Membuat Surat Undangan Palsu Atas Nama Menpan RB, Kedua Pelaku Penipuan Ditangkap Polisi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Ilustrasi penangkapan. Foto : viva.co.id
Ilustrasi penangkapan. Foto : viva.co.id

Jakarta, Jelasberita.com| Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya telah berhasil menangkap kedua orang pelaku penipuan surat undangan palsu alias bodong, yang mengatasnamakan Menpan RB, Yuddy Chrisnandi. Hal ini terungkap berawal dari laporan yang diberikan oleh Staf Kemenpan RB terkait munculnya surat undangan palsu Menpan RB.

“Dari laporan oleh Staf Kemenpan RB pada tanggal 14 Maret 2016 tentang adanya penipuan, pemalsuan, kemudian TPPU dengan surat dan tanda tangan Menpan RB palsu, kami kembangkan penyelidikan sehingga kami dapat menangkap kedua pelaku penipuan berinisial AS (46), warga Cilincing, Jakarta Utara, dan D (30), pria asal Sulawesi Selatan,” kata Direskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Mujiono.




“Saat ini tercatat ada sekitar 10 Kepala Daerah yang telah berhasil ditipu oleh kedua pelaku. Dari sini mereka memperoleh keuntungan sebesar Rp 225 juta,” tambahnya.

Mujiono juga mengungkapkan bahwa modus yang dilakukan oleh kedua pelaku tergolong sangat rapi. Mereka awalnya mencari surat kopian Menpan RB dari internet, kemudian mencetaknya seperti surat undangan asli. Lalu untuk lebih meyakinkan, mereka juga tak lupa membubuhi dengan tanda tangan para pejabat yang dipalsukan.

Dalam surat undangan yang sekilas mirip tersebut, mereka menawarkan kepada Kepala-Kepala Daerah tentang sosialisasi masalah penggunaan anggaran daerah-daerah ke Jakarta untuk 2016. Namun, sebelumnya para Kepala Daerah tersebut diwajibkan untuk membayar biaya antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

“Yang kita takutkan hal ini akan merusak citra Kemenpan RB nantinya. Tapi, syukurlah Staf Kemenpan RB bertindak cepat dengan melaporkan aksi penipuan ini ke kami. Sehari kemudian, kami dapat menangkap seorang tersangka berinisial AS di Jakarta, kemudian tadi malam kami tangkap lagi 1 tersangka inisial D,” ujar Mujiono.




Dalam menjalankan askinya, kedua tersangka juga diketahui menjalankan peran yang berbeda. AS bertindak sebagai orang yang menyebar surat undangan palsu tersebut dari satu daerah ke daerah lain, sementara D berperan sebagai penyedia rekening untuk menampung uang-uang dari korban. Untuk pembagian keuntungan, AS mendapatkan 80 persen, sedangkan D mendapat 20 persen.

Dalam penangkapan ini turut pula disita sebagai barang bukti berupa 6 telepon genggam, enam simcard, satu laptop, puluhan kartu ATM, dan uang senilai Rp 1,8 juta.

Dalam kesempatan ini, Mujiono juga menghimbau kepada seluruh Kepala Daerah untuk tidak mudah percaya terhadap surat-surat undangan palsu yang mengatasnamakan para pejabat negara seperti pada kasus ini. Bila ada berita, telepon, email atau surat, para pejabat daerah sebaiknya memastikan terlebih dahulu tentang keabsahannya.

“Kalau sudah pasti silahkan, tapi kalau belum pastikan dulu keabsahannya,” ujar Mujiono.

Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan saat ini, belum ada seorang pun pejabat yang terlibat dalam aksi penipuan ini, semuanya dilakukan oleh para tersangka sendiri. Keduanya kini juga telah terbukti bersalah karena telah melanggar Pasal 263 KUHP, Pasal 378 KUHP, dan Pasal-Pasal di TPPU.

Leave a Reply

Your email address will not be published.