Munas Golkar 2016 Jauh Dari Politik Uang, Benarkah?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Foto : liputan6dotcom




Foto : liputan6dotcom

Jakarta, Jelasberita.com| Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) April 2016 mendatang, sejumlah calon Ketua Umum kini dikabarkan tengah mengalang dukungan ke berbagai daerah di Indonesia. Ditengah-tengah mencari dukungan keberbagai daerah, para calon Ketua Umum juga serentak menghimbau kepada seluruh anggota Partai Golkar agara dalam Munas Partai Golkar April mendatang, diharapakan agar terjauh atau bersih dari politik uang.

“Kami berharap dalam memilih Ketua Umum yang akan datang harus benar-benar berdih dari Money Politic,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Golkar hasil Munas Riau, Azhar Romli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/2/2016).

Sementara, Politikus Partai Golkar, Nurul Arifin mengatakan bahwa Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie juga dikabarkan turut mengikutsertakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar dapat terlibat dalam Munas Partai Golkar sehingga dapat bersih dari politik uang.

“Demi melaksanakan Munas Golkar 2016 yang bersih dari money politik nantinya juga akan diselenggarakan dengan prinsip-prinsip demokratis, rekonsiliatif dan berkeadilan,” kata Nurul.




“Diharapkan Munas yang akan datang tidak menyisakan persoalan dan konflik baru. Hendaknya semua pihak dapat saling mengingatkan agar Munas dapat berjalan dengan baik,” tambah nya.

Sebelumnya, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar hasil Munas Riau, Ahmad Doli Kurnia sempat mengatakan bahwa menjelang Munas Partai Golkar 2016, banyak ditemukan poitik uang yang marak terjadi di setiap kubu, bahkan jauh hari sebelum ditentukannya waktu, tempat dan kepanitiaan Munas dan mekanisme rekonsiliasi.

Tak hanya itu ia juga mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu sempat tercium adanya isu “money politic” dari bakal calon Ketua Umum dengan membagi-bagi uang kepada DPD, calon peserta Munas di Sulawesi Utara. Tak hanya itu, pada roadshow beberapa kandidat Ketua Umum di Jawa Tengah juga sempat tercium adanya politik uang.

“Ada beberapa kandidat yang membagi-bagi uang 10.000 dolar Singapura, 1.000 dolar Singapura, Rp 100 jura per DPD Kabupaten, atau Kota. Hal inilah yang memperlihatkan bahwa mental politik para kader sudah pada titik nadir,” terang Doli.

“Yang jadi pertanyaan, dari manakah uang yang dibagi-bagikan itu, apakah itu hasil dari keringat mereka sendiri? Kalupun ya, pekerjaan sampingan apa yang mereka keluti, sehingga dapat menghasilkan uang segitu banyaknya dan dihambur-hamburkan begitu saja dalam sekejap,” tambah Doli.

“Jadi, pilihlah pemimpin kita yang bisa enjamin partai kita bisa bangkit kembali dengan kemampuan kepemimpinan yang kuat, visioner, independent, jujur dan cara komunikasi, sikap, serta perilaku yang bersih dan beradab,” tutup Doli.

Leave a Reply

Your email address will not be published.