Rebut Manfaat Berinvestasi dengan Strategi Diversifikasi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




pilihan tepat investasi

Jakarta, Jelasberita.com | Semua orang yang melakukan investasi pada dasarnya mengharapkan keuntungan yang bermanfaat pada masa datang atas investasi yang ditanamnya saat ini. Tapi harus disadari juga bahwa setiap usaha untuk meraih keuntungan akan berhadapan dengan berbagai risiko. Jadi tidak satupun instrumen investasi yang bebas risiko. Demikian juga dengan berinvestasi di pasar modal, di antara potensi keuntungan yang membentang juga melekat risiko investasi.




Sebagai investor, tentu Anda ingin agar manfaat atau keuntungan yang diperoleh lebih besar, sementara dari sisi risiko harus ditekan seminimal mungkin. Ini terpulang bagaimana investor bisa dengan bijak dan cermat dalam mengelola portofolio investasinya. Salah satu strategi penting pengelolaan portofolio di pasar modal yaitu melakukan diversifikasi investasi.

Sebagaimana diketahui, terdapat beragam produk investasi yang tersedia di pasar modal. Masyarakat bisa melakukan investasi langsung pada produk saham dan obligasi atau surat utang baik yang diterbitkan oleh perusahaan maupun pemerintah. Bisa juga pada produk-produk reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi. Selain itu tersedia produk-produk derivatif atau produk turunan seperti Kontrak Opsi Saham, LQ-45 Future dan lainnya. Masing-masing produk memiliki keunggulan dan tantangan berbeda-beda.

Dengan menggunakan strategi diversifikasi, investor berpeluang meraih manfaat maksimal melalui semua produk yang tersedia tadi. Caranya, aset investasi Anda sebaiknya disebar pada masing-masing produk yang porsinya (persentasenya) disesuaikan dengan karakter investasi Anda. Karakter investasi seseorang tentu saja berbeda-beda, yang secara umum terbagi tiga macam, yaitu agresif, moderat atau konservatif.

Dunia investasi tidak lepas dari prinsip high risk, high return. Artinya masing-masing produk memiliki profil berbeda beda dari sisi keuntungan dan risikonya, umumnya berbanding lurus. Selain itu terdapat aspek tingkat likuiditas yang berbeda di antara masing-masing instrumen investasi.




Produk yang memiliki peluang untung besar juga memiliki risiko yang tinggi begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh, potensi return investasi di saham tentu saja berbeda dengan obligasi. Pada umumnya, saham memberikan return yang lebih besar daripada obligasi. Namun tentu saja risiko berinvestasi di saham lebih besar karena fluktuasi harga saham cenderung lebih besar daripada obligasi. Sementara aspek likuiduitas, artinya adalah kemudahan untuk membeli dan menjual sebuah instrumen investasi.

Contohnya instrumen saham umumnya lebih likuid karena bisa ditransaksikan setiap saat sementara ORI atau Sukuk sulit untuk dibeli setiap saat. Umumnya investor bisa memperoleh instrumen tersebut pada saat penawaran awal saja. Setelah itu, memang bisa dibeli pada pasar sekunder, namun hal ini tidak semudah transaksi saham. Reksa dana juga merupakan produk investasi yang likuid dan bisa dibeli atau dijual kapan saja. Kendati begitu, umumnya produk-produk pasar modal jauh lebih likuid dibanding instrumen investasi lain seperti properti, deposito maupun emas.

Nah kalau Anda tipikal investor agresif bisa mengalokasikan porsi dominan pada produk saham dan derivatif, lalu bila Anda tipikal investor moderat porsi obligasi terutama yang berbentuk Surat Utang Negara bisa diberi porsi lebih besar. Adapun kalau konservatif, reksa dana memberi porsi lebih akan lebih cocok bagi Anda.

Dengan membagi atau mengalokasikan aset pada beragam produk investasi berbeda, investor bisa meraih manfaat maksimal sekaligus meminimalkan risiko atas investasi yang ditanam. Sebab saat salah satu produk mengalami penurunan maka produk lainnya bisa menutupi kerugiannya. Jadi kembali lagi, pentingnya alokasikan investasi dengan membandingkan karakter suatu instrumen investasi dalam hal potensi return, risiko, dan likuiditas. (Tim BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.