Jalan-jalan Kepapua jangan Lupa membeli Oleh-oleh yang ramah Lingkungan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Kompas.com

Medan, Jelasberita.com| Jika anda jalan-jalan atau sedang berada di papua pastinya anda ingin membeli oleh-oleh yang khas dari daerah ujung timur Indonesia ini. Jadi anda bisa datang kekampung Yenmanaina dan Pasi, yang berada di Kepulauan Padaido, Kambung Biak, Papua. Di sana anda akan menemukan ibu-ibu yang sedang mengayam lidi untuk di jadikan piring, tas sampai tifa. Produk ramah lingkungan ini dibuat dengan tangan oleh ibu-ibu rumah tangga yang ada di papua.




“Saya belajar ini dari melihat ibu lain, waktu itu ada pelatihan dari kelompok Gereja,” ungkap Mama Yuliana, salah satu perajin produk kerajinan berbahan lidi ini.

Dengan cekatan mama Yuiana membuat sebuah piring makan dari bahan lidi segar yang diambil dari pohon kelapa di depan rumahnya. Lalu mama Yuliana membagi-bagi sejumlah lide segar sembari menghitung agar membentuk konfigurasi dari teknik silang menyilang lidi.

Alat yang di butuhkan mama Yuliana pun sangat sederhana, yakni, tali dari serat kayu dan gunting. Kerajinan ini tidak menggunakan lem dan bahan plastic yang susah untuk di uraikan nantinya jika sudah jadi limbah. Kerajinan ini hanya berlimbahkan ujung-ujung lidi yang tak terpakai. Sangat ekonomis dan ramah lingkungan.

Kompas.com
Kompas.com

Tak sampai satu jam ayaman mama Yuliana telah jadi. Dari segenggam lidi kini menjadi piring makan yang tinggal di beri alas jika ingin menggunakannya. Harga selusin piring makan untuk kerajinan piring ini di hargai Rp 200.000, terhitung murah untuk prosesnya yang rumit, memerlukan waktu dan tenaga.




Namun Mama Yuliana dan ibu-ibu di sekitar kampung tersebut masih sangat sulit untuk mempromosikan produk-produknya tersebut. Sehingga tak heran saat ingin membeli tifa atau tas anyaman dari lidi stoknya sangat terbatas.

Sampai saat ini menurut penuturan ibu Yuliana hanya ibu Camat saya yang jadi costumer. Jadi Mama yuliana dan ibu-ibu lainya berharap besar akan wisatawan local dan mancanegara untuk membeli produk kerajinan buatan sendiri. Namun apa daya, kampungnya bahkan belum di aliri listrik dan masih sulit akses masuknya

Leave a Reply

Your email address will not be published.