Lebih Dekat dengan Instrumen Obligasi   

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




An employee polishes a Samsung Electronics Co. Galaxy Tab 10.1 tablet computer at the company's flagship store in Seoul, South Korea, on Thursday, July 26, 2012. Samsung, the world's largest maker of TVs and mobile phones, reported second-quarter profit that missed analysts' estimates after chip prices weakened and smartphone output failed to keep up with demand. Photographer: SeongJoon Cho/Bloomberg

Jakarta, Jelasberita.com | Dalam dunia bisnis, keuangan dan investasi, kata atau istilah obligasi seringkali disebut. Sebagian masyarakat juga kerap mendengar istilah itu. Namun tidak sedikit orang yang ternyata belum mengetahui apa sebenarnya obligasi tersebut. Tidak jarang juga yang menyamakan saham dengan obligasi. Padahal kedua surat berharga tersebut sangatlah berbeda. Bila saham merupakan bukti kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan, maka obligasi dapat didefinisikan sebagai instrumen hutang dalam bentuk sekuriti yang diterbitkan oleh pemerintah, korporasi, atau penerbit lainnya ditujukan untuk mengumpulkan dana.




Pihak korporasi atau swasta biasanya menerbitkan obligasi untuk tujuan ekspansi atau pengembangan usaha, ada juga dana yang dihimpun digunakan untuk membayar utang lainnya, baik utang yang akan jatuh tempo maupun utang yang dianggap berbunga tinggi. Sementara pemerintah menerbitkan obligasi, untuk keperluan pembiayaan pembangunan, sering juga untuk menutup defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara, termasuk membayar utang jatuh tempo negara.

Pertanyaannya, bisakah publik atau masyarakat memiliki atau membeli obligasi? Lalu apa benefitnya dan risikonya? Seperti halnya saham, obligasi juga diperdagangkan di pasar modal. Masyarakat bisa membelinya saat pertama kali obligasi diterbitkan (pasar perdana) atau setelah obligasi tersebut tercacat di Bursa Efek Indonesia (pasar sekunder). Landasannya tertera dalam UU RI No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, dimana obligasi disebut sebagai salah satu bagian dari efek yang diperdagangkan di bursa.

Adapun keuntungan bagi pemegang obligasi, yaitu penerbit obligasi akan membayarkan kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat jatuh tempo pembayaran. Jangan lupa, instrumen ini juga mengandung risiko, paling besar adalah ketika terjadi default dimana penerbit obligasi (biasanya korporasi) tidak mampu membayar bunga, bahkan nilai pokok dari obligasi.

Di pasar modal, perusahaan penerbit obligasi biasanya disebut dengan emiten obligasi. Saat ini terdapat lebih dari 500 seri surat utang negara dan korporasi yang diperdagangkan di pasar sekuder BEI. Sebagaimana telah disebutkan, masyarakat atau investor yang tertarik menjadikan obligasi sebagai investasi bisa membeli surat utang tersebut di bursa. Tentu saja terbuka kesempatan membelinya di pasar perdana. Namun sebelum memutuskan untuk membeli produk investasi ini, ada baiknya mempelajari secara detail potensi keuntungan maupun risikonya. Untuk memudahkan Anda menyelami obligasi, penting untuk mengetahui beberapa variabel obligasi.




Pada dasarnya, untung rugi berinvestasi di obligasi sangat ditentukan oleh dua variabel utama yang penting dalam transaksi obligasi bagi investor, yaitu harga obligasi dan yield. Harga obligasi adalah suatu harga apabila pemodal ingin membeli atau menjual obligasi di pasar modal baik melalui transaksi bursa maupun over the counter (OTC). Sementara yield merupakan istilah yang digunakan untuk pendapatan atau return yang akan diperoleh pemodal apabila ia menempatkan dananya pada obligasi.

Besarnya yield obligasi digunakan sebagai faktor pengukur tingkat pengembalian tahunan yang akan diterima. Ada dua istilah yang digunakan dalam penentuan yield. Currrent yield adalah yield yang dihitung berdasarkan jumlah kupon yang diterima selama satu tahun terhadap harga obligasi tersebut. Sementara itu yield to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo.

Besarnya bunga (kupon) yang ditawarkan pada obligasi korporasi biasanya tergantung pada tingkat rating (dihitung berdasarkan tingkat risiko penerbit). Makin tinggi rating obligasi maka makin rendah kupon yang diminta investor. Begitupula sebaliknya. Selain jumlah kupon, metode pembayaran obligasi korporasi bisa berbeda, terdiri dari obligasi dengan metode pembayaran bunga tetap (fixed rate), dimana jumlah bunga yang dibayarkan mulai dari penerbitan hingga jatuh tempo bernilai sama. Lalu bunga mengambang (floating rate).

Biasanya obligasi dengan bunga mengambang ini ditentukan relatif terhadap suatu patokan suku bunga misalnya 1% di atas JIBOR (Jakarta Inter Bank Offering Rate), 1,5% di atas LIBOR (London Inter Bank Offering Rate). Adapula dengan yang menggunakan metode pembayaran bunga campuran (mixed rate bond), di mana Bunga tetap ditetapkan untuk periode tertentu biasanya pada periode awal, dan periode selanjutnya menggunakan bunga mengambang.

Di atas sudah disebutkan selain perusahaan, negara pun menerbitkan surat utang. Peminatnya juga patut diperhitungkan. Lelang surat utang pemerintah ini sering mengalami oversubscribe atau kelebihan permintaan. Yang teranyar, pada 10 Mei 2016 pemerintah berhasil menyerap dana sebesar Rp6,15 triliun dari lelang lima seri Surat Utang Negara (SUN) yang terdiri dari SPN03160811 (tenor 3 bulan) dan SPN12170511 (tenor 1 tahun). Juga seri FR0053 (sisa tenor 5 tahun), FR0073 (sisa tenor 15 tahun), FR0072 (sisa tenor 20 tahun). Surat utang tersebut mengalami oversubscribe dari total penawaran yang masuk yang mencapai Rp13,43 triliun.

Berbeda dengan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang berjangka waktu kurang dari 12 bulan, Obligasi Negara merupakan SUN yang berjangka waktu lebih dari 12 bulan yang diterbitkan dengan kupon atau tanpa kupon. Berdasarkan pemberian kuponnya obligasi negara dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Obligasi negara dimaksud adalah obligasi fixed rate, obligasi variable rate, obligasi zero coupon dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI).

Jenis obligasi negara Fixed Rate (FR), merupakan obligasi dengan suku bunga tetap. Jenis obligasi ini selain memiliki jangka waktu di atas satu tahun, bunga dibayarkan setiap enam bulan. Sementara itu jenis obligasi negara lainnya, obligasi Variable Rate (VR) adalah obligasi dengan suku bunga mengambang yang disesuaikan dengan perubahan tingkat bunga SBI 3 bulan. Jenis obligasi ini memiliki jangka waktu di atas satu tahun dengan bunga yang dibayarkan setiap tiga bulan.

Obligasi Ritel Indonesia (ORI) adalah obligasi negara yang dijual kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui agen penjual dengan tingkat bunga tetap yang ditentukan pada saat lelang. Investasi minimum ORI adalah sebesar Rp5,0 juta dengan kelipatan Rp5,0 juta. ORI memberi imbal hasil berupa kupon, ibarat bunga deposito yang juga dibayar setiap bulan. Selain memperoleh kupon, investor juga berpotensi mendapat capital gain jika harga obligasi naik. ORI juga bisa diperdagangkan di pasar sekunder dengan kecenderungan harga lebih tinggi jika dibandingkan BI Rate.

Ada juga obligasi negara yang diperdagangkan secara diskonto dari nilai nominalnya dan tidak terdapat pembayaran bunga atau biasa disebut Obligasi Zero Coupon (ZC). Keuntungan yang diperoleh pemiliknya berasal dari diskon yang diberikan pemerintah pada saat penerbitan. (Tim BEI)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.