INDONESIA AKAN “IMPOR” REKTOR?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Foto: Koran sindo
Foto: Koran sindo

MEDAN, Jelasberita.com | Budaya impor masih sangat melekat di Indonesia. Sebut saja seperti beberapa bahan pokok. ‘Kebiasaan’ pemerintah mengimpor barang ini tentu tidak lepas dari perhitungan kebijakan dari pemerintah indonesia itu sendiri. Biasanya barang-barang yang di impor oleh pemerintah Indonesia sebagian besar berkomoditas di bidang peningkatan ekonomi dan pangan. Namun ada beberapa wacana yang mengatakan bahwa akan di adakannya import ‘rektor’.

Pemerintah lewat Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir, mewacanakan impor rektor guna memperbaiki rangking dunia yang dianggap sebagai ukuran kualitas pendidikan di level perguruan tinggi Indonesia. Pernyataan tersebut diutarakannya usai mengunjungi Universitas Negeri Surabaya, Kamis (02/06/2016).




Namun hal ini langsung dibantah dan di perbaiki oleh kementrian Menristekdikti, Mohamad Nasir sendiri. Nasir menjelaskan bahwa tiap-tiap rektor PTN harus bisa memposisikan diri seperti rektor asing di kelas dunia.  “Bukan mendatangkan rektor asing,” ujar Nasir di komisi X DPR, Senayan, Jakarta, kamis (09/06/2016).

Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), hal ini dianggap perlu karena dapat mendorong rector PTN untuk memiliki pemikiran selevel dengan rector yang ada di luar negeri di kampus kelas dunia.

Ketika memasuki era MEA persaingan akan sangat penting dan ketat. Orang-orang luar akan menilai seberapa bagus dan seberapa baik universitas yang ada di Indonesia. Karena menurut hasil survey terbaru dari QS World University Rakings tentang Top Universities in the World 2015/2016, Indonesia menempati urutan 358 (Universitas Indonesia). Menurun dari peringkat 310 (Universitas Indonesia) pada Top Universities in the World 2014/2015. Survey tersebut melibatkan 891 universitas di dunia.

Pemerintahan Indonesia berharap bahwa perguruan tinggi di Indonesia melihat kedepan dengan cara membandingkan, apa ya beda kami (Universitas dalam negeri) dengan mereka (Universitas asing yang maju)? “Kok bisa cepat lari ke 500 besar, gimana caranya? “ ujar Nasir.




Di harapkan setelah rektor-rektor di universitas yang ada di Indonesia memiliki pemikiran dan wawasan yang sama dengan rector kampus yang ada di luar negeri maka, dapat mempercepat  PTN masuk kelas dunia dan adanya peningkatan daya saing dalam bekerja setelah “dilepas” nantinya di dunia kerja MEA. (ruth)

Leave a Reply

Your email address will not be published.