Terima perlakuan tak enak dari guru, 444 website sekolah diretas siswa ini

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




website

Biasanya tindakan peretasan dilakukan oleh hacker sebagai ajang pembuktian diri bahwa mereka mampu menjebol sisitem keamanan sebuah website. Itulah yang dilakukan oleh siswa SMP dari Jepang.




Atas tindakannya ini ia membuat publik Jepang terkejut karena ini adalah kali pertama seorang remaja meretas website milik instansi negara tersebut. Bahkan yang lebih mencengangkan adalah bukan hanya satu yang diretas oleh remaja ini melainkan 444 website milik sekolah yang berada di satu wilayah dengan sekolahnya.

Ditanya alasannya ternyata semua karena pengajaran yang dilakukan sang guru pada remaja itu. Apa yang salah dengan ajaran gurunya? Ternyata remaja yang baru saja memasuki dunia SMA ini sempat mengalami tindakan kurang menyenangkan dari gurunya.

Ia merasa bahwa guru-guru tempat ia bersekolah selalu membatasi dirinya dan siswa lainnya dalam mengekspresikan diri dan kerap kali meremehkan diri mereka atas kemampuan yang mereka miliki. Tindakan peretasan ia ambil sebagai pembuktian pada masyarakat bahwa ia memiliki kemampuan.

“Aku benci pada guru-guru karena selalu meremehkan kami dan tak pernah mengijinkan membiarkan kami mengekspresikan diri sebenarnya. Jadi, peretasan ini adalah cara untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kekurangan. Menyenangkan rasanya melihat mereka bermasalah sekarang. Aku melakukannya beberapa kali,” ujar remaja tadi yang tidak dijelaskan identitas dirinya pada publik.




Dilansir oleh Techworm, peretasan dilakukan oleh seorang remaja laki-laki berumur 16 tahun asal Osaka pada 444 website sekolah dengan melancarkan serangan DDoS pada website sekolah. Tak hanya website jenjang SMP, termasuk pula website SD dan SMA di sekitar tempat tinggalnya.

Serangan ini dilakukan pada di bulan November 2015 lalu, saat ia masih menyandang sebagai siswa SMP. Namun polisi baru menangkapkany ketika ia sudah masuk SMA, pada 10 Mei lalu.

Barang-barang milik remaja tersebut yang ditahan oleh polisi antara lain komputer, dan beberapa buku peretasan. Ternyata anak laki-laki tersebut telah mengunduh program yang dibuat untuk menyerang DdoS. Program ini kemudian digunakan untuk disuntikan pada server Dinas Pendidikan Osaka selama 1 jam penuh. Setelah ia membanjiri server dengan program tadi dia hanya memantau hasil kerjanya dengan smartphone.

Sayang sekali, kemampuan anak ini disalahgunakannya dan tidak diarahkan ke hal yang lebih positif. Akibat perbuatannya remaja tadi harus dikenai denda sebesar lebih dari Rp 60 juta dan penjara maksimal 3 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.