidak dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.

DJP telah menyiapkan aplikasi dan mekanisme yang menjamin keamanan dan kenyamanan WP untuk ikut Amnesti Pajak. Bagi DJP, keamanan data WP menjadi faktor paling utama dan krusial dalam mendukung pelaksanaan dan kesuksesan Amnesti Pajak.

Kebijakan Amnesti Pajak ini turut mendapatkan dukungan dari berbagai instansi terkait. Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan secara bersama-sama telah membuat pernyataan dukungan yang menyatakan komitmen ketiga instansi untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Amnesti Pajak.

Apabila WP tidak juga mau mengakui dan melaporkan seluruh hartanya, maka cepat atau lambat DJP akan mengetahui harta tersebut. Hal ini didukung dengan adanya Automatic Exchange of Information (AEOI) dan revisi UU Perbankan untuk Keterbukaan Data Bagi Perpajakan paling lambat di tahun 2018.

Setelah semua pengamanan untuk menjamin kerahasiaan data yang telah dibuat dalam mekanisme Amnesti Pajak, apabila WP tidak juga melaporkan seluruh hartanya dan DJP menemukan harta yang masih belum diungkapkan, maka mereka akan mendapatkan konsekuensi yang berat yaitu dikenakan PPh terutang dan ditambahkan dengan Sanksi 200%!

Untuk mendukung kelancaran kebijakan Amnesti Pajak, di samping menunjuk sejumlah institusi  perbankan lokal maupun asing sebagai bank persepsi dan pengelola dana repatriasi, pemerintah melalui Kementerian Keuangan turut menetapkan 19 perusahaan efek menjadi pengelola dana repatriasi. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, ‎ke-19 perusahaan efek merupakan perusahaan yang telah memenuhi beberapa kriteria yang ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. Rencananya, ke-19 perusahaan efek tersebut akan membuka stan guna mendukung pelaksanaan dan sosialisasi kebijakan Amnesti Pajak di gedung BEI. “Sudah 19 broker ditunjuk sesuai kriteria kementerian, dan mereka akan buka booth selama 1 bulan di BEI,” ungkap Tito Sulistio.

Ke-19 perusahaan efek tersebut adalah PT Sinarmas Sekuritas,  PT Panin Sekuritas, PT CLSA Indonesia,  PT Mandiri Sekuritas, PT CIMB Securities Indonesia, PT ‎Trimegah Securities Tbk, PT RHB Securities Indonesia, PT Daewoo Securities Indonesia, PT Bahana Securities, PT Indo Premier Securities, PT UOB Kay Hian Securities, PT BNI Securities, PT Sucorinvest Central Gani, PT Danpac Sekuritas, PT Panca Global Securities Tbk, PT MNC Securities, PT Pacific Capital, PT Mega Capital Indonesia dan PT Pratama Capital Indonesia. Perusahaan efek ini akan membantu WP yang ikut Amnesti Pajak dalam pengelolaan dananya ke berbagai investasi sesuai peraturan perundang-undangan seperti saham, obligasi, reksa dana, atau produk investasi lainnya.

Jadi, tunggu apalagi, Yuk Sukseskan Amnesti Pajak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.