Warga RI Makin Miskin Dibuat Rokok Hingga Tahu Tempe

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





komoditas.co.id
komoditas.co.id

Medan, Jelasberita.com| Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan garis kemiskinan sebesar 2,17 persen dari Rp 344.809 per kapita per bula pada September 2015 menjadi Rp 354.386 per kapita per bulan di Maret 2016. Komoditas makanan menjadi penyumbang terbesar peningkatan garis kemiskinan, terutama rokok filter.

“Per Maret ini, sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan secara nasional mencapai 73,50 persen dan non makanan 26,50 persen,” ujar dia saat Rilis Profil Kemiskinan di kantornya, Jakarta, Senin (18/7/2016).




Kepala BPS, Suryamin mengungkapkan bahwa peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Ada 10 komoditi makanan dan 6 komoditi bukan makanan yang berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan di Maret 2016. Rinciannya:

  1. Beras

Perkotaan 21,55 %

Pedesaan 29,54 %

  1. Rokok Kretek Filter

Perkotaan 9,08 %




Perdesaan 7,96 %

  1. Telur ayam ras

Perkotaan 3,66 %

Pedesaan 3,02 %

  1. Daging ayam ras

Perkotaan 3,01 %

Pedesaan 1,68 %

  1. Mie instan

Perkotaan 2,80 %

Pedesaan 2,43 %

  1. Gula pasir

Perkotaan 2,14 %

Pedesaan 2,99 %

  1. Roti

Perkotaan 2,14 %

Pedesaan 2,99 %

  1. Bawang Merah

Perkotaan 1,82 %

Pedesaan 2,26 %

  1. Tempe

Perkotaan 1,80 %

Pedesaan 1,67 %

  1. Tahu

Perkotaan 1,75 %

Pedesaan 1,51 %

  1. Komoditi Lainnya

Perkotaan 20.38 %

Pedesaan 22,69 %

  • Komoditi Non Makanan:
  1. Perumahan

Perkotaan 9,76 %

Pedesaan 1,54 %

  1. Listrik

Perkotaan 2,96 %

Pedesaan 1,54 %

  1. Bensin

Perkotaan 2,95 %

Pedesaan 2,33 %

  1. Pendidikan

Perkotaan 2,37 %

Pedesaan 1,36 %

  1. Perlengkapan Mandi

Perkotaan 1,49 %

Pedesaan 1,11 %

  1. Angkutan

Perkotaan 1,18 %

Pedesaan 0,56 %

  1. Komoditi lainnya

Perkotaan 9,29 %

Pedesaan 8,10 %

“Rokok kretek filter ini tidak punya kalori, tapi komoditi ini menjadipengeluaran masyarakat sehingga tetap dihitung walaupun tidak menghasilkan kalori. Coba kalau ini dikurangi jadi makanan yang menghasilkan kalori, pendapatan masyarakat bisa lebih tinggi,” jelas Suryamin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.