Utang Rahung Belum Lunas

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Rahung Nasution adalah sutradara Filem Buru Tanah Air Beta. Filemnya ini ditolak beberapa pihak untuk diputar tanpa alasan yang jelas




Rahung Nasution adalah sutradara Filem Buru Tanah Air Beta. Filemnya ini ditolak beberapa pihak untuk diputar tanpa alasan yang jelas

MALAM itu, 1 April, saya ikut menghambur ke kedai Boogie, di Jalan Sei Belutu, Medan. Setelah sempat pusing mengatur waktu antara menemani istriku chek ke hamilan ke dokter atau nonton bareng kawan-kawan. Saya diperhadapkan pada sebuah pilihan berat. Pesan dari seorang sahabat berbunyi pemutaran filem “Pulau Buru Tanah Air Beta,” dimulai pukul 7.

Namun, beberapa menit kemudian, pesan singkat masuk ke handphone saya. Bunyinya, filem belum tayang. Artinya, jadwal pemutaran filem ternyata diundur hingga beberapa jam. Alhasil, usai menemani istri, saya langsung tancap gas ke Kedai Boogie. Nama kedainya terdengar seram ya. Mirip sosok hantu pembunuh, hihihi.

Agak susah memang mencari tempat tersebut, namun dengan modal bertanya ke tukang beca, lokasi pemutaran filem pun akhirnya ketemu. Di sebuah belokan, saya bertemu dua anak muda berboncengan dengan tujuan sama. “Iya Mas. Itu tempatnya. Dekat lagi kok. Kami juga mau ke sana. Mau nonton kan?” ia mendahului, menunjukkan jalan.

Saya lega akhirnya bertemu para sahabat. Nami nongkrong. Menunggu filem diputar, kami berkelakar sembari menikmati penampilan sebuah band rock lagi nyanyi. Kemudian muncul seorang wanita berkerudung membacakan puisi. Gadis yang sama dalam acara peluncuran buku fotografi Bedu Saini, “Peradaban Cahaya,” di Kafe Potret Jalan Wahid Hasyim, Medan, tempo hari.




Saya sedikit takut, saat pemutaran filem itu. Bukan apa. Saya takut jikalau ada perusuh, lalu filemnya batal diputar. Lha saya mau bawa pulang cerita apa buat istri di rumah. Apalagi, malam-malam enaknya bercakap-cakap dengan anakku yang masih dalam kandungan. Ini sejarah lho. Saya penasaran betul seperti apa filem itu, sehingga bela-belain ninggali istri di rumah. Di berita yang beredar, filem besutan Rahung Nasution itu dilarang tayang di Jakarta. Ada dugaan, filem ini berbau propaganda. Filem ini disebut-sebut sebuah kampanye hitam untuk membangkitkan revolusi ideologi komunis. Benarkah begitu?

Makin dilarang, terus terang, saya makin penasaran. Sejak awal pemutaran, saya memilih tempat duduk ke barisan yang jaraknya dekat dengan layar. Maklum, mata rabun. Saya rela berjongkok hingga lutut dan tungkai kaki sakit akibat posisi duduk yang tak nyaman. Apalagi, saya berjongkok di atas batu-batu kecil yang kalau dipijak lama, bikin kaki ngilu.  Kiri kanan pada asyik menonton. Mereka menyimak betul filem itu.

Dari awal saya cermati, tidak ada yang wah dari filem itu. Maksud saya, segala yang dikuatirkan pihak tertentu terkait isu komunisme, sama sekali nggak ada. Saya garansi. Filem ini sebenarnya dibikin sederhana saja. Tentang satu bekas tahanan politik (tapol) bernama Hersri Setiawan (umur 70 tahun), menapaktilasi Pulau Buru. Jadi konyol betul melarang filem ini diputar. Lebih konyol lagi jika menuding filem ini berbau kampanye komunis tanpa lebih dulu menontonnya.

Di sini, Rahung menarasikan bagaimana Hersri memboyong serta putrinya yang akrab disapa Ita ke Pulau Buru. Hersri yang makin tua, berhasrat melihat kembali wajah Pulau Buru yang telah membekaskan banyak kepahitan dalam hidupnya. Ia sekalian mau bersua dengan para eks tapol lainnya yang masih berdiam di sana, sekaligus menziarahi kuburan Heru, rekan sebaraknya.

Bocoran dari sang sutradara, masih ada 150 eks tapol lagi yang bermukim di sana. Alasannya macam-macam, ada yang ditolak keluarganya karena diangap aib, ada yang tak lagi punya keluarga dan ada yang sudah tak kuat untuk pulang ke kampug halamannya. Sejak 1979, kamp tahanan itu telah ditutup untuk selamanya. “Dulu Heru tidur pas di sebelah kiri saya. Nomor (tahanan)-nya kan di bawah saya,” katanya sembari menunjuk lokasi tidur mereka, yang kini sudah rata dengan tanah. Barak itu diduga dimusnahkan untuk menghilangkan jejak-jejak sejarah.

“Ini filem saya bikin tidak ada sisi penindasannya. Sengaja. Kalau mau tau detil penindasannya ya baca bukunya Pram. Di situ lengkap kok. Judulnya ‘Nyanyia Sunyi,'” tutur Rahung menambahkan.

Kami mengobrol sebentar usai pemutaran filem. Kami duduk di bawah pohon mangga. Cahaya remang-remang sehingga wajah sutradara satu ini kelihatan gelap. Apalagi tato garis diagonal di wajahnya makin menandaskan kepercayaan dirinya, sebagai lelaki yang tekad ingin membayar utang.

Diskusi seputar pemuaran filem Pulau Buru Tanah Air Beta di Kedai Boogie, Jalan Sei Belutu, Medan, 1 April lalu

Diskusi seputar pemuaran filem Pulau Buru Tanah Air Beta di Kedai Boogie, Jalan Sei Belutu, Medan, 1 April lalu

Ia banyak bercerita. Saya tanya satu, ia jawab banyak. Tampaknya ia punya segepok peluru informasi yang hendak diletupkan kepada saya, mungkin tentang pengetahuannya, tentang kegelisahannya, tentang kegeramannya pada pihak tertentu yang melarang pemutaran filemnya. Tendensinya cuma satu: melunasi utang sejarah.

Di Filem itu, kameramen menyorot adegan saat Hersri balik ke Pulau Buru, tempat dia dan 110.000 tahan lain yang tak pernah diadili atau tak jelas apa kesalahannya. Mereka diangkut dalam beberapa gelombang. Satu gelombang bisa mengangkut sampai 800 orang. Para tahanan ini kemudian dipaksa bekerja di tanah yang tak pernah mereka bayangkan. Mereka inilah yang menghuni 21 barak. Mereka tidur seperti ikan rebus. Tak banyak yang tau dimana itu Pulau Buru. Saya sendiri baru pertama kali mendengar nama pulau ini semenjak membaca roman Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer, maestro sasta Indonesia. Buru rupanya termasuk daratan kedua terbesar setelah Pulau Seram, yang berada di dekat Sulawesi Tengah.

Mereka para tahanan itu, diculik ketika masih berumur 18-25 tahun. Di usia itu, mereka telah tercoreng namanya menjadi tahanan politik, tanpa sebab pasti. Mereka sengaja dibungkam rezim kala itu yang terlalu takut akan hadirnya demokrasi. Rezim secara keji telah menerabas satu generasi kaum muda yang sesungguhnya paling tegar dan demokratis. Tak heran, ketika Hersri ditanya apa keinginannya, ia hanya menyahut,” Kami ingin negara meminta maaf. Karena kami tidak bersalah. Itu saja,”

Menurut Rahung, filem ini dibikin sederhana dengan maksud menunjukkan sekeping informasi yang patut diketahui publik. Ia percaya, bahwa dirinya hanya bisa mengetahui secuil kepingan sejarah, dan kepingan lain diketahui orang lain. Maka ia mencoba mengungkap keping pengetahuannya itu lewat medium filem. Ia berharap, publik yang menonton filemnya tertarik dan tergerak untuk mengumpulkan kepingan lainnya, lalugenerasi berikutnya menyatukannya menjadi sebuah sejarah dan pengetahuan  utuh. Karena selama ini, sejarah yang banyak disebarkan di kelas-kelas lewat kurikulum adalah kebenaran versi rezim yang berkuasa, kebenaran yang telah dipelintir dan dibelokkan sesuai keingin penguasa, dan kebenaran yang sesungguhnya sengaja dikubur untuk menutupi banyak kebobrokan.

Hersri dipilihnya sebagai aktor utama, dengan alasan yang sama sederhananya. “Saya kenal dia. Pribadinya menarik. Dia terlibat di Lekra. Ia rajin menulis. Karakternya kuat. Dan dia ingin kembali ke sana (Pulau Buru). Saya pikir kenapa tidak saya filimkan adegan ini,” kata pria penyuka masak-memasak ini.

Selain itu, Rahung menghadapi beberapa perintang, yakni dana dan waktu serta izin. Pembuatan filem tersebut bersifat swadaya. Ia tek-tekan bersama rekan-rekannya. Ia menyebut mereka sebagai relawan. Bersama relawan inilah, ia membaca sejumlah buku sejarah, mendiskusikan novel Karya Pram. Meriset data pemerintah. Mencari ongkos produksi. Mereka hanya mengandalkan sumber daya yang ada. “Kami bikin tim. Jumlahnya lima orang, termasuk, kameramen dan seorang penyunting suara,” bebernya.

Selain keterbatasan dana, perintang terbesarnya adalah bagaimana mendapatkan izin untuk mengambil gambar para eks tapol di Pulau Buru. Rahung mengaku, timnya harus live in di sana selama dua minggu. Mereka sebagian mengambil gambar secara sembunyi-sembunyi, dan harus mengantongi izin dari Komnas HAM bahwa mereka sedang melakukan misi kemanusiaan. Mereka memulai mengambil gambar awal Februari dan berakhir Mei. “Kami takut jika para orangtua ini diinterogasi, setelah kami pulang. Kami tau ada yang memata-matai kami,” katanya menjujuri.

Di balik banyak rintangan dan penolakan itu, Rahung masih bisa tersenyum. Ia bangga sekali ketika ada orang yang mencari-cari filemnya. Ia senang ketika poster tentang jadwal pemutaran filemnya dibagikan di media sosial dan banyak yang mencari tau. Ia sadar kalau filemnya itu tak bakal bisa masuk ke bioskop. Tapi hal itu tak mematahkan semangatnya untuk menyiarkannya terus menerus. “Saya cari komunitas-komunitas, mahasiswa, anak-anak yang suka nongkrong, kelompok diskusi dan juralis. Saya juga bagikan DVD-nya secara gratis. Ini semata mata melunasi utang sejarah. Saya ingin menjembatani pengetahuan sejarah antar generasi muda sekarang dengan para orang tua ini. Supaya kebenaran itu tidak abu-abu lagi,” pungkasnya.

Saya senang sekali berkesempatan menonton filem tersebut. Sama senangnya ketika saya bisa berdiskusi dengan Rahung. Ia menyebut saya: Bung! Sebuah sebutan yang pernah disematkan pada Soekarno. Telinga saya naik satu senti, hehehe. Bahkan sebelum ia beranjak pulang, pukul 01 dini hari, ia mengucapkan salam perpisahan. Sesaat sebelum menutup pintu mobilnya, ia berujar, “Terima kasih Bung Dedy,” pamitnya sambil melambaikan tangan meninggalkan kedai Boogie. Sejurus kemudian mobil melesat dan hilang di belokan.

Yang tersisa hanya sebuah tanya: Bung, bagaimana saya harus membayar utang sejarah kita? Utang sama warung sebelah juga belum juga lunas. Alamak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.