Bila Diijinkan Masuk, TNI Siap Bebaskan WNI Yang Disandera Kelompok Abu Sayyaf Baik Melalui Negosiasi Maupun Pelepasan Paksa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





10 WNI disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Foto : kompas.com
10 WNI disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Foto : kompas.com

Jakarta, Jelasberita.com | Sebanyak 10 Warga Negara Indonesia (WNI) dikabarkan telah disandera oleh kelompok keras Abu Sayyaf di Filipina. Ke 10 WNI tersebut merupakan awak kapal Brama 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang diketahui sedang dalam perjalanan dari Sungai Puting di Kalimantan Selatan, menuju Batangas kawasan Filipina Selatan dengan membawa batu bara.

Saat ini keberadaan ke 10 WNI tersebut masih belum diketahui keberadaannya, namun kuat dugaan para sandera tersebut dibawa ke tempat persembunyian kelompok Abu Sayyaf di sekitar kepulauan Sulu, Filipina.




Belum ada kepastian terhadap kebebasan para sandera, namun saat ini pihak otoritas Filipina diketahui tengah mengadakan negosiasi dengan kelompok tersebut. Adapun proses negosiasi tersebut merupakan syarat untuk pembebasan ke 10 WNI yang disandera, yakni dengan memberikan tebusan sebesar 50 juta peso (sekitar Rp 14,3 miliar).

“Mereka meminta tebusan sebesar 5o juta peso sebagai syarat pembebasan 10 sandera, kami terus berkoordinasi dengan pihak otoritas Filipina untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujar Kepala Badan intelijen Negara (BIN), Sutiyoso.

Melihat situasi yang masih mengkhawatirkan ini, Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu mengatakan bahwa pasukan TNI juga telah dipersiapkan untuk menunggu hasil negosiasi antara pihak otoritas Filipina dengan kelompok ABu Sayyaf tersebut. Dan apabila tidak ditemukan hasil dari negosiasi tersbeut, TNI juga siap membantu pembebasan sandera bila diijinkan untuk masuk ke wilayah Filipina, walaupun harus dilakukan pelepasan sandera secara paksa.

“TNI sudah siap. Semua tergantung Filipina, bila diijinkan masuk kami siap melakukan pelepasan sandera,” ujar Ramizard.




Ia juga mengunkapkan bahwa kejadian ini sudah sejak lama dikhawatirkan akan terjadi. Namun, karena kurang terjalinnya hubungan yang dekat antara pemerintah Filipina dan Indonesia, berhasil dimanfaatkan oleh kelompok tersebut untuk melakukan perompakan.

“Sejak dulu sudah saya katakan untuk menjalin kerjasama dengan Filipina untuk melakukan patroli perdamaian bersama. Namun, kurang terjalinnya hubungan yang baik, kelompok Abu Sayyaf ini pun berhasil memanfaatkan ketegangan di Laut Cina Selatan,” ungkapnya.

Menurut info terakhir, saat ini satu dari dua kapal yang dibajak telah diserahkan ke Pemerintah Filipina, sedangkan satu kapal lainnya masih dalam penyanderaan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.