Penerapan Program Kantong Plastik Berbayar Untuk Mengurangi Sampah Plastik di Indonesia, Sudah Efisienkah?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Beberapa warga menunjukkan kantong belanja saat kampanye #Pay4Plastic dalam Gerakan Indonesia Diet Plastic. Foto : beritagar.id
Beberapa warga menunjukkan kantong belanja saat kampanye #Pay4Plastic dalam Gerakan Indonesia Diet Plastic. Foto : beritagar.id

Jakarta, Jelasberita.com| Masalah sampah merupakan masalah yang paling serius untuk ditangani di Indonesia sekarang ini. Apalagi populasi sampah yang semakin meningkat membuat pemerintah Indonesia harus berpikir keras untuk mengatasinya, mengingat lahan sebagai Tempat Pembuangan Akhir sampah sudah semakin sempit ketersediaanya belakangan ini.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) , populasi sampah yang terdapat di Indonesia dalam setahun bisa mencapai 64 juta ton, dan sekitar 14% diantaranya merupakan sampah plastik yang beratnya mencapai 8,9 juta ton. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan, mengingat sampah plastik membutuhkan waktu hingga 200 tahun untuk dapat meleburkannya dengan tanah. Untuk itu, Pada Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari kemarin, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan Indonesia harus menjadi negara bebas sampah pada 2020 mendatang. Salah satu program yang diterapkan untuk merealisasikan target tersebut adalah dengan memberlakukan program kantong plastik berbayar.




“Program plastik berbayar telah dilaksanakan di 22 kota di seluruh Provinsi di Indonesia, dan mulai diujicoba pada hari ini (21/2/2016). Selama tiga bulan kedepan kita akan lihat perkembangan dari uji coba ini, apakah masyarakat akan lebih bijak lagi dalam menggunakan kantong plastik setelah program ini diterapkan atau tidak sama sekali,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar pada Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (21/2/2016).

Dalam program yang berlangsung dari kemarin ini, pemerintah menetapkan setiap harga kantong plastik berjumlah Rp 200 per kantongnya. Jadi setiap konsumen yang berbelanja kebutuhan sehari-hari di setiap tempat pembelian, baik yang tradisional maupun retail, nantinya harus membayar kantong plastik sebesar Rp 200 per kantongnya yang apabila diperlukan sebagai tempat untuk membawa barang belanjaannya dan tidak lagi diberi gratis oleh penjual sebagaimana yang terjadi selama ini.

Namun, harga yang dipatokkan bukanlah menjadi hal yang penting dalam mengatasai permasalahan sampah plastik saat ini. Karena, bisa saja ada beberapa kota yang memberikan harga yang lebih tinggi dari yang diterapkan oleh KLHK, seperti di Jakarta yang menerapkan harga Rp 5.000 diseluruh tempat perbelanjaan, Balikpapan yang menerapkan tarif Rp 1.500 dan lainnya. Tapi yang perlu diperhatikan adalah perubahandan kesadaran sikap masyarakat dalam menggunakan kantong plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Harga bukan menjadi prioritas utama kita, melainkan perubahan sikap masyarakat dalam menggunakan kantong plastik yang akan kita perhatikan. Apabila tidak mengalami perubahan, maka akan kita rubah ke strategi lainnya,” ujar Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tuti Hendrawati Mintarsih.




“Pokoknya semua kita lakukan demi kebaikan masyarakat dan Negara Indonesia. Uang yang terkumpul dari program ini nantinya akan kembali ke raktyat juga. Kita akan alokasikan untuk membeli truk sampah, atau juga dengan mendirikan pabrik daur ulang,” tambahnya.

Saat ini program kantong plastik berbayar ini sudah diterapkan di retail seperti, swalayan, supermarket dan minimarket. Walaupun beberapa masyarkat semnpat mengutarakan keberatannya atas program ini, namun hingga saat ini reaksi positif masyarakat terhadap program mengatasi masalah sampah di Indonesia ini membuat program ini akan berjalan lancar ditengah-tengah masyarakat. Bagaimana menurut kalian?

Leave a Reply

Your email address will not be published.