Membenahi Kawasan Sinabung: Belajar dari Masyarakat Merapi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Peristiwa meletusnya Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara tentu membawa duka dan kerugian bagi masyarakat Karo, khususnya yang bermukim di sekitar Kawasan Sinabung. Gunung yang sudah lama tidak meletus kini menjadi gunung yang aktif, dimulai dengan letusan pada tahun 2010 dan kemudian masih aktif sampai sekarang. Bencana erupsi ini memberikan dampak fisik kepada  masyarakat lokal, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang datang pasca bencana. Untuk sektor pertanian yang menjadi andalan daerah ini, kerugian diperkirakan  mencapai Rp1,5 triliun dan total luas wilayah pertanian yang mengalami kerusakan mencapai 50,9 ribu hektar. Tentu perlu program yang baik dan berkelanjutan di kawasan Sinabung, tidak hanya untuk berupa tahap pemulihan saja.

Salah satu cara untuk membangun kembali kawasan Sinabung adalah belajar dari pengalaman yang sudah dialami oleh masyarakat Gunung Merapi di Yogyakarta, Jawa Tengah. Sebagai wilayah yang lebih dulu mengalami bencana dan bangkit kembali, beberapa pengalaman dari masyarakat sekitar Merapi bisa menjadi pelajaran berharga bagi warga Sinabung.




Meningkatkan kesiapsiagaan para warga

Untuk meningkatkan kewaspadaan diperlukan upaya peningkatan pengetahuan melalui informasi yang diberikan kepada masyarakat. Sebagai contoh, bila masyarakat mengetahui bahwa mereka tinggal di kawasan yang berisiko, maka mereka akan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bahaya yang mengancam. Ketika erupsi Merapi pada tahun 2010 terjadi, sebagian masyarakat di sekitar Merapi tidak mengetahui dusunnya masuk dalam peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) lahar dingin yang ditetapkan pemerintah melalui PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Bahkan, mereka tidak banyak yang mengetahui adanya peta KRB tersebut. Hal yang sama tidak perlu terjadi pada masyarakat sekitar Sinabung. Pemerintah, melalui PVMBG, telah memetakan kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Sinabung. Untuk itu pemerintah perlu mensosialisasikan pengetahuan keberadaan masyarakat, termasuk daerah hunian tetap baru serta lahan pertanian mereka ada dalam kawasan rawan yang sudah dipetakan tersebut.

Membangun komunitas siaga

Upaya peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman Sinabung juga dapat dilakukan dengan berjejaring dan bertukar informasi. Untuk itu masyarakat Sinabung, pemerintah, pecinta lingkungan dan  praktisi lainnya dapat membangun suatu komunitas yang bisa membantu dalam memberi informasi tentang Sinabung. Di kawasan Gunung Merapi terdapat suatu jaringan informasi komunitas yang disebut Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI).




JALIN MERAPI ini berupaya menyajikan data dan informasi perkembangan Gunungapi Merapi dan dinamika masyarakatnya. JALIN MERAPI ini berdiri sejak tahun 2006 dan mendapatkan informasi langsung dari lapangan oleh masyarakat setempat dan bersama jaringan relawan. Jaringan ini menggunakan berbagai media dalam memberikan layanan informasi mulai dari jaringan radio, sms, sampai dengan media sosial. Masyarakat Sinabung dapat mencontoh komunitas ini. Berbagai program untuk peningkatan kapasitas seperti pengetahuan peta KRB Gunung Sinabung, penyuluhan bagaimana cara mengurangi risiko lahar dingin, pelatihan kesiapsiagaan menghadapi awan panas dan lahar dingin, pemberian informasi terkait pengurangan risiko bencana, sosialisasi kebijakan pemerintah terkait bisa bekerja sama dengan komunitas ini.

Mata Pencaharian Pendukung.

Peluang membangun kawasan pariwisata gelap—sebutan untuk wisata bencana dapat dikembangkan di kawasan Sinabung. Namun, pengembangan wisata ini perlu melihat apa yang terjadi pada wisata di Merapi. Bencana erupsi Gunung Merapi tahun 2010 selain memberikan dampak kehancuran fisik yang sangat besar, juga pemandangan yang memberikan gambaran tentang lingkungan yang hancur. Pemandang ini menjadi atraksi orang dari luar wilayah Gunung Merapi. Turis datang melihat desa yang hancur akibat terjangan awan panas dan lahar karena didasari rasa penasaran.  Namun berbagai kendala muncul seperti, lokasi wisata ini berjalan secara tidak teratur dimana adanya tiket liar, tidak adanya batas-batas aman, adanya perusakan lingkungan dan aksi penjarahan oleh pengunjung.

Peluang ekonomi ini kemudian dibangkitkan secara kolektif bersama anggota  masyarakat lainnya. Kegiatan wisata ini diinisiasi oleh pemimpin lokal informal dari Desa Umbulharjo. Lokasi wisata ini kemudian memiliki manajemen pariwisata yang digerakkan oleh masyarakat local. Tempat wisata ini mereka namai “Volcano  Tour”. Salah satu kebijakan yang memberikan kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat lokal yaitu pembentukan beberapa paguyuban yang menawarkan jasa pelayanan kepada pengunjung di lokasi wisata, seperti ojek, motor trail, mobil jeep, pedagang cinderamata, dan petugas lapangan.

Peluang membangun kawasan pariwisata gelap (dark tourism) dapat dikembangkan di kawasan Sinabung dan memang menjanjikan untuk tahap awal. Namun, wisata seperti ini tidak bisa berlangsung dalam jangka panjang sebab daerah yang hancur akan kembali hijau dan terbangun.  Seperti yang terjadi pada Merapi, saat ini geliat wisata ini sudah mengalami penurunan. Membangun desa-desa wisata yang menyediakan kenyamanan untuk tinggal di sekitar kawasan Sinabung dan Tanah Karo dan menambah atraksi pariwisata bisa menjadi salah satu solusi untuk jangka panjang.

Pemerintah kabupaten Karo harus bergerak secara tepat. Perlu ada langkah-langkah untuk membenahi dan mempersiapkan warga. Setiap rencana yang disusun harus mempertimbangkan keamanan dan keberlanjutan dari pembangunan. Kegiatan wisata tur Gunung Sinabung dapat menjadi potensi pengembangan ekonomi lokal. Akan tetapi, upaya ini perlu didukung dengan elemen pengurangan risiko bencana, seperti penyediaan jalur evakuasi, sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan. Selain itu pemanfaatannya dibatasi secara temporer untuk kepentingan wisata dan pendidikan saja.

Beberapa pendekatan ini dapat memanfaatkan partisipasi masyarakat dan pemimpin local, baik yang formal maupun informal. Pendekatan kerja sama antar aktor dan kebijakan ekonomi daerah dapat mempercepat fase transisi di proses tahapan pemulihan sosial ekonomi. Dan rencana pemulihan masyarakat ini tidak menciptakan kerentanan yang baru. Efraim Sitinjak.

*Pemerhati Kebencanaan, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.