Woww! Wanita Ini Menjadi Sarjana Kedokteran Termuda di Usia 17 Tahun

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Rafidah Helmi menjadi sarjan kedokteran termuda di Fakultas kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. (foto: posmetro.info)
Rafidah Helmi menjadi sarjan kedokteran termuda di Fakultas kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. (foto: posmetro.info)

Semarang, Jelasberita.com | Jika seseorang berusia 17 tahun biasanya masih mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA), tidak demikian dengan wanita muda ini. Tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Rafidah Helmi pun akhirnya dapat meraih gelar Sarjana Kedokterannya tepat di usia 17 tahun delapan bulan.

Tergolong cerdas, putri ketiga dari pasangan AKBP (Purnawirawan) Helmi dan Rofiah ini diketahui masuk keperguruan tinggi melalui Penelusuran Bakat Skolastik (PBS) Unissula. Ia kemudian menyelesaikan pedidikannya di Fakultas Kedokteran Unissula selama 3,5 tahun dengan mempperoleh IP yang cuku memuaskan, yakni 3,2.




Di temui saat wawancara, Rafidah mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak pernah bercita-cita untuk menjadi dokter, bahkan ia sempat ingin mengabdikan dirinya sebagai guru ketika masih berada di bangku SMP. Namun, karena kedua kakaknya sudah menjadi dokter, ia pun kemudian terinspirasi untuk menjadi dokter juga.

“Tidak ada pernah tekanan untuk menjadi dokter, semua saya lakukan atas keinginan saya sendiri. Proses belajar juga berjalan dengan baik, hingga akhirnya saya dapat menyelesaikannya. Kalau di ruma, ya saya seperti anak remaja biasanya, main juga,” kata Rafidah dengan penuh senyum bangga.

Sementara itu, kedua orangtua Rafidah mengaku sangat bangga anaknya dapat lulus dari kedokteran di usia yang tergolong sangat muda. Dengan penuh perasaan bahagia, merekapun menceritakan awal pendidikan anaknya hingga menjadi Sarjana kedokteran saat ini.

“Rafidah itu dari taman kanak-kanak (TK), SD, SMP hingga SMA memang sudah mulai keliatan cerdas, bahkan ketika masih TK di Kemala Bhayangkari Secapa Polri Sukabumi, Rafidah duduk dibangu TK nol kecil hanya sehari saja, esoknya dia langsung dipindahkan ke TK nol besar,” ucap ayahnya Rafidah, Helmi dengan bangga.




“Dari dulu dia sudah suka baca dan tulis,” tambah nya.

“Anak saya ini juga kemudian mengikuti program akselerasi, sehingga di usia 4 tahun 10 bulan Rafidah sudah masuk ke SD Sriwidari Sukabumi. Hingga akhirnya melanjut ke SMP dan SMA, dan lulus selama dua tahun disana,” terang Helmi lagi.

Helmi juga mengatakan bahwa Fifi (nama panggilan akrab Rafinah di keluarga) memang terinspirasi dari anak pertamanya, Riana Helmi yang juga merupakan lulusan kedokteran termuda, yakni di usia 17 tahun 11 bulan di Universitas Gajah Mada (UGM), bahkan sempat memecahkan rekor muri saat itu.

Sementara, anak keduanya, Rosalina Helmi baru saja menyelesaikan studinya di Universitas A Yani Bandung dengan gelar dokter juga.

“Fifi in terinspirasi kakak dari kakak pertamanya yang menjadi sarjana kedokteran termuda saat itu. Kakak pertamanya ini juga akselerasi dari SD. Kalau kakak keduanya, tidak mengikuti akselerasi, namun mengambil jurusan kedokteran juga sama seperti Fifi,” ujar Helmi.

Helmi juga mengakui selama menjalani proses studi, ia tidak pernah memberikan pendidikan khusus pada anak-anaknya. Semua yang dilakukan hanya memberikan motivasi kepada anak-anaknya untuk menjadi orang yang berguna di masa depannya nanti dan tanpa membebani mereka dengan keinginan kedua orangtuanya semata.

“Kemampuan anak kan beda-beda, jadi saya tidak pernah menuntut kepada mereka harus seperti ini, harus seperti itu. Misalnya anak pertama saya sudah akselarasi, saya tidak memaksa anak kedua juga harus akselerasi, semua berdasarkan kemampuan dan keinginan mereka sendiri. Kita sebagai orangtua hanya memberikan dukungan saja. Fifi ikut akselerasi dan ingin jadi dokter juga bukan karena kita paksa,” tutup ayah dari putri kelahiran 31 Juli 1998 ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.