Warga Miskin Tak Punya KTP : Berkat Gulo Mengerang, Hatinya Bengkak

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




 
Medan, Jelasberita.com | Sudah dua bulan Berkat Edi Kasih Gulo (31), seorang sopir becak mengerang kesakitan. Selama itu pula ia hanya bisa terbaring di rumah karena sakit-penyakit yang di deritanya. Catatan medis dokter menyebut, awalnya hanya sakit lambung tapi belakangan berkembang menjadi pembengkak hati.




Saat di temui di  rumah kontrakannya di Jalan Elang Ujung No.226 Kelurahan Tegal Sari II Mandala, Kecamatan Medan Denai, Minggu (28/2), tubuhnya masih demam tinggi. Bahkan ia kerap mengeluhkan perutnya. “Seperti dipilin-pilin. Sakit sekali,” katanya sembari meringis kesakitan.
Istrinya, Rosniman Wati Zalukhu (32) sampai tidak memulung demi merawat suaminya yang kerap sakitnya kambuh. Bahkan saat istrinya pergi belanja sayur atau sekadar memasak air minum di dapur, penyakit suaminya selalu kambuh. Sehingga, Elis (7), anak mereka beberapa kali bolos sekolah demi ikut merawat ayahnya.
Sudah beberapa kali keluarga ini berusaha berobat ke klinik dan sesekali rawat jalan ke rumah sakit. Namun hasilnya, tak ada perubahan dalam kesehatan Berkat Gulo. Tukang becak ini makin hari makin mengerang kesakitan. “kalau sudah kambuh, rasanya ada angin dingin yang mengalir dari kaki lalu merayap ke perut, naik ke ulu hati dan di sana berpilin-pilin. Sakitnya sampai bikin jungkir balik,” bebernya.
Berkat Gulo adalah warga miskin. Ia hijrah dari Nias ke Medan untuk mengadu nasib sekira sedekadi lalu. Ia tak seorang diri. Ia memboyong istrinya. Sekarang ia punya dua anak yang masih kecil. Seorang sudah kelas satu Sd, lainnya baru tiga tahun.
Sebagai tukang becak, pendapatannya tidak menetap. Istrinya sendiri hanya ibu rumah tangga. Dengan pendapatan yang tak menetap itu, ia harus membayar sewa rumah sekitar Rp 3 juta setahun. Belum lagi uang air dan listrik. Ditambah biaya kebutuhan sehari-hari.
Dalam keadaan sekarang, ketika keuangan tak karuan dan sakit penyakit menyerang Berkat Gulo, kondisi ekonomi keluarganya makin memprihatinkan. Lalu istrinya mencoba mengusulkan pengurusan BPJS Kesehatan. Tetapi gagal karena mereka tak memiliki kartu keluarga kota Medan. Istrinya mencoba pulang kampung lalu mengurus suart pindah domisili dan surat permohonan pembuatan kartu keluarga. Setelah itu, ia mengurus kartu KK.
Setelah Kartu keluarga kelar, ia mencoba mengurus Kartu BPJS Kesehatan, namun lagi-lagi gagal karena suaminya tidak memiliki kartu penduduk. Rosniman mencoba mengurusnya ke kampung halaman, akan tetapi nama Berkat Gulo sudah tak lagi terdaftar di data kependudukan di Pulau Nias. Hal itu sangat menyulitkan keluarga ini untuk mengurus kartu penduduknya. Dan dampak lanjutannya, ia gagal mengurus kartu BPJS Kesehatan. “Seandainya ada kartu BPJS Kesehatanku, mungkin sudah bisa operasi. Tapi susah sekali mengurus administrasi kependudukan ini,” keluh Gulo.
Istrinya sudah mendatangi pihak BPJS Kesehatan agar diberi kemudahan, karena suaminya sedang sakit parah. Namun pihak BPJS Kesehatan tidak merestui permintaannya. Alasan pihak BPJS Kesehatan, mesti orang yang bersangkutan datang untuk mengurus kartu BPJSnya sendiri. Padahal, dalam kondisinya yang sedang sakit, sangat tidak mungkin bagi Berkat Gulo untuk datang ke kantor BPJS Kesehatan.
Uba Pasaribu, Aktivis Pemulung menyebut, seharusnya pemerintah bisa mencarikan solusi bagaimana supaya orang-orang dalam keadaan sakit bisa diwalikan pengurusan kartu kepesertaan BPJS Kesehatan. “Dalam kondisi emergensi, harusnya ada kemudahanlah. Tapi inilah dampak dari sulitnya mengurus KK dan KTP,” sarannya.
Terkait susahnya mengurus administrasi kependudukan, Kepala Bidang Kependudukan Disdukcapil Kota Medan, Syaiful Chalid Siregar mengatakan, pihaknya siap membantu dalam kepengurusan administrasi kependudukan bagi orang miskin. Ia menyarankan agar warga miskin segera mengurus surat keterangan domisili dari daerah asal, yang bisa membuktikan bahwa ia memang datang dari luar kota Medan. “Kami pasti bantu. Kami layani dengan baik. Yang penting jangan sampai terjadi data ganda,” pungkasnya. (Dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.