Kisah Krishna Murti Yang Pukul Rata Preman Kalijodo Dan Tak Takut Dengan 5 Pentolan Kalijodo

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





foto : indoheadlinenews.com
foto : indoheadlinenews.com

Jakarta, Jelasberita.com| Kawasan Kalijodo kini telah ditanggapi serius oleh para Pemprov DKI Jakarta dan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Poernama. Hal ini dibuktikan dengan keputusan untuk merelokasi warga kawasan tersebut dan menutup tempat-tempat yang dijadikan praktek prostitusi dan perjudian.

Saat ini memang masih terjadi proses mediasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan warga di kawasan Kaliodo ini. Namun, adanya isu warga yang akan melawan proses penggusuran di Kalijodo ini dengan menggunakan jasa preman dinilai banyak pihak akan membuat proses relokasi ini akan mengalami kesulitan.




Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Krishna Murti ikut angkat bicara terhadap isu kekuatan preman yang memback up kawasan Kalijodo ini. Ia menceritakan saat itu ia tengah mengadakan razia besar-besaran di kawasan itu terkait bentrok yang terjadi antara kelompok Sulawesi Selatan yang memang mendominasi kawasan itu.

Krishna Murti, yang kala itu masih menjabat sebagai Kapolsek Metro Penjaringan Jakarta Utara sempat membekuk salah satu pentolan kawasan Kalijodo yang memiliki lapak perjudian dan prostitusi di Kalijodo, Daeng Azis. Saat itu Daeng Azis sempat ditahan beberapa bulan atas dakwaan kepemilikan senjata api dan adanya tindakan pendongan oleh Daeng Azis kepada Krishna.

“Dia itu pernah saya tahan, lalu kita proses dipersidangan dan dipenjara beberapa bulan,” kata Krishna, Selasa (16/2/2016).

Saat razia yang berlangsung kala itu, Krishna mengatakan bahwa saat itu seluruh tempat prostitusi dan perjudian menjadi sasaran razianya. Hasilnya, ada sekitar 290 orang yang terdiri atas preman, penjudi dan psk yang saat itu berhasil dipukul rata oleh Krihna dan anak buahnya.




“Preman Kalijodo sudah habis dan saya pukul rata semuanya,” ujar Krishna Murti.

Krishna juga menambahkan bahwa di kawasan Kalijodo tersebut ada 5 pentolan yang kerap menggunakan kekerasan dengan jasa preman demi mengamankan lapak-lapak perjudian dan prostitusi di kawasan Kalijodo itu. Mereka adalah Riri yang berdampingan dengan Agus, Daeng Azis, H Usman, Bakri dan Ahmad Resek. Mereka merupakan pemilik bangunan-bangunan di Kalijodo yang disewakan sekitar 10 juta-20 juta permalam kepada orang-orang yang diketahui beretnis Tionghoa yang kemudian menjadikannya cafe-cafe tempat perjudian dan prostitusi.

Tak hanya menyediakan lapak, mereka juga dikatakan menawarkan jasa keamanan (preman) kepada pemilik cafe di Kalijodo untuk menjamin keamanan tempat perjudian dan prostitusi dari pihak manapun. Menurut catatan Polsek Penjaringan, tenaga keamanan yang paling banyak dipekerjakan adalah pihak kemanan H Usman yang terdiri dari 500 orang, sementara empat pentolan lainnya menyediakan 200-300 orang. Maka dari itu, jumlah preman yang berkedok pihak kemanan yang memback up Kalijodo ini sangat besar jumlahnya, yang mencapai 1.000 orang preman. Rata-rata dari preman-preman ini merupakan pendatang dari luar kota Jakarta yang mencari pekerjaan kepada 5 bos besar di Kalijodo, dan rata-rata dari mereka diberikan upah sebesar Rp 30.000 per malam.

“Begitulah yang terjadi disana, sudah seperti mafia saja menguasai suatu daerah. Tidak ada sistem rekruitmen preman disana, semua merupakan pendatang yang umunya mencari pekerjaan, jadi kalaupun suatu waktu preman-preman itu ingin berhenti, bisa-bisa saja,” terang Krishna.

Krishna Murti juga menuturkan bahwa dirinya tidak takut terhadap 5 pentolan atau penguasa yang menguasai kawasan Kalijodo tersebut, karena menurutnya ia melakukan segala sesuatu sesuai prosedurdan demi keamanan masyarakat DKI Jakarta.

“Saya tidak takut kepada mereka. Semua yang saya lakukan sesuai prosedur, dan jika ada yang menghalang-halangi kita, kita akan proses mereka,” tegas Krishna.

Leave a Reply

Your email address will not be published.