Persaingan layar AADC 2 dan Civil War senggol UU

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Civil War

Namun AADC 2 harus berebut layar dengan film blockbuster Hollywood yang juga ditunggu penggemar Marvel, Captain America: Civil War. Film yang menyuguhkan perang sipil antara Iron Man dan Captain America itu tayang sehari sebelumnya, Rabu (27/4).




Tidak main-main, Captain America: Civil War sebelumnya telah meluaskan promosi. Team Cap, yang terdiri atas Chris Evans (Captain America), Anthony Mackie (Falcon), Sebastian Stan (Winter Soldier), dan sutradara Joe Russo sampai menghampiri publik Asia Tenggara.

April ini ternyata melahirkan persaingan film antara Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) dengan film jebolan Box Office, Captain America: Civil War. Pasalnya, kedua film berbeda genre ini rilis hampir bersamaan.

Film AADC 2 merupakan film produksi dalam negeri dan sekuel dari film pertama berjudul sama yang dirilis hampir 14 tahun yang lalu. Tim produksi mengambil keputusan untuk merilisnya serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 28 April 2016. Namun, hampir bersamaan dengan itu, film produksi dari Marvel Comics dengan judul Captain America: Civil War dan juga merupakan sekuel dari film sebelumnya lebih awal tayang di tanah air yaitu 27 April 2016.

Film produksi Marvel adalah film dengan genre campuran science fiction and technology, dikemas dalam efek animasi yang kaya. Dan tak hanya itu, film yang berkaitan dengan cerita dari film Marvel lainnya ini memiliki fans fanatik yang berjuta-juta. Dengan dirilisnya film ini maka antusiasme masyarakatpun tersulut, apalagi banyak bioskop yang memberikan layanan pre-sale pembelian tiket pada penggemar fanatik tersebut.




Pihak bioskop Gandaria mengatakan melalui manajer operasional bahwa tiket tak terjual habis saat pre-sale, hanya sekitar 70 persen.

XXI Gandaria City tak dapat memastikan berapa banyak persentase pembagian layar antara film AADC 2 dengan Captain America: Civil War. Menurut Steven K, manajer operasional XXI Gandaria City, keputusan tersebut mutlak milik manajemen pusat XXI. Tetapi kemunginan besar, jatah layar masih akan ‘dikuasai’ oleh Civil War, tapi belum tahu berapa banyak.

Faktor lain yang mempengaruhi pembagian layar adalah animo dari penonton. Bila salah satu film memiliki peningkatan animo yang tajam kemungkinan besar akan ditambah jatah layarnya. Bila filmnya booming maka jatah layar akan dengan mudah ditambahkan.

Melalui perhitungan manual dari CNNIndonesia.com maka untuk Jakarta saja Civil War mendapat jatah layar jauh lebih banyak dibanding dengan film Ada Apa dengan Cinta 2. Untuk jaringan bioskop XXI mulai dari IMAX, 3D, premiere, dan reguler, Civil War mendapat jatah layar sebanyak 165 layar. Sementara AADC yang hanya dalam versi reguler itu mendapat jatah layar sekitar 57 layar. Atau 32 persen dari seluruh layar milik Civil War.

Sedangkan di Cinemax, AADC 2 hanya memiliki 2 layar, sedangkan Captain America: Civil War mendapat 6 layar. Di CGV Blitz, AADC 2 hanya mendapat jatah sebanyak 6 layar, jauh berbeda dengan Captain America: Civil War yang mendapat 34 layar.

Produser AADC 2, Mira Lesmana pernah mengatakan, AADC 2 direncanakan akan ditayangkan di CGV blitz, jaringan bioskop XXI, Cinemaxx, dan bioskop lainnya sebanyak di 183 layar.

Namun hal ini berbeda dengan kenyataan yang terjadi, dengan perhitungan manual itu saja berarti telah tidak sesuai dengan apa yang tertulis di Pasal 32 UU Nomor 33 Tahun 2009 mengenai Perfilman yang memberikan jatah proporsi layar yang sudah jelas dan seharusnya melindungi film nasional.

Di dalam UU itu tertulis, “Pelaku usaha pertunjukan film sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) wajib mempertunjukkan film Indonesia sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari seluruh jam pertunjukan film yang dimilikinya selama 6 (enam) bulan berturut-turut.”

Dalam kenyataan, film Captain America: Civil War mendapatkan jatah layar jauh lebih banyak dari film nasional AADC 2, sementara itu pula film Marvels ini juga tersedia dalam versi tiga dimensi dan kompatibel untuk IMAX.

Sayangnya, bila terjadi pelanggaran pada Pasal 32 UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilman itu, tidak memiliki sanksi yang jelas. Mira sendiri mengandalkan sisi nostalgia dari AADC 2 walau telah belasan tahun berlalu dan Rangga dan Cinta masih memiliki pasar, ia optimis akan hal itu.

Pengusaha bioskop pernah berdalih, mereka hanya menganakemaskan penonton dan bukannya tidak menganakemaskan film impor. Berdasarkan perhitungan bisnis, film mana yang laku dan disukai penonton, maka film itulah yang dipertahankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.