Beda Saham “Blue Chip & Second Liner”

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Foto : Bisnis.com
Foto : Bisnis.com

Jakarta, Jelasberita.com | Pada edisi sebelumnya telah dibahas tentang pengertian saham dan jenis-jenisnya. Begitu pula dengan strategi diversifikasi investasi khususnya di pasar modal. Melanjutkan tema tadi, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di pasar saham, ada baiknya calon pemodal mengenali dulu beberapa pengkategorian saham yang ada di bursa saham. Ini penting agar calon pemodal tidak salah pilih.

Saat ini terdapat 526 saham emiten yang bisa menjadi pilihan investor di pasar sekunder bursa. Tapi tidak seluruhnya aktif diperdagangkan, sebagian bahkan tergolong saham “tidur” alias tidak pernah di transaksikan alias tidak likuid. Tentu investor akan kesulitan untuk memperjualbelikan saham yang kurang likuid tersebut. Kecuali bila Anda hanya mengharapkan dividen, tidak salah juga mengoleksinya dengan catatan saham-saham tadi punya reputasi rajin membagikan dividen.




Terdapat tiga kategori saham yang dikenal di bursa, yakni kelompok saham lapis pertama (first liner) atau biasa disebut blue chip, lalu saham lapis kedua (second liner), dan saham lapis ketiga (third liner).
Pembagian itu dilakukan berdasarkan tingkat likuiditasnya. Biasanya semakin banyak saham beredar sebuah perusahaan, maka akan semakin likuid pula sahamnya di transaksikan. Bukan itu saja, faktor kapitalisasi pasar serta reputasi perusahaan juga menjadi penentu untuk masuk dalam saham golongan tertentu.

Bursa Amerika Serikat, New York Stock Exchange memberi gambaran khusus tentang saham blue chip yang merupakan saham dari perusahaan dengan reputasi nasional untuk kualitas, kehandalan dan kemampuannya untuk beroperasi secara menguntungkan dalam situasi perekonomian yang baik ataupun buruk. Indeks yang merepresentasikan saham blue chip di AS adalah DJIA (Dow Jones Industrial Average) yang terdiri dari 30 saham yang merupakan pemimpin pada industri masing-masing.

Di BEI representasi saham-saham blue chip biasanya dapat dilihat pada konstituen LQ-45 atau yang diperdagangkan di papan utama seperti saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan masih banyak lagi.

Jadi bisa disimpulkan, selain memiliki tingkat likuditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi, saham kategori blue chip dinggap memiliki kinerja dan fundamental yang baik serta punya potensi pertumbuhan yang konsisten naik di masa datang. Apalagi sebagian besar merupakan pemimpin pasar di industrinya. Karena itu saham-saham blue chip biasanya menjadi pilihan bagi investor yang berorientasi jangka panjang.




Adapun untuk saham second liner dan third liner bursa AS tersebut tidak menyebut pengertiannya. Namun dapat diyakini saham yang masuk ketegori second liner dan third liner merupakan saham-saham dari perusahaan berkapitalisasi kecil (small cap) atau berorientasi growth investing. Saham ketegori ini dicatatkan di papan pengembangan BEI.

Khusus saham second liner biasanya tingkat keaktifannya relatif stabil di lantai bursa tetapi tidak menutup kemungkinan ada saham lapis kedua yang sangat aktif diperdagangkan. Contohnya: PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan banyak lagi. Sementara third liner memiliki kapitalisasi pasar yang sangat rendah sehingga harganya pun pada umumnya cenderung murah.

Agar lebih spesifik, penggolongan saham dapat dilihat berdasarkan gambaran tingkat kapitalisasi pasar berikut, yakni untuk blue chip biasanya dikategorikan saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun, sementara second liner tingkat kapitalisasinya bisa antara Rp500 miliar hingga Rp10 triliun. Sementara saham third liner memiliki kapitalisasi pasar di bawah Rp500 miliar.

Namun perlu diketahui, bahwa saham yang berada di lapis pertama bukan berarti saham itu adalah saham unggulan, seringkali saham di lapis kedua dan ketiga pun bisa menjadi saham yang cukup diunggulkan tergantung situasi ekonominya dan rencana aksi korporasi. Perhitungan tersebut hanya untuk memudahkan kita dalam mengambil keputusan investasi. (Tim BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.