Anak Yatim-Piatu Nyaris Putus Sekolah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




David Andrianus Zebua

Medan, Jelasberita.com | Seorang anak yatim-piatu, siswa kelas XI SMK Swasta Bina Karya Medan David Andrianus Zebua terancam putus sekolah karena sudah tak sanggup bayar biaya pendidikannya. Semenjak Lamina Sitorus, neneknya yang  sejak kecil mengasuhnya, sudah rabun dan sakit-sakitan, David menjadi tulang punggung.







“Selama ini memang saya mandiri. Saya bekerja mencari uang. Saya kerja apa saja agar dapat uang, tapi sekarang saya juga harus bantu biaya untuk kebutuhan nenek saya yang sudah sakit-sakitan,” ungkap David, Jumat (19/2).

David menyadari betul, ia tidak mungkin membiarkan neneknya itu kembali bekerja dengan kondisinya yang semakin renta dan kurang sehat. David merasa harus balas budi. Lama dibesarkan oleh neneknya di Jalan Kawat I Gang Turi Lingkungan 19, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, David berusaha mencari uang agar bisa membawa neneknya berobat.

David diasuh neneknya sejak ia berumur 8 bulan, pasca ibunya meninggal dunia di pulau Nias. Sebab David sudah sebatang kara. Yatim piatu. Sang nenek menjemput cucunya ke Nias dan memboyongnya ke Medan.

Sejak anak-anak, David sudah bekerja jualan kain bekas untuk membantu biaya sekolahnya. Ketika duduk di bangku kelas 1 SMP, ia bekerja sebagai pramusaji resto di Kompleks Perumahan Cemara Asri. Dan sesekali menjadi tukang becak motor.




Aktivitas itu dilakoninya sampai hari ini demi mendapatkan uang untuk biaya sekolahnya. Namun, majikannya kini menutup usaha restorannya, yang tentu saja membuat David kehilangan pekerjaannya. Kini David bekerja serabutan.

Apesnya, sampai hari ini David tak pernah mendapat keringanan biaya sekolah atau bantuan dana pendidikan. Sebabnya, ia tak memiliki akte lahir sebagai prasyarat mendapatkan bantuan. Sewaktu masih kanak-kanak, neneknya pernah mencoba menguruskan akte lahirnya dengan menumpangkannya ke KKnya. Namun hal itu ditolak pihak kepala Lingkungan setempat.

“Lima tahun lalu juga kami urus. Tapi kepling minta bayar Rp 600 ribu. Namun sampai sekarang tak kunjung bisa terdaptar di KK neneknya itu,” ungkap Freddy Lesman Boyn Butar-butar, paman David.

Freddy sendiri juga orang susah sehingga tak bisa menjamin mampu membiayai pengobatan ibunya itu. Sementara, ibunya kini kian renta dan rabunmya makin parah. Kondisi ini makin mengaburkan masa depan David yang masih ingin bersekolah. “Keponakan saya ini semangatnya tinggi. Ia mau kerja apa saja asal bisa terus sekolah. Sayang nasibnya begini, susah sejak kecil,”  sambung Freddy.

Freddy berharap, pemerintah mau menolong David agar bisa terus bersekolah, jangan sampai berhenti di tengah jalan. “Tolonglah kami, Pak, Ibu yang jadi pemerintah sekarang. Bantu keponakan saya agar tetap bisa sekolah,” pungkasnya.

Ketua Pemulung Kota Medan Uba Pasaribu mengatakan ini sebenarnya fenomena puncak gunung es. Hanya atasnya saja kelihatan. Sebetulnya banyak sekali persoalan seperti ini namun tak dilihat pemerintah. “Kita berharap, melalui kisah David ini,, pemerintah mau membuka mata, hati dan telinganya. Anak-anak seperti ini harus dibantu negara. Di sinilah musti nyata Mawacita Jokowi. Negara hadir saat rakyat membutuhkan,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.